
Tak butuh waktu lama untuk gue sampai di klub itu, karna Jessuca sudah pergi lebih dulu. Mungkin sekarang dia sudah bertemu dengan Bryan didalam.
Gue pun keluar dari mobil, dan berjalan masuk ke dalam klub itu dengan Jordan, Mark, dan juga 4 orang lainnya di belakang gue.
Saat di dalam klub, ternyata gue di sambut oleh Manajer dari klub itu.
"Selamat datang kembali, Tuan Anggara." sapanya sambil membungkukkan tubuhnya.
"Bangun." sahut gue, dan Pria itu langsung menenggakan tubuhnya.
"Senang bertemu dengan anda lagi, Tuan. Sudah sangat lama anda tidak berkunjung ke sini." ucapnya.
"Bisa keruangan ku sekarang? Kita bicara di sana saja." sambung gue.
"Tentu saja, Tuan. Mari saya antar." jawabnya.
Kami pun mulai melangkah masuk ke dalam lift, dan memilih lantai ke 4 menuju ke ruangan degan nomor 434. Ruangan yang sangat berbeda dari ruangan lainnya, dan tentu saja ruangan yang dibuat khusus untuk ku.
Setelah sampai di ruangan itu, gue langsung duduk di sofa panjang yang memang biasa ku duduki bersama para wanita-wanita jala*ng.
"Anda ingin minum apa, Tuan?" sahut Pria itu.
"Hm...ambilkan whiskey terbaik dari Prancis. Jangan hanya satu, ambilkan sepuluh botol." jawab Gue dengan senyum kecil.
"Baik, Tuan." ucapnya dan langsung mengeluarkan Walky Talky miliknya.
*Lumayan, gak ada Jessica. Gue bisa habisin semua whiskey.* batin gue yang tak berhenti tersenyum bahagia.
"Tuan, Nona berada di lantai 3." sahut Jordan.
Mendengar itu, gue langsung menengok ke sebelah kanan dan menatap Jordan.
"Apa dia di dalam ruangan? Dengan siapa dia disana?" tanya gue.
"Dia di luar ruangan, Tuan. Dia berada di meja bar bersama Bryan. Tapi di sekitarnya banyak sekali murid-murid dari sekolah anda." jawabnya.
"Suruh Dika mendekat dan biarkan aku mendengar pembicaraan mereka berdua." perintah gue.
"Baik, Tuan." balasnya.
__ADS_1
*Kenapa semua murid sekolah ada disini? Apa hari ini hari spesial buat Bryan? Buat apa dia meneraktir murid lainnya dengan percuma? Aneh~* batin gue.
Tak lama kemudian Jordan memberikan gue Earpiece, dan langsung gue pakai di telinga kanan gue.
*Earpiece atau penyuara telinga merupakan salah satu alat komunikasi rahasia yang menempel di telinga.
Dan tak lama juga whiskey yang gue minta pun datang, Pelayan wanita yang mengantar kan whiskey itu mulai menuangkan whiskey itu ke gelas gue.
Sambil meminum whiskey, gue fokus dengan apa yang ada di telinga gue. Anehnya, tidak ada suara Jessica yang gue denger.
"Hm...kenapa disana sangat ribut?" sahut gue.
"Di sana memang cukup rame, Tuan." sambung Manajer itu.
"Hm...." dehema gue.
Tiba-tiba saja gue mendegar suara Bryan.
"Lu mau pesan apa? Wine?" tanyanya dengan suara lembut.
"Gak, makasih. Gue gak mau minum, di marahin sama seseorang." jawab Jessica dengan nada judes.
"Seseorang? Siapa? Bokap, Nyokap lu?"
"Kok lu kepo banget, sih!? Bukan urusan lu, kali!"
*Hm...seru, nih~* batin gue sambil tersenyum.
"Gue bukannya kepo ataupun apa. Kita disini kan buat senang-senang, lagian gue gak bakal berani apa-apain cewek yang gue suka." ucap Bryan yang langsung membuat gue tertawa kecil.
*Kasian banget~ lu suka sama dia, tapi Jessica suka sama gue.* batin gue yang tidak bisa berhenti tertawa.
"Udah berapa kali gue bilang, jangan keluarin kata itu! Lu gak capek, apa!? Setiap hari lu selalu keluarin kata itu dari mulut lu! Gue aja capek dengernya!!" kesal Jessica.
"Mau sampai kapan lu nolak, gue!? Lu memang yang gak suka sama gue, atau selera lu yang kerendahan? Bisa-bisanya lu suka sama cowok buruk rupa kayak Reyhan! Gue jauh lebih baik dari dia!!" sahut Bryan dengan nada membentak.
"Berani-beraninya tuh orang bentak cewek gue!!" geram gue dan langsung meletakkan gelas gue di atas meja.
"Kenapa, Tuan?" tanya Jordan.
__ADS_1
"Apa ada masalah, Tuan?" sambung Mark.
"Hah...tidak ada, aku hanya ingin tambah saja. Tuangkan lagi." jawab gue, lalu memerintahkan pelayan itu.
JESSICA POV*
Saat mendengar ucapan Bryan yang merendahkan Reyhan, gue bukannya marah. Gue malah tertawa dengan ucapannya.
"Lu bilang lu jauh lebih baik dari dia? Lu mabuk, ya? Gila aja kalau lu jauh lebih baik dari dia, hahaha..." ucap gue yang tertawa puas.
"Memang apa yang bisa di banggain dari tuh orang!!? Otak? Dia duit aja kagak punya! Mau makan apa lu kalau sama tuh cowok!!? Lebih baik lu sama gue, gue bisa ngasih lu segalanya!!" kesalnya.
"Gue tau lu putra dari kepala menteri, tapi itukan duit bokap lu. Bukan duit lu!" sambung gue dan sontak menopak dagu gue menatap Pria itu.
"Dan lagi...percuma punya duit, tapi gak punya otak!" lanjut gue sambil menyeringai ke Bryan.
Bryan tiba-tiba menghindari tatapan gue dan langsung meminum winenya dalam sekali teguk.
"Jangan sebut namanya di depan gue! Ini acara gue, bukan acara dia!" ucapnya sambil meletakkan gelasnya di atas meja.
"Hm...oke." jawab gue santai lalu menenggakan tubuh gue.
"Btw, sesuatu apa yang lu mau kasih ke gue? Gue udah cukup lama disini, ada hal yang harus gue urus." tanya gue.
"Oh... barangnya ada di ruangan, ikut gue dulu." jawabnya dan langsung turun dari kursi.
"Hm...oke." ucap gue sambil turun dari kursi, lalu mengikutinya dari belakang.
*Hm...baru pertama kali gue ke klub yang mewahnya udah kayak hotel bintang lima, ruangan banyak banget lagi.* batin gue sambil melihat kesekeliling.
Tiba-tiba Bryan berhenti di depan ruangan dengan nomor ruangan 333, Ia langsung membuka pintu ruangan itu dan mengajak gue masuk bersamanya.
Saat di dalam, tidak ada hal aneh diruangan itu. Hanya ada beberapa botol minuman di atas meja, dan juga ranjang yang di atasnya ada sebuah kotak yang di bungkus dengan kertas kado berwarna merah, sama dengan gun yang gue pakai.
"Yuk." ajak Bryan, lalu berjalan kearah sofa.
"Hm..." dehem gue lalu mengikuti, dan duduk tepat di sampingnya.
Bersambung
__ADS_1