
MARCEL POV*
Sebenarnya gue sama sekali gak ngantuk, gue cuma mau ngerjain tuh cewek aja. Habisnya, dari tadi dia ngeliatin gue mulu.
Jadi, lebih baik di kerjain sedikit. Biar dia tau rasa, karna berani ngeliatin dan ngoceh sesukanya.
*Tapi, kenapa dia gak ada gerak sedikitpun?* batin gue.
*Jangan-jangan mati nih bocah, padahal gue kan gak berat.* batin gue lagi.
Gue sontak membuka sedikit mata gue, dan meelihatnya. dan ternyata matanya masih terbuka lebar.
Tapi ekspresi gadis itu, benar-benar sangat lucu. Aku sampai ingin tertawa, karna ekspresinya itu.
*Dia kenapa kayak gitu, sih? padahal gue cuma meluk doang. Kenapa malah tegang banget? mau ketawa, sumpah!!* batin gue.
*Anjir!! gak tahan, mau ketawa, woi!!* teriak gue dalam hati.
Gue sontak membuka lebar mata gue, lalu terduduk, dan langsung tertawa puas.
"Lu, kenapa kenapa?" tanyanya.
"Mu-muka lu, tuh hahahaha...kenapa kayak gitu, sumpah! Ngakak banget, mau mati rasanya, hahaha..." jawab gue yang tak bisa berhenti tertawa.
"Kenapa sama muka gue?" tanyanya dan langsung ikut duduk.
"Muka lu, udah kayak lagi nahan Berak!! Gue gak bisa nahan ketawa lagi, hahaha..." jawab gue.
"Lu bilang, apa?!!" geramnya dan tiba-tiba saja memukul punggung gue dengan sangat keras.
Gue langsung terdiam, dan menengok kearah gadis itu lalu menatapnya dengan mata yang membulat besar karna terkejut.
"Lu mukul gue?" tanya gue.
"Hah? gu-gue gak sengaja, habisnya lu ngejek gue." jawabnya.
"Lu berani mukul gue?" tanya gue sekali lagi.
"Gue gak sengaja!!" teriaknya.
"Hah...kali ini gue lepasin lu, karna lu udah bikin gue ketawa. Tapi, lain kali...awas aja lu!" ancam gue.
"Iya, iya. Gue gak sengaja, maaf." ucapnya.
"Sudah lah, gue mau keluar." sambung gue dan langsung turun dari ranjang, lalu berjalan menuju sofa untuk mengambil jas dan senjata gue.
"Mau kemana?" sahutnya.
"Kenapa? mau ikut?" tanya gue sambil memasang jas gue.
"Emang lu mau kemana?" tanyanya lagi.
"Lu teralu banyak nanya!!Kalau mau ikut, buruan!" jawab gue.
"Gue, ikut!!" balasnya dan langsung berlari menghampiri gue.
__ADS_1
Gue pun keluar dari ruangan gue, dan diikuti oleh gadis itu di belakang gue.
"Anda ingin kemana, Tuan?" tanya Jordan.
"Kerumah keluarga Putra." jawab gue santai.
"Apa anda ingin melakukan hal itu?" tanyanya.
"Tentu saja." jawab gue sambil tersenyum miring.
"Perintahkan 10 bawahan terbaik ku, untuk ikut mengunjungi kediaman keluarga Putra!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab Jordan dan langsung pergi.
Gue pun langsung melangkah menuju basement, bersama Jessica. Saat sampai di basment, gue langsung masuk kedalam mobil begitupun Jessica.
"Kita akan kemana, Tuan?" tanya pria itu.
"Bersenang-senang." jawab gue sambil menyeringai.
Saat mendengar itu, pria itu langsung menurunkan kaca mobil yang ada di sebelah gue.
Karna Ia tau, kalau gue akan berbicara terlebih dulu dengan para bawahan gue, dan membiarkan mereka pergi terlebih dulu, lalu gue akan menyusul mereka.
"Oh ya, karna ini pertama kalinya lu ikut gue bersenang-senang. Jadi mulai malam ini nama lu harus di ganti." sahut gue sambil menatap Jessica.
"Maksud lu bersenang-senang gimana? gue gak ngerti." tanyanya.
"Nanti juga lu ngerti, sekarang cari nama yang cocok buat lu. Yang terdengar bagus, tapi bukan yang menggambarkan diri lu yang orang-orang tau." jelas gue.
"Emang nama panjang lu, apa?" tanya gue.
