Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Menjemput Jessica


__ADS_3

Saat mendengar keluarga Erland, yang pertama muncul di pikiran gue adalah Bryan. Tapi, mana mungkin dia berani melakukan hal itu. Baru kemarin dia bertemu dengan gue, dan tidak mungkin dia memiliki dendam untuk membunuh gue.


"Keluarga Erland? apa itu kepala Menteri?" tanya Andre.


"Benar, Tuan Erland kepala Menteri Negara yang memiliki keinginan untuk menyingkirkan presiden agar Ia bisa menjabat menjadi presiden." jawab Jordan.


"Apa hubungannya gadis itu dengan Negri ini? dan lagi, untuk apa dia berniat untuk membunuh Tuan? kalau Tuan mati, Negri ini akan hancur nantinya." sambung Vernon.


"Hei! apa kamu sedang berbohong! aku sudah bilang, aku sangat benci kebohongan!!" kesal Andre.


"Ti-tidak, sa...ya berkata jujur. Saya juga diperintah oleh seseorang, da...dan....orang itu bilang ka-kalau ini perintah dari Keluarga Erland...Selain itu, semua alat dan perlengkapan yang saya kenakan ini, di berikan oleh seseorang itu." jelasnya.


"Sekarang dimana gadis itu?" sahut gue.


"Pabrik Tua yang ada di dekat Jl.XC, ta-tapi hati-hati jika kalian ingin kesana, di...sana banyak sekali penembak jitu." jawabnya.


"Informasi mu sangat lengkap, aku menghargai itu. Sebagai bayarannya, anak mu akan di rawat oleh Dokter kami dan keluarga mu akan mendatangkan bayaran yg sangat besar." ucap Andre yang tersenyum, tapi tangannya tiba-tiba mengambil senjata dari dalam saku celananya.


"Ada kalimat terakhir yang ingin kamu ucapkan?" tanya Andre.


"To...long jangan sakiti keluarga ku..." lirih Pria itu yang tiba-tiba meneteskan air mata.


"Oke, di terima." balas Andre dan sontak menembak peluru ke dalam mulut Pria itu, bukan hanya itu. Ia juga menusukkan pisau kedalaman mata Pria itu.


"Psikopat gila...!" gumam Vernon.


*Ya...dia benar-benar gila.* batin gue.


"Saya menemukan tempatnya." sambung Jordan.


"Baiklah, kita akan langsung kesana. Bawa senjata Utama kalian, dan perintahkan semua bawahan untuk berkumpul di halaman kastil!" perintah gue.


"Baik, Tuan." jawab Jordan, dan langsung melangkah pergi.


"Hendra, jemput Putri Pria ini dan langsung pindahkan kerumah sakit mu!" lanjut gue.


"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk, lalu melangkah pergi.


"Tuan, apa saya boleh ikut? sudah lama saya tidak memegang senjata." sahut Vernon.


"Ikut saja, kita akan bersenang-senang hari ini." sambung Andre yang melemparkan pisaunya ke lantai, dan membersihkan senjatanya menggunakan pakaian Pria itu.

__ADS_1


"Terserah kalian saja." jawab gue lalu berbalik dan melangkah pergi menuju ruang ganti untuk mengambil jas.


Saat sampai di depan pintu utama kastil, gue bisa melihat Jordan dan Andre yang sedang memberikan sebuah arahan kepada bawahan yang lainnya.


"Mereka terlalu semangat, padahal ini bukan perang." gumam gue sambil melangkah menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri Vernon.


"Apa yang sedang mereka bicarakan?" tanya gue kepada Vernon.


"Eh!? Tuan?"sahutnya dan langsung menunduk.


"Angkat kepala mu." ucap gue dan Vernon langsung mengangkat kepalanya.


"Apa yang sedang mereka bicarakan? kenapa yang lainnya terlihat sangat serius?" tanya gue sekali lagi.


"Mereka hanya membahas mengenai rencana penyerangan yang akan di lakukan nanti, dan juga membagikan kelompok untuk mengepung tempat itu." jawabnya.


"Tapi, kenapa mereka memegang senapan semua? bukannya ada beberapa dari mereka yang menggunakan pedang untuk senjata utama mereka?" heran gue.


"Sepertinya Andre memiliki rencana lain, Tuan. Mungkin hari ini akan menjadi pertumpahan darah." jawabnya santai.


