
Gue bener-bener terkejut karna Mark yang tertembak, gue gak mau 1 lagi bawahan pribadi gue yang mati.
"Aku tidak bisa diam lagi, berikan senjata mu, Jordan!!" perintah gue.
"Tidak, Tuan. Anda tidak boleh keluar." larangnya.
"Jangan melarang ku!!" geram gue.
Gue sontak mengambil kotak kecil dari bawa kursi mobil gue, Jordan yang melihat itu sontak menatap gue dengan mata yang membulat besar.
"Tdak, Tuan. Anda tidak boleh memakai senjata kedua anda." sahutnya.
Gue hanya diam saja, kotak yang gue ambil dari bawa kursi mobil itu, berisi 1 pistol lagi tapi itu cukup berbeda dengan pistol yang sering gue pegang.
Bukan hanya itu, di dalam kotak itu juga berisi peluru-peluru yang sangat berbahaya, salah satunya peluru yang beracun.
Gue langsung mengambil pistol itu dan mengisinya dengan peluru yang beracun, dan pistol yang satu lagi gue isi dengan peluru boom alias peluru yang bisa meledak jika di tembakan.
"Tidak, Tuan!! anda tidak boleh menggunakan kedua peluru itu, anda bisa saja membahayakan nyawa bawahan anda." ucap Jordan.
Gue sontak menatap serius Jordan, lalu berkata. "Apa kamu meragukan kemampuan ku?"
"Tidak, Tuan. Hanya saja, akan lebih baik kalau anda diam di mobil saja." jawabnya.
"Kamu saja yang diam dimobil, dan jaga gadis itu. Aku akan pergi." sambung gue lalu langsung membuka pintu mobil itu, dan bersiap untuk keluar dari mobil dengan 2 senjata yang ada di kedua tangan gue.
JESSICA POV*
Dari awal perasaan gue udah gak enak pas Reyhan ngajak gue ikut dengannya. dan perasaan buruk itu selalu benar.
Saat bocah itu berdebat dengan Pria yang ada di depan gue, sambil memegang kedua senjata di tangannya. Gue rasanya ingin berkata. "Lu tuh tolol atau bego, sih?! masih 18 tahun mau lawan mereka yang lebih dari 10 orang itu? ya bakal kalah lah!"
Tapi sayang, gue gak berani ngomong!! takut malah memperkacau keadaan, dan malah gue yang kena marah.
Bocah itu langsung keluar dari mobil dengan membawa senjata, gue awalnya berusaha untuk tidak memperdulikannya.
Tapi saat mendengar suara tembakan berkali-kali, dan juga suara ledakan. Gue sontak menengok ke luar jendel dan melihatnya.
Gue bisa lihat jelas, tangan yang biasanya memegang buku dan pulpen saat di sekolah. Sekarang, Ia memegang 2 senjata dengan ahlinya.
Walaupun Ia menembak dari jarak yang cukup jauh, Ia tetap saja mengenai musuh tanpa ada meleset sedikitpun.
__ADS_1
Bukan hanya itu, gerakan tubuhnya saat menghindari peluru yang di tembakkan oleh musuh. Ia benae-benar seperti seorang Pria yang sangat ahli berkelahi dan menggunakan senjatanya.
Padahal, umurnya saja masih 18 tahun. Tapi, tubuhnya terlihat sudah seperti umur 20 tahun yang penuh dengan otot kekar dan tinggi yang bisa mencapai 186 cm.
"Nyonya." panggil Pria yang ada di depan gue.
"Ya?" sahut gue.
"Apa anda bisa menjaga diri anda sendiri? saya harus membantu, Tuan Marcel." ucapnya.
"Saya akan menjaga Nyonya, anda pergi saja." sambung supir itu.
"Baiklah, tolong jaga dia baik-baik. Saya pergi dulu." jawab Pria itu lalu keluar dari mobil.
Tiba-tiba saja supir itu mengeluarkan senjata entah dari mana. Lalu sontak menengok ke gue.
"Tenang saja, Nyonya. Walaupun saya hanya seorang supir, saya cukup ahli berkelahi." ucapnya sambil tersenyum ke gue.
"Ha ha ha...i-iya." jawab gue ragu.
