Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Hobi Nyusahin Orang


__ADS_3

  Setelah dokter itu pergi, gue yang sekarang duduk di samping ranjang gue.


  Gue memikirkan ucapan dokter itu, sambil menatap gadis itu yang masih terbaring lemas di atas ranjang.


  "Gue harus apa? masa gue bantu lu hilangin trauma lu? gue gak punya waktu buat itu, kali." ucap gue.


  "Lagian, sejak kapan coba lu punya trauma? gue kira cuma gue yang pernah punya trauma karna bully, tapi lu? malah punya trauma sama kekerasan." gerutu gue.


  "Lu tau gak? gue aja bisa hilangin trauma gue, tapi lu? udah umur 18 tahun, masa masih punya trauma? sumpah, gak jelas banget!!" lanjut gue.


  Tiba-tiba saja, gadis itu mulai bergerak dan membuka matanya.


  "Akhirnya sadar juga lu." ucap gue.


  Jessica sontak menegok kearah gue dan menatap gue dengan mata sayunya, lalu bertanya. "Kita di markas?"


  "Menurut lu?!! masa di rumah sakit?" sambung gue.


  "Sorry..." lirihnya.


  "Sorry? kenapa?" tanya gue bingung.


  "Sorry, karna nyusahin lu lagi. Gue gak bermaksud buat nyusahin lu, kok. Maaf..." jawabnya.


  "Hah..." hela nafas gue.


  "Sudah lah, gak usah minta maaf. Sekarang obat penenang lu dimana?"


  "Ada di tas gue, ada di atas meja rias." ucapnya.


  "Hedeh, doyan banget bikin gue bolak balik." gerutu gue dan sontak berdiri lalu melangkah keluar ruangan gue menuju kamar gadis itu.


  Setelah mendapatkan tasnya, gue langsung kembali ke ruangan gus sambil memegang tas milik gadis itu.


  "Makasih." sahutnya saat melihat gue melangkah masuk keruangan gue.


  "Serah!!" jawab gue, dan kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang.


  "Btw, lu udah makan, kan?" tanya gue sambil merogoh-rogoh tasnya, mencari obat penenang itu.


  "Belum, gue gak sempat makan dari pagi." jawabnya terlalu jujur.


  "Lu tuh memang niat buat nyusahin gue, ya?!!" kesal gue, lalu sontak menatapnya sambil memegang obat penenang itu yang sudah ada di luar tas itu.


  "Sorry...gu-gue ad kerjaan dirumah, makanya gak sempat makan." jawabnya.


  *Bohong!* batin gue sambil menatap matanya.


  "Lu napa natap gue kayak gitu, sih? gue udah kayak punya utang aja." protesnya.


  Gue gak memperdulikan ucapannya itu, gue malah sontak mengambil ponsel dari dalam saku jas gue, lalu menelpon Jordan.


  "Kamu dimana?"


  "Saya masih di rumah sakit, Tuan. Ada apa, Tuan?"


  "Beli makan malam untuk satu orang saja, dan segera antar ke markas!!"


  "Baik, Tuan."


  Gue langsung memutuskan telponnya, lalu meletakkan ponsel gue di atas ranjang gue.

__ADS_1


  "Kenapa lu cuma pesan satu? lu gak makan, gitu?" sahut Jessica.


  "Gue gak lapar." jawab gue santai.


  "Tapi—"


  "Diem!!" potong gue.


  "Lu tuh lagi sakit, masih aja banyak ngoceh. Mending tuh mulut diam aja, dari pada ngoceh mulu. Bikin sakit kepala, tau!!" geram gue.


  "Maaf..." lirihnya.


  "Hah...serah lu dah." jawab gue.


  Setelah gue ngomong gitu, tiba-tiba suasana menjadi canggung. Tidak ada bahan obrolan yang bisa kami bahas, dan lagi Jessica lebih memilih untuk memejamkan matanya kembali.


  Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu ruangan gue.


  "Masuk." sahut gue.


  Suara pintu terbuka pun berbunyi, lalu ada yang berkata. "Maaf jika saya lama, Tuan."


  Gue sontak berbalik dan menatap Jordan yang membawa 1 kresek yang berisikan makan malam.


  "Tidak apa, letakkan saja di meja itu." jawab gue sambil melirik meja yang ada di depan sofa.


  "Baik, Tuan." jawabnya lalu meletakkan makanan itu di atas meja, dan menyusunnya dengan rapi.


  "Oh ya...bagaimana keadaan Mark?" tanya gue.


