Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Jessica Hilang!?


__ADS_3

  Kami pun sampai di markas, gue langsung melangkah masuk kedalam dengan Jordan.


  "Selamat malam, Tuan." sapa mereka sambil menunduk.


  "Malam." balas gue, lalu melangkah naik menuju kamar Jessica.


  Tapi, saat gue menerob masuk kedalam kamar gadis itu. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Jessica di dalam kamar itu.


  "Jordan!" panggil gue.


  "Ada apa, Tuan?" sahutnya.


  "Apa Dika tidak menjemput Carmelia?" tanya gue.


  "Dia selalu menjemput Nona, Tuan." jawabnya.


  "Tapi, kenapa mereka belum datang juga?!" sambung gue.


  "Mungkin mereka masih dalam perjalanan, Tuan." ucapnya.


  "Hah...hubungi Dika!!" perintah gue.


  "Baik, Tuan." jawabnya.


"Mungkin, Ia sedang dalam perjalanan menuju kemari." jawabnya.


  Gue pun melangkah menuju ranjang Jessica, lalu duduk di atas ranjang itu dengan perasaan yang penuh dengan kekhawatiran.


  Tiba-tiba saja, Jordan masuk ke kamar itu sambil memanggil nama gue.


"Ada apa?" tanya gue.


"I-itu...Dika tidak bisa menemukan Nona, Tuan!" jawabnya.


Gue yang mendengar itu, sontak berdiri lalu melangkah menghampiri Jordan.


"Apa yang kamu maksud!!?" tanya gue.


"Nona Carmelia tidak datang ketempat itu, Tuan. Dika sudah mencarinya kemana-mana, tapi sampai sekarang Ia belum menemukan Nona." jelasnya.


"Kirimkan alamat rumah gadis itu!!" perintah gue, dan langung melangkah keluar kamar.


"Apa anda akan pergi kerumah gadis itu, Tuan?" sahut Jordan sambil mengikuti gue.


"Iya!!" jawab gue.


"Tapi, Tuan...jika anda pergi kesana, orang tua Nona Carmelia akan mengetahui kalau Putrinya berurusan dengan Pemimpin Mafia." sambungnya.


Gue yang mendengar itu, sontak berhenti melangkah, lalu berbalik dan menatap Jordan.


"Itu bukan urusan ku!! kamu yang harus mengurusnya! kamu harus mencari alasan, agar orang tuanya tidak mencurigai Carmelia." ucap gue.


"Tapi, Tuan—"


"Jangan berbicara lagi!! berikan kunci mobil ku!" potong gue.


"Apa anda akan pergi sendiri? biarkan saya ikut dengan anda."


"Tidak mungkin aku pergi sendiri, untuk apa aku punya banyak bawahan jika tidak ada yang ikut bersama ku?"


"Berikan saja kunci mobil ku, dan kirimkan alamat gadis itu ke ponsel ku!!"


"Ini, Tuan." ucapnya sambil memberikan kunci mobil gue.


"Ikuti aku, dan bawa 5 orang saja!" sambung gue setelah menerima kunci mobil itu.


"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk.

__ADS_1


Gue pun langsung berbalik, dan melangkah menuju basement. Setelah sampai di basment, gue langsung masuk ke dalam mobil baru gue.


"Maaf ya mobil, gue terpaksa pakai lu." ucap gue dan langsung menyalakan mobil itu.


Ponsel gue tiba-tiba bergetar, gue langsung mengambil ponsel itu dari dalam saku jas gue, lalu memeriksa pesan yang gue terima.


"Lumayan jauh dari markas." gumam gue.


Jordan dan para bawahan gue pun datang, dan langsung menghampiri gue.


"Dengarkan aku!!" ucap gue, setelah menurunkan kaca mobil.


"Ini buka sebuah misi, kita akan bertamu ke rumah Nona kalian. Usahakan, jangan menyebut nama Carmelia. dan, jangan sampai mengeluarkan sentaja sebelum aku memberi isyarat!!" tegas gue.


"Baik, Tuan." jawab mereka.


"dan kamu, Jordan. Apa kamu sudah mendapatkan alasan yang pas untuk bertemu dengan Carmelia?" sambung gue.


"Sudah, Tuan." jawabnya.


"Baiklah, sekarang pergi ke kendaraan kalian. dan ikuti aku dari belakang!!" perintah gue.


"Baik, Tuan." jawab mereka lalu pergi.


Gue pun langsung kembali menutup jendela mobil gue, lalu menginjak gas dan pergi dari markas.


Mungkin karna gue pakai mobil Lamborghini edisi terbaru, rumah Jessica terasa sangat dekat. Padahal, pas gue liat di ponsel jarak antar markas ke rumahnya itu cukup jauh.


Setelah sampai di depan rumah Jessica, tanpa basa-basi lagi gue langsung keluar dari mobil, begitupun Jordan dan para bawahan yang lainnya.


