Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Berkumpul Berempat


__ADS_3

"Turunkan tatapan mu, Andre!! ini perintah!!" perintah gue.


Andre langsung menurunkan tatapannya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Aku tau Ayah mu dan Tuan Anggara adalah sepupu, aku juga sudah menganggap mu sebagai kakak ku sendiri. Tuan Anggara juga menyerahkan tanggungjawabnya sebagai wali ku kepada mu. Tapi, aku tetap atasan mu. Kamu tidak bisa seenaknya seperti itu kepada ku." ucap gue santai.


"Dan lagi, kenapa kamu tidak bisa mengontrol amarah mu sendiri? ini tidak seperti mu, Andre. Dimana Andre yang ku kenal? yang selalu bisa mengontrol amarahnya sendiri, dan selalu menjadi penasehat terbaik Ku." lanjut gue.


"Maaf atas ketidak sopanan saya. Saya hanya tidak ingin terjadi apapun kepada anda, anda lebih berharga dari nyawa saya sendiri. Saya tidak ingin kehilangan seseorang yang saya sayangi, sudah cukup dengan kematian seluruh anggota keluarga saya. Anda tidak boleh mati hanya karna seseorang." sambungnya sambil menunduk.


"Angkat kepala mu!" sahut gue, dan Andre langsung mengangkat kepalanya.


"Mau bagaimana pun, kamu harus menerima gadis itu. Karna aku sudah melakukan sumpah darah kepadanya." ucap gue yang membuatnya terkejut dan menatap gue dengan mata yang membulat besar.


"A-apa maksud anda? apa anda tau bayaran dari sumpah itu!?" tanyanya.


"Nyawa dan posisi ku, bayaran yang akan aku dapatkan jika mengingkari sumpah itu. Tapi kamu tau, kan. Sumpah itu tidak berlangsung lama, jika gadis itu mati. Tidak akan ada sumpah lagi, dan aku terbebas dari sumpah yang aku buat." jawab gue.


"Saya akan membunuh gadis itu sekarang!!" sahutnya dan sontak berdiri.


"Duduk! tidak ada yang menyuruh mu untuk menyentuhnya!!" perintah gue yang mulai kesal dengan Pria itu.


"Tapi, Tuan—"


"Duduk!!" potong gue.


"Baik." jawabnya, lalu kembali duduk di kursinya.


"Haah... kenapa sekarang kamu sangat keras kepala, sih!? sekarang aku sudah seperti kakak mu, padahal kamu yang lebih tua dari ku!" gerutu gue.


"Mohon maaf dan mohon ampun kepada Anda, saya benar-benar tidak bisa mengontrol emosi saya sendiri, sekarang." ucapnya.


"Setelah berkeliling Dunia, kamu yang malah berubah bukan aku." balas gue.


Tiba-tiba saja ada yang pengetuk pintu ruangan itu, gue pun langsung menyauti ketukan itu.


"Selamat pagi, Tuan. Maaf mengganggu perbincangan kalian." sapa Hendra setelah menutup pintu ruangan itu dan berdiri tepat di depan pintu.


"Kapan kamu datang? apa kamu sudah memeriksa gadis itu?" tanya gue.

__ADS_1


"Sudah, Tuan. Saya hanya perlu memeriksa tekanan darah Nona dan juga menyuntikan vitamin untuknya." jawabnya.


"Dan saya denger, Andre sudah kembali. Jadi saya menanyakan keberadaan Kalian berdua kepada Jordan, dan langsung melangkah kesini." lanjutnya.


"Kamu sudah sangat bekerja keras untuk gadis itu, sekarang duduklah." ucap gue.


"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk dan mulai melangkah kearah kami.


Tapi tiba-tiba saja langkahnya berhenti saat Ia sudah berada di dekat meja, dan menatapa Andre dengan wajah yang sedikit terkejut.


"Ke-kenapa sabit maut itu keluar? sepertinya waktu berkunjung saya salah, hehe...sa-saya pergi dulu, deh. Permisi..." ucapnya dan langsung berbalik.


"Duduk, Hendra!!" perintah gue.


"Ti-tidak usah, Tuan. Silahkan lanjutkan perbincangan kalian." tolaknya sambil berbalik kembali


"Duduk!!" tegas gue sambil menatapnya tajam.


"Ba-baik." jawabnya lalu melangkah kearah gue, dan duduk di kursi yang ada di depan Andre.


"Ais... letakkan pulpen mu itu!! kamu membuat orang ketakutan karna pulpen mu." kesal gue.