Gue langsung menengok ke luar jendela lagi, dan mengamati Reyhan dari dalam mobil.
Karna panik, gue langsung menurunkan kaca mobil, lalu berteriak. "Awas di belakang lu!!!"
Reyhan yang mendengar itu, berhasil menembak pria yang memegang pisau itu. Tapi, tanpa gue sadari gue malah melakukan kesalahan besar.
Semua Pria yang melawan Reyhan sontak menatap gue dengan tatapan aneh, seperti menargetkan gue.
Tiba-tiba saja kaca mobil itu otomatis tertutup, dan supir itu sontak berkata. "Anda dalam bahaya, Nyonya."
"Apa yang anda maksud?!" tanya gue bingung.
Tiba-tiba saja ada suara tembakan yang mengarah ke mobil ini. Benar saja, peluru itu berhasil menembus kaca mobil, dan hampir saja mengenai gue.
"Bagimana ini? kenapa mereka mengincar ku?" sahut gue ke supir itu.
"Tenang, Nyonya. Sekarang anda duduk di bawah, dan tundukkan kepala anda." ucapnya.
Gue langsung melakukan apa yang di ucapakan oleh supir itu, dan lagi-lagi tubuh gue bergetar bersamaan dengan nafas gue yang mulai tidak beraturan.
MARCEL POV*
__ADS_1
Gue sudah berusaha untuk menjauhkan mereka dari mobil agar Jessica tetap aman. Tapi, bodohnya gadis itu malah berteriak dan memunculkan wajahnya.
"Gue kira dia bego, ternyata bego banget, ya?" gumam gue sambil menggelengkan kepala.
Karna tidak fokus, gue sampai tidak sadar kalau ada salah satu dari mereka yang sedang menargetkan Jessica, dan menembak ke mobil gue.
"Oh...bangsat nih orang, mobil gue kok di tembak." geram gue dan langsung mengarahkan senjata kearah pria itu, lalu menembaknya dengan sekali tembakan tapi pasti langsung mati.
"Tom!! Dika!! keluarkan senjata utama kalian!!" perintah gue yang sudah tidak tahan untuk berlama-lama melawan mereka.
"Baik, Tuan!!" jawab mereka.
Maksud gue senjata utama itu, senjata yang selalu mereka gunakan disaat-saat genting seperti ini.
Senjata utama milik Dina adalah pedang yang bisa membunuh orang dalam sekali tebas. Sedangkan Tom, senjata utamanya adalah senapan FN FAL, yang bisa menembakkan 700 peluru per menit.
Sebenarnya setiap bawahan gue, punya senjata utama mereka, dan rata-rata semuanya memilih senapan untuk senjata utama mereka. Tapi karna senjata itu sangat jarang di gunakan, mereka biasanya hanya menggunakan pistol biasa saja.
"Habisi mereka!!" teriak gue.
Tom pun mulai menembakkan peluru-peluri itu ke musuh, sedangkan Dika Ia mulai menghabisi para musuh dengan pedangnya.
dan gue? menghampiri Jessica yang masih ada di mobil. Hanya karna kecerobohannya, sampai membuat supir yang biasanya hanya berdiam diri di dalam mobil. Ikut mengambil posisi untuk melawan musuh yang ada di sekitar mobil.
"Tuh cewek memang ahlinya pembuat masalah." gumam gue dan langsung menempak para musuh yang ada di sekita mobil itu.
"Tunduk!!" teriak gue ke supir itu.
Pria itu sontak menunduka dan gue langsung menembak Pria yang ada di depan supir itu.
Setelah berhasil membunuh semua Pria yang ada di dekat mobil, gue sontak menengok ke belakang dan memastikan keadaan para bawahan gue.
"Hah...akhirnya kelar." gumam gue.
Tanpa gue sadari, ternyata Dika telah berhasil memenggal kepala Pria yang menjadi target utama kita.
Dika pun langsung berjalan kearah gue, sambil memegang kepala Pria itu di tangan kirinya dan pedangnya di tangan kanannya.
Tapi tiba-tiba saja supir gue berteriak. "Tuan!! Nyonya Carmelia pingsan!"
Bersambung
__ADS_1