Setelah berdiri di depan pintu rumah itu, Jordan langsung memencet bel. Sebenarnya ini cukup aneh, karna biasanya mereka langsung menerobos masuk ke dalam rumah. Tapi, sekarang kami menunggu pemilik rumah untuk membukakan pintu.


"Kenapa lama sekali?" keluh gue.


Tiba-tiba saja pintu itu terbuka, dan ada seseorang di balik pintu itu.


"Apa ini benar kediaman Tuan Hendra?" tanya Jordan.


"Benar, anda siapa, ya?" balasnya.


"Perkenalkan, saya Jordan. Sekretaris dari Tuan Marcel, sang pemimpin Mafia." jawabnya.


"Hah!? Anda Tuan Marcel Anggara?" sambungnya, sambil menatap gue dengan ekspresi terkejut.


"Iya." jawab gue santai.


"Ada urusan apa anda kesini, Tuan? tanyanya.


"Bisa kita masuk lebih dulu?" sahut Jordan.


"Hah? Mari masuk, Tuan." ucapnya sambil membuka lebar pintu rumahnya itu.


"Terima kasih." jawab Jordan.


Kami pun melangkah masuk, dan berjalan menuju sofa. Gue langsung duduk di sofa, sebelum di persilahkan duduk oleh wanita itu.


*Kebiasaan nih gue.* batin gue.


"Mari duduk, Tuan-Tuan." ucap wanita itu.


"Tidak perlu, Nyonya. Bisa anda panggilkan suami anda?" jawab Jordan.


"Bisa, tunggu sebentar." balasnya lalu pergi.


"Apa itu Ibunya Carmelia?" sambung gue.


"Iya, Tuan." jawab Jordan.

__ADS_1


"Oh...pantas saja keliatan mirip." gumam gue.


Tiba-tiba saja, ada suara teriakan yang sangat keras, seperti seseorang yang sedang di sakiti.


"Siapa itu?" tanya gue.


"Tidak tau, Tuan. Tapi, itu terdengar seperti suara seorang wanita." jawab Jordan.


"Aku tau itu!" ucap gue.


"Apa kamu harus memeriksanya, Tuan?" tanyanya.


"Tidak perlu, anggap saja kita tidak mendengar suara itu." jawab gue.


"Baik, Tuan." jawabnya.


Walaupun gue menyuruh untuk menganggap tidak mendengar suara teriakan itu. Tapi, suara teriakan itu semakin menjadi-jadi. dan lagi, suara itu terdengar sangat sengsara.


Tiba-tiba, suara itu menghilang tanpa jejak. Tidak ada lagi suara teriakan, tapi kedua orang tua Jessica sedang melangkah menuju kemari.


"Maaf karna membuat anda menunggu." ucap wanita itu.


"Tidak apa." jawab gue.


"Ada keperluan apa anda kemari, Tuan?" sambung Pria itu, yang duduk di depan gue bersama wanita itu.


"Kami dengar, anda memiliki Putri yang sangat cantik. Tuan Marcel berniat, untuk bertemu dengan putri anda itu." ucap Jordan.


Saat mendengar ucapan Jordan, kedua pasangan itu sontak saling menatap satu sama lain.


*Mencurigakan.* batin gue.


"Ada apa? apa Putri kalian tidak ada dirumah?" sambung gue.


"I-iya, Tuan. Di-dia masih belum pulang mulai tadi." jawab Wanita itu ragu.


"Oh ya? padahal saya ingin meminjam putri anda untuk malam ini, saya akan membayar 100 miliyar kepada anda." ucap gue sambil menyeringai.


"Se-seratus miliyar?" sahut Pria itu.


"Kenapa? apa itu kurang?" tanya gue.


"Ti-tidak, Tuan. Ta-tapi, Putri kami tidak ada di ru—"


Belum selesai wanita itu menjawab pertanyaan gue, Suaminya malah sontak memegang pinggang wanita itu sambil menatapnya.


*Benar-benar mencurigakan.* batin gue.


"Putri kami ada di rumah, Tuan. Saya lupa, jika dia sudah berada di kamarnya. Apa perlu saya memanggilnya, Tuan?" sahut Wanita itu.


*Kok gue kayak lagi di permainin, ya.* batin gue.


"Panggilkan dia kesini." ucap gue.


"Apa anda bisa memberikan kami uang itu lebih dulu? baru kami akan memanggil Putri kami." sambungnya.


"Jordan!!" panggil gue.


"Mohon tunggu sebentar, Tuan." jawabnya.


Jordan pun langsung memberikan gue cek, yang sudah tertulis jumlah uang yang gue katakan sebelumnya. Gue pun langsung menandatangi cek itu, lalu melemparkan cek itu ke atas meja.


"Panggilkan dia, sekarang!!" perintah gue.


"Baik, Tuan." jawab Wanita itu setelah suaminya mengambil cek itu dengan cepat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2