"Apa salah pulpen ku, padahal dia hanya sebuah benda mati saja." gumamnya sambil memasukkan pulpennya kembali ke dalam saku jasnya.


"Benda mati yang bisa membuat orang mati." sindir gue.


"Bagaiman kabar Anda? Anda terlihat tidak berbeda setelah 2 tahun berlalu, Tuan Glasino." sahut Hendra.


"Andre, Hendra! namaku Andre!" ketusnya.


"Haha...Maafkan saya, anda benar-benar tidak berubah." candanya.


"Oh iya, saya lupa mengucapkan selamat atas ulang tahun anda kemarin. Tak terasa sudah 10 tahun anda berada di sini. Dulu anda masih sangat kecil dan sangat lugu." sambung Hendra.


"Hal apa lagi yang terjadi saat ulang tahun Anda? apa ada yang terkena bencana lagi karna anda?" celetuk Andre.


"Wah...wah...kalian berdua sedang mengejek ku? sepertinya aku terlalu baik kepada kalian!" ancam gue.


"Haha...kami hanya bercanda, Tuan." ucap Hendra.

__ADS_1


"Sudah lah, aku mulai terbiasa dengan candaan kalian bertiga." balas gue.


"Oh ya, Tuan. Kapan anda akan pindah ke kastil? jika anda pindah, saya juga akan pindah kesana bersama Jordan." sambung Andre.


"Aku tidak tau, aku saja belum menyelesaikan sekolah ku. Belum lagi mengurus kematian ku nanti, aku benar-benar masih ragu untuk pindah ke kastil." jawab gue.


"Anda sudah sangat lama tidak berkunjung ke Kastil, Tuan. Setelah kematian Tuan Anggara, anda benar-benar tidak pernah menginjakkan kaki anda ke kastil itu. Vernon pasti merindukan anda." sahut Hendra.


"Saya sudah bilang kepada anda, masalah memalsukan kematian anda. Saya yang akan mengurusnya, anda tinggal berdiam diri saja dan serahkan segalanya kepada saya dan Jordan." ucap Andre.


"Kita bicarakan masalah itu nanti, masih banyak waktu untuk hal itu." elak gue.


"Haah...anda selalu saja seperti itu, kalau anda memang masih ingin berakting menjadi Reyhan. Silahkan saja, tapi saya tidak bisa menjamin keamanan keluarga anda lagi. Dan lagi, anda kan sudah memutuskan sendiri. Kalau anda tidak akan melanjutkan sekolah anda setelah lulus tahun ini. Anda sendiri yang memilih untuk fokus kepada kepemimpinan anda dan pekerjaan anda nantinya." jelas Andre.


"Benar kata Andre, Tuan. Kami sudah melakukan yang terbaik untuk anda, anda harus bisa memegang keputusan anda sendiri. Jangan menjadi Pria yang plin plan seperti Hendra." sahut Jordan yang tiba-tiba muncul di depan pintu.


"Kapan kamu muncul? kenapa tidak mengetuk pintu dulu?" tanya gue.


"Maaf atas kelancangan saya, tapi perbincangan kalian bertiga terdengar sangat serius. Jadi saya langsung masuk saja, maafkan saya." jawabnya sambil menunduk.


"Dasar! cepat duduk!" perintah gue.


Jordan hanya menjawab dengan menundukkan kepalanya sekilas, lalu berjalan ke arah meja dan duduk di samping Hendra.


"Wah...sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini, hanya kurang mendiang Tuan Anggara dan Vernon saja." sambung Hendra.


"Berhenti mengungkit mendiang Tuan Anggara dan Vernon, disini hanya kita berempat saja!" tegas gue.


"Bagaiman dengan gadis itu? apa dia sudah sarapan?" tanya gue ke Jordan.


"Sudah, Tuan. Sekarang Nona dengan tertidur." jawabnya.


"Oh ya, malam ini kita akan kedatangan tamu dari Korea. Apa Andre sudah mengirim pesan kepada Pria itu?" sambung gue.


"Sudah, Tuan. Dia menerima undangan itu, kita hanya perlu mengirim pesawat kepadanya saja." jawabnya.


"Baiklah, karna tidak mungkin kita membawanya kemarkas. Jadi, sore nanti kita akan pergi ke Kastil bersama." ucap gue.


"APA!!?" teriak mereka bertiga dan menatap gue dengan saur wajah yang sangat terkejut.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2