
Tak terasa, matahari sudah berganti menjadi bulan. Malam yang dingin di sebuah kastil yang tampak sepi. Seorang Pria yang termenung di dalam kamarnya yang gelap gulita itu, Ia besandar di samping ranjangnya dengan kedua kaki yang di lipat di depan dadanya.
Disaat Marcel tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba ada suara petir yang keras dan membuat Pria itu terkejut.
"Haah..." hela nafasnya dan tiba-tiba berdiri, lalu melangkah kearah pintu balkon kamarnya. Dengan perlahan Ia membuka gorden itu, Ia melihat kearah langit yang tampak sangat gelap yang di sertai suara petir dan suara hujan yang amat sangat keras.
*Kenapa disaat aku sedang sedih, langit pun seperti sedang merasakan kesedihan ku?* batin Pria itu. Marcel membuka pintu balkon itu dan melangkah keluar dari kamarnya.
Hujan yang sangat deras itu sampai mengenai tubuh Marcel dan membuat pakaiannya basah, tapi Ia tidak kembali masuk ke dalam dan malah berdiri di ujung balkon tepat di depan pagar, sambil melihat ke atas langit.
"Tuhan...apa kau tau, hari ini adalah hari terburuk ku. Orang yang ku cintai telah pergi untuk selamanya, dan putri ku masih berada di rumah sakit. Apa ini sebuah karma dari mu? atau dendam dari orang-orang yang telah kubunuh? aku tidak tau apa yang sedang kau rencanakan untuk ku..."
"Tapi, tuhan. Aku mohon kepada mu, cukup kali ini saja aku merasakan kehilangan orang yang ku sayangi. Jika kau ingin memberiku karma atau kau ingin menghukum ku, tolong... tolong bunuh aku saja, tolong ambil aku saja. Jangan ambil mereka yang tak bersalah, dan jangan sakiti mereka yang tak tau apa-apa."
__ADS_1
"Aku tidak ingin hal ini terjadi lagi, Tuhan... Aku mohon kepada mu, hiks... ja-jangan lakukan ini lagi kepada ku... aku mohon... hikss..."
Marcel menangis di bawah derasnya hujan, air matanya bersatu dengan tetesan air hujan yang membasahi wajahnya. Ia bahkan sampai terduduk di lantai, dan bersandar di pagar balkonnya.
Di saat Ia masih menangis, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintunya. Karna berada di balkon, Marcel tak mendengar suara ketukan itu. Pria yang mengetuk pintu itu dengan perlahan membuka pintu kamar Marcel dan melangkah masuk kedalam kamar itu.
"Tuan? Apa anda disini, Tuan?" panggil Andre di dalam kegelapan.
"Kenapa anda bisa disini, Tuan? Anda bisa sakit jika terus-terusan terkena air hujan, dan lagi angin malam ini sangat dingin. Kita harus segera masuk ke dalam, Tuan," oceh Andre, lalu membantu Marcel untuk berdiri dan kembali ke kamarnya.
Andre meletakkan Pria itu di sofa, dan degan cepat Ia mengambilkan beberapa handuk untuk mengeringkan Tuannya. Saat Andre kembali dengan beberapa handuk di tangannya, tiba-tiba Marcel bertanya. "Apa belum ada kabar dari rumah sakit?"
"Alasan saya kemari untuk memberitahu anda mengenai kabar yang saya dapatkan, tapi sebelum itu lebih baik anda keringkan tubuh anda terlebih dulu," jawab Andre sambil memberikan salah satu handuk di tangannya kepada Marcel.
__ADS_1
Marcel hanya mengangguk sambil menerima handuk itu, dan mulai mengeringkan tubuhnya dengan handuk itu.
"Biar saya bantu," ucap Andre, lalu membantu Marcel untuk mengeringkan rambut Marcel.
"Saya mendapat telpon dari pihak rumah sakit, bahwa Vernon dan Agnella telah sadar." Mendengar perkataan Andre itu, Marcel langsung menengok kearah Pria itu dan bertanya. "Lalu, kenapa kau masih disini? temui Agnella, pasti dia sangat shock dengan kejadian hari ini."
"Awalnya saya ingin menemuinya, tapi Agnella menitip pesan kepada dokter. Saya tidak harus menemuinya, tapi ada sesuatu yang harus saya cari di tempat kejadian tadi pagi."
"Sesuatu? maksud mu?"
"Agnella menyuruh saya mecari pistol milik Nyonya Carmelia, karna ada sepucuk surat yang Nyonya letakkan di pistolnya itu dan Nyonya berpesan bahwa pistol dan surat itu harus sampai ketangan anda."
BERSAMBUNG
__ADS_1