  "Dia baik-baik saja, Tuan. Untung saja Peluru itu tidak sampai mengenai jantungnya." jawabnya.


  "Kalau tau akan seperti ini, mungkin aku tidak membawa 13 bawahan saja." ucap gue.


  "Ya, aku tau itu. Oh ya, peluru di kotak ku habis. Apa kamu bisa mengisinya kembali?"


  "Bisa, Tuan. Saya akan mengambil peluru anda, dari gudang senjata."


  "Tapi, Tuan. Saya harap, anda tidak melakukan hal seperti tadi lagi. Itu akan membahayakan nyawa anda. Anda bisa saja menyuruh kami, untuk memakai senjata utama kami masing-masing. Itu akan menyelesaikan masalahnya."


  "Ya, ya, ya...aku mengerti, kamu boleh keluar."


  "Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk lalu keluar dari ruangan gue.


  Setelah Jordan keluar, gue langsung berbalik dan menatap gadis itu yang juga menatap gue.


  "Bangun, dan duduk di sofa!!" perintah gue.


  "Hm...oke." jawabnya yang mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya.


  "Lama banget!" gumam gue dan sontak mengendong gadis itu, sampai ke sofa.


  "Makasih." ucapnya setelah gue meletakkannya di sofa.


  "Cepat makan, setelah itu minum obat mu." sambung gue.


  "Iya." jawabnya dan langsung melahap makanannya.


  Gue sontak berjalan kearah ranjang gue kembali, lalu mengambil obat milik gadis itu dan juga ponsel gue.


  Tapi saat gue ingin duduk di sofa, tiba-tiba saja Abang gue menelpon dan itu membuat gue gak jadi duduk.

__ADS_1


  *Ngapain tuh orang nelpon?* batin gue sambil melihat layar ponsel gue.


  "Gimana, woi?!! astaga!!" gerutu gue.


  "Gimana apanya?" sahut gadis itu sambil menatap gue bingung.


  "Dah, lu gak ngerti." jawab gue.


  Gue pun mencoba untuk tenang, dan langsung mengangkat telpon itu.


  "Halo...kenapa, Bang?"


  "Lu dimana?"


  "Ya dirumah lah! Kenapa emang?"


  "Lu dikamar,  ya?"


  "Iya lah, mau dimana lagi gue?"


  "Bukain pintu dong, gue ada di depan kamar lu nih."


  Gue yang mendengar itu, benar-benar di buat terkejut sampai-sampai mata gue membat besar karnanya.


  "Lu mau ngapain, sih?! Ini udah malam, balik ke kamar lu sana. Gue mau tidur, lu ganggu aja!"


  "Gue mau ngomong sesuatu, penting banget nih. Makanya, cepetan buka, atau gue dobrak nih."


  "Yakin lu berani dobrak? Bisa-bisa pala lu yang di penggal sama Ibu."


  "Buruan buka!! sumpah, ini penting banget."


  "Sepenting apasih? tinggal ngomong lewat telpon aja."


  "Tapi lebih enak ngomong langsung."


  "Bacot!! buruan ngomong, atau gue matiin nih!"


  "Jangan, jangan!!"


  "Gue cuma mau pinjam duit lagi, hehehe..."


  "Pinjam duit? Lagi? Lu stres ya, bang? Tadi gue baru ngasih lu 500 ribu, lu mau pinjam lagi? Tuh duit lu makan atau gimana, sih?!!"


  "Gue mau beli helm baru, masa temen-temen gue udah beli, guenya gak? Kan malu."


  "Ya malu aja terus!! Makan tuh malu!!  Kesal juga!"


  "Ayolah...pinjamin gue 2 juta aja."


  "Anjir!! Aja? Lu bilang aja?!! tuh mulut enak bener ngomongnya!!"


  "Ayolah dek...2 juta aja, janji gue bakal ganti deh."


  "Oke, oke!! Gue kasih lu 2 juta, tapi gue gak kasih tunai. Gue bakal transfer ke lu, lu tinggal kirim no rek lu aja."


  "Oke adek gue sayang, makasih ya. Babay."


  Belum sempat gue jawab, telponnya langsung terputus.


  "Oh memang nih orang, giliran ada maunya aja baiknya minta ampun." gerutu gue.

__ADS_1


Setelah gue mendapatkan nomor rekening Rizky, gue pun langsung menyuruh Jordan untuk mentransfer uang ke rekening itu.


  Bersambung


__ADS_2