
Setelah kejadian yang gila di malam itu, gue mulai waspada dengan Marcel. Apapun itu, kalau Marcel tiba-tiba bersikap baik ke gue. Bukannya senang, gue malah takut dan mulai mencari alasan agar bisa menjauh darinya.
Tapi, sejauh apapun gue pergi. Marcel tetap bakal selalu ada di sebelah gue, kecuali disaat kami sedang di sekolah. Hanya itu kesempatan gue biar bisa menjauh darinya.
Tapi ada hal baru yang bikin gue sedikit muak dengan Marcel. Dia menyuruh beberapa bawahannya untuk mengawasi gue selama berada di luar markas dan di luar pengawasannya sendiri.
Sebenarnya kalau di awasi dari jauh, gue gak bakal risih apalagi marah. Tapi, sialnya. Marcel malah menyuruh Dika untuk mengawasi gue dari dekat, sedangkan bawahan lainnya memantau dengan jarak 10 meter dari gue.
dan lebih parahnya lagi, apa yang gue lakuin semunya di laporin ke Marcel. Awalnya gue gak tau kalau mereka memberi laporan ke Marcel, tapi gue merasa aneh.
Apapun yang gue lakuin, Marcel mengetahui segalanya. Awalnya gue kira itu cuma kebetulan, tapi semakin lama, semakin terasa aneh.
Untung saja Dika tipe orang yang kalau di tanya pasti langsung di jawab, dan dari situ gue tau kalau mereka memang melaporkan segala kegiatan gue.
Saat tau kebenarannya, gue sempat marah besar. Sampai-sampai tidak seorang pun dari mereka yang gu tergur, termaksud Marcel Si biang keroknya.
Tapi amarah gue gak bertahan lama, karna Marcel yang berhasil membujuk gue dengan berjanji akan menuruti segala perkataan gue. dan hal itu sudah berlangsung selama 3 hari setelah satu bulan dari malam yang gila itu.
Malam ini gue punya satu permintaan yang sudah cukup lama tidak pernah gue dapatkan.
Gue yang sekarang sedang menuju markas bersama Dika. Dika itu sudah seperti Jordan, yang mengikuti semua perintah gue dan selalu ikut kemanapun gue pergi.
Tapi, tetap Marcel lah yang sangat Ia patuhi. Sangking patuhnya, gue sampai ngira kalau dia kