Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Kelakuan Licik Angel


__ADS_3

Semakin lama, obat yang di berikan Angel mulai bekerja dengan sangt cepat. Tubuh gue rasanya sangat panas, entah berapa dosis yang Ia berikan ke Gue. Intinya rasanya obat itu sangat cepat bekerja, dan gue mulai tidak bisa mengontrol tubuh gue sendiri.


Karn terlalu panas, gue langsung membuka jas dan kemeja gue. Menurunkan suhu AC dan mengipasi tubuh gue dengan majalah yang tadinya gue baca.


Jujur saja, ini pertama kalinya gue minum obat itu. Biasanya gue yang memaksa para wnita untuk meminumnya, tapi sekarang malah gue yang di bodohi agar meminum obat itu.


"Hah...ha...hah..." hea nafas gue yang berkali-kali agar bisa mengontrol diri gue.


"Wow! obatnya bekerja dengan baik ya, King. Jadi semakin seru nih." ucap Angel yang memegang pundak gue dengan perlahan.


"Ayolah!! aku sudah bilang ini terlalu awal untuk kita!!" geram gue kepadanya.


"Oh ya? yakin terlalu awal? mending kita coba dulu, yuk. Permainan ku sangat baik loh, aku bisa memuaskan ini." godanya sambil menyentuh alat vital gue.


Angel yang menatap gue dengan wajah yang sangat menggoda dan bibir yang sengaja Ia gigit agar gue tergoda dengannya.


"Hah...Aku sudah tidak bisa menahannya..." gumam gue dan sontak mendorong Angel sampai terbaring di sofa, dan langsung ******* bibir seksinya itu.


Tapi tangan Angel malah bermain di bawah dan mencoba untuk membuka resleting celana gue. Gue sontak menahan tangannya, dan meletakkan kedua tangannya itu di leher gue.


Bukan hanya bibir, leher yang tercium aroma Vanila dan seputih susu itu membuat gue tergoda. Gue langsung mencium lehernyanya itu dan sesekali menggigitnya, dan membuat Angel meringis.


Tapi tiba-tiba saja ada yang menerobos masuk ke dalam ruangan gue sambil berteriak. "Woi, Cel!! lu kok gak angkat telpon gue, sih..."


Mendengar itu gue langsung berhenti menciumi leher Angel, dan langsung menengok dan menatap seseorang itu. Begitupun dengan Angel yang juga ikut menengok dan menatapnya.


"Jessica?" sahut gue terkejut.


"Oh...pantesan gak angkat telpon gue, lagi asik main toh." sindirnya dan langsung menutup pintu gue kembali.


"Jessica!! lu salah paham, Jes!! Jessica!!" teriak gue.


Gue langsung turun dari tubuh Angel, dan mengambil jas gue lalu memakainya sambil melangkah menuju pintu.


"King!! kamu mau kemana!!? kita belum selesai!" teriak Angel.


Gue sama sekali tidak menjawab atau berbalik untuk menatapnya, gue malah melangkah keluar dari ruangan gue dan berjalan menuju ke kamar Jessica.


Tanpa gue sadari, gue malah membuat kesalahan besar yang bisa saja membahayakan Jessica nantinya.


Gue langsung menerobos masuk ke dalam kamar Jessica, dan saat di dalam gue bisa melihat Jessica yang sedang duduk di depan meja riasnya.


"Lu marah sama gue?" tanya gue sambil berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Marah? siapa juga yang marah, gue cuma kesal karna lu gak angkat telpon gue." jawabnya, lalu memutar tubuhnya menghadap ke gue.


"Kalau mau kesini tuh, di kancing dulu dong bajunya. Bikin orang tergoda aja!" ketusnya.


"Hah! oh...oke-oke." ucap gue dan langsung mengancing kemeja gue dengan cepat.


"Oh iya, kenapa lu nelpon gue?" tanya gue.


"Hm..." dehemnya yang tiba-tiba berdiri dan berjalan ke ranjangnya, lalu duduk di atas ranjangnya itu.


Gue akhirnya mengikuti Jessica dan duduk tepat di sampingnya.


"Kenapa? kok gak di jawab?" tanya gue lagi.


"Gak papa, sih. Gue cuma mau nyuruh lu jemput gue tadi, tapi yaudah lah sama penggantinya Dika aja." jawabnya.


"Hah...bikin orang kaget aja." keluh gue.


"Tapi, kenapa lu kesini? mending lu lanjutin aja sana, yang di bawah masih tegang tuh." sambungnya, yang membuat gue terkejut dan sontak menutupi tubuh gue dari pinggang sampai lutut dengan selimut.


"Lu mulai nakal, ya." ucap gue sambil menyentil pelan hidungnya.


"Lu yang ajarin." balasnya.


"Gue gak nuduh, tuh. Lu tuh cowok mesum, dikit-dikit ngekiss mulu. Heran!" protesnya balik.


"Ya maaf, habisnya bibir lu manis." ucap gue dan sontak mengecup bibirnya sekilas.


"Tuh kan!! ih!! dasar!! pergi lu!! ngambek gue!!" kesalnya sambil mendorong gue dari ranjangnya.


"Jahat banget! yaudah deh, gue ke ruangan gue aja. Mau nyelesaiin masalah ini dulu, habis itu gue ke kamar kesayangan gue lagi." jawab gue.


"Kesayangan apaan!! buruan keluar!!" teriaknya.


"Hahaha...Babay kesayang Marcel." ejek gue, lalu bebalik dan melangkah keluar dari kamarnya dan kembali ke ruangan gue.


Saat diruangan gue, gue tidak bisa menemukan Angel di ruangan gue sendiri. Bukan hanya orangnya yang tidak gue temukan, tas yang Ia bawa pun tidak ada di sofa.


"Apa dia pulang?" gumam gue.


"Hah...sudah lah, cepat selesai ini dulu." ucap gue dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


JESSICA POV*

__ADS_1


Jujur saja, saat melihat Marcel melakukan hal itu lagi hati gue rasanya sedang di iris dengan pisau dan itu rasanya sangat sakit.


Gue kira Marcel sudah berhenti melakukan hal itu, tapi gue lupa siapa Marcel sebenarnya. Mana mungkin dia berhenti melakukan hal itu, dan tidak mungkin juga untuk ku melarangnya untuk berhenti melakukan hal itu.


Dan ada yang lebih membuat gue kepikiran, wanita yang tadi bersamanya terlihat sangat cantik dan juga menawan. Gue sebagai wanita saja sangat iri dengannya.


Bentuk Tubuh yang paling di sukai Marcel, itu membuat gue sangat kecewa dengan tubuh gue. Dimata Marcel gua terlihat sangat kurus, padahal semua gadis iri dengan tubuh gue.


"Hah...sial banget." gumam gue dan langsung membaringkan tubuh gue di ranjang.


"Kenapa juga gue bisa suka sama tuh orang! jahat iya, gila iya, tukang minum iya, mesum lagi! apa karna mukanya, makanya gue bisa suka sama dia?" gerutu gue.


"Dasar Marcel gila!!" teriak gue.


"Kok gue di bilang gila?" sahut Marcel yang membuat gue terkejut, dan sontak bangun dari posisi gue dan menatapnya yang sedang berjalan ke arah gue.


"Eh, Marcel. Kok cepat? udah kelar?" tanya gue.


"Udah, cape gue!" jawabnya dan tiba-tiba berbaring di atas paha gue.


"Ih!! apaan sih!" kesal gue.


"Biarin gue begini sebentar aja, gue butuh bantal." sambungnya.


"Lu kira paha gue bantal, apa!? dasar!" protes gue.


Tiba-tiba tangan gue di angkat oleh Marcel dan di letakannya di atas kepalanya sendiri.


"Gue capek, capek banget. Tubuh sama Pikiran gue capek, rasanya gue mau istirahat yang panjang." ocehnya.


"Kalau capek ya istirahat, mau seberapa lama pun lu istirahat yang penting lu kembali lagi." ucap gue sambil mengelus kepalanya dengan lembut.


"Gue gak tau apa yang membuat lu capek, tapi gue bisa jadi bantal tempat lu tidur untuk istirahat sebentar." lanjut gue.


"Hm..." dehemnya yang tenyata sudah menutup matanya.


Entah apa yang sedang Ia hadapi, gue hanya bisa berharap semoga masalahnya cepat selesai dan dia bisa kembali menjadi Marcel yang sangat bersemangat.


Bersambung


Hari ini upload 3 bab, tapi menitnya beda ya...


Mohon di tunggu, dan jangan lupa like and comment ;)

__ADS_1


__ADS_2