"Haah...dia selalu saja seenaknya seperti ini, padahal point utamanya hanya untuk menyelamatkan gadis itu saja." gumam gue.


Jordan dan Marcel sontak berbalik dan melangkah kearah gue.


"Mari, Tuan. Kita harus pergi sekarang." ucap Jordan.


"Baiklah." jawab gue, lalu melangkah kearah mobil yang telah di siapkan oleh Jordan.


Anehnya, saat di salam mobil, tidak ada supir yang selalu mengantar gue kemana pun. Saat gue ingin bertanya mengenai supir itu, tiba-tiba saja ketiga Pria itu masuk kedalam mobil yang sama dengan gue.


Jordan yang duduk di kursi kemudi, dan di sampingnya ada Vernon. Sedangkan Andre, duduk di kursi belakang tepat di samping gue.


*Mereka masih saja menganggap gue seperti anak kecil.* batin gue.


Jordan pun mulai mengendarai mobilnya, dan para bawahan lainnya mengikuti dari belakang. Tapi, saat di jalan raya. Beberapa mobil dan motor yang tadinya berada di belakang, tiba-tiba berpindah ke depan dan ke samping kanan kiri gue.


*Terkadang, gue sedikit takjub dengan keprofesionalan mereka.* batin gue.


Tak butuh waktu lama untuk tiba di tempat itu, tapi Jordan hanya berhenti di depan pagar dari pabrik tua itu. Beberapa bawahan gue pergi dengan kendaraan mereka masing-masing, mereka masuk ke dalam pabrik itu dan ada beberapa yang mengelilingi pabrik itu di luar pagar.


Sedangkan yang berjaga di kanan kiri dan depan belakang mobil kami, hanya 4 bawahan Pribadi gue yang mengendarai motor.

__ADS_1


"Kenapa kita tidak masuk?" tanya gue.


"Kita tunggu sinyal dari dalam, baru kita akan masuk." jawab Andre.


"Sinyal? maksud mu?" sambung gue.


"Tuan, jangan lupa senjata anda." sahut Jordan sambil memberikan senjata itu ke gue.


"Eh!? kapan kamu menyiapkannya?" tanya gue sambil menerima senjata itu.


"Saat di perjalanan tadi. Saya juga sudah mengisi pistol itu dengan peluru beracun dan setengah peluru peledak." jawabnya.


"Hm...baiklah." balas gue dan langsung memasukkan pistol itu kedalam saku jas gue.


Tapi, tiba-tiba saja ada suara tembakan dari dalam pabrik itu. Suara tebakan itu berbunyi sampai 3 kali, dan terdengar sangat keras.


"Wow...mereka sangat cepat, aku pikir ini akan memakan waktu lama." ucap Andre.


Jordan langsung menyalakan kembali mobilnya dan mulai berkendara masuk ke dalam halaman pabrik itu. Saat di halaman itu, gue di buat terkejut dengan para Pria yang tergeletak di tanah. Bukan belasan pejaga, tapi Puluhan penjaga yang menjaga pabrik itu.


"Sudah ku duga, pasti akan sebanyak ini." gumam Vernon yang melihat ke luar jendela.


*Rasanya sekarang gue lagi jadi Reyhan, bukan malah Marcel.* batin gue.


Mobil pun berhenti tepat di depan pintu masuk pabrik tua itu, tapi anehnya, tidak ada satupun bawahan gue yang kembali. Entah kemana mereka perginya, tapi sepertinya ini salah satu dari rencana Andre dan Jordan.


Andre lebih dulu keluar dari mobil, disusul oleh Jordan dan Vernon.


"Silahkan, Tuan." ucap Mark yang membukakan pintu untuk gue.


Gue pun melangkah keluar dari mobil, dan berjalan ke depan mobil, berdiri tepat di samping Andre dan Jordan, sedangkan Vernon berdiri di samping Andre.


Tiba-tiba saja pintu pabrik itu berbuka lebar, Andre langsung berkata. "Mari, Tuan."


Dengan sedikit rasa ragu, gue pun melangkahkan kaki gue masuk kedalam pabrik tua yang gelap gulita itu.


BERSAMBUNG


*Maaf banget 2 hari kemarin gue gak up, penyakit gue kambuh soalnya. dan gue juga gak ada cadangan bab lainnya, makanya kemarin bolohng. Maaf banget :) Hari ini gue usahain buat up, besok-besok juga gue usahain buat up kok :)


Thanks yang udah nungguin* :)

__ADS_1


__ADS_2