"Jessica Amelia Putri." jawabnya.
"Hm...gimana kalau, Carmelia?"
"Carmelia? Bagus sih, tapi masa gue di panggil Car? atau Lia?"
"Nyonya Carmelia, hahaha...ngakak!! Astaga!" sahut gue.
"Nyonya? apa-apaan, gue ini lebih cocok di sebut Nona, tau!" protesnya.
"Nona? Nona Car? Nona mobil? Hahaha..." ejek gue.
"Lu mau gue tabok lagi, hah?!!" geramnya sambil mengangkat tangannya seperti bersiap memukul gue.
Gue sontak menatapnya dengan tajam lalu berkata. "Lu lupa tadi gue ngomong apa, hah?!!"
"Makanya jangan mulai duluan, dong. Lu dari tadi ketawain gue mulu." protesnya.
"Habisnya lu seru kalau di ketawain, bikin mood naik." jawab gue.
"Au ah, malas!" rajuknya.
"Sudah lah, intinya nama lu sekarang Carmelia. Nanti gue bakal ngenalin lu secara khusus ke semua bawahan gue. Jadi mereka bisa nandain lu, kalau lu macam-macam lu tinggal di tembak mati, hahaha..." ancam gue sekaligus mengejeknya.
__ADS_1
"Serah lu dah, heran. Gue sendirian cewek, malah di jadiin kayak sekretaris lu. Selalu ikut kemana lu pergi, nurutin kata-kata lu, coba kek sekalian jadiin gue Ibunya Mafia, kan lu Bapaknya Mafia." ocehnya.
"Lu itu gila atau apasih? gue ini pemimpin mafia, bukan bapaknya mafia, bego!! terus buat apa juga ada Ibunya mafia? Lu kira mafia itu nama anak, apa?!!"
"Mungkin maksud, Nona Carmelia. Tuan harus menjadikannya sebagai tunangan atau istri anda, jadi kami bisa memiliki pemimpin Mafia wanita." sahut supir itu.
Gue yang mendengar itu, sontak menengok kearahnya.
"Gak bakal!!/Ogah!!" ucap gue dan Jessica bersamaan.
Kami sontak menatap satu sama lain, lalu mengalihkan pandangan kami masing-masing.
"Aku ini masih 18 tahun, dan lagi aku tidak tertarik dengan gadis gila di sebelah ku." ucap gue.
"Gadis gila? gue juga ogah sama cowok gila kayak lu!!" protesnya.
"Tapi kalian, terlihat sangat cocok." sambung Pria itu.
"Kamu sudah terlalu banyak berbicara, apa kamu ingin mati?" ancam gue sambil menodongkannya pistol ke kepalanya.
"Ti-tidak, Tuan. Maafkan saya." jawabnya.
"Hah...sudah lah." balas gue.
Akhirya Jordan dan 10 bawahan lainnya pun datang, dan langsung berdiri di depan pintu mobil gue.
"Kenapa Mark dan Dika ada disini?" tanya gue.
"Mereka berdua memaksa untuk ikut, Tuan." jawab Jordan.
"Hah...terserah kalian saja." balas gue.
"Kalau begitu, kalian masih ingat dengan rencana sebelumnya?" tanya gue.
"Masih, Tuan." jawab mereka bersama.
"Baiklah, kalau kalian sudah berhasil menyekap keluarga itu. Aku akan langsung masuk ke rumah itu, dan aku mau mereka semua berlutut di hadapan ku." jelas Gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka lagi.
"Kalau bergitu, bergeraklah!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka dan langsung pergi kendaraan mereka sendiri, sedangkan Jordan Ia masuk ke dalam mobil gue.
"Apa semuanya memakai mobil?" sahut gue setelah Jordan berada di dalam mobil.
"Tidak, Tuan. Yang naik mobil hanya 4 orang saja, yang lainnya lebih memilih untuk memakai motor saja." jawabnya.
"Baiklah, sekarang jalan!" perintah gue, lalu mobil pun mulai berjalan.
Saat di perjalanan, mobil gue berada di tengah-tengah mereka. 1 mobil di depan gue, dan 1 lagi ada di belakang gue. 2 motor ada di depan gue, tepatnya disamping mobil yang ada di depan gue. dan 4 motor lainnya, ada di samping kanan kiri gue.
Ya seperti itulah, saat gue sedang dalam misi untuk bersenang-senang, alias untuk menghancurkan keluarga seseorang.
Bersambung
__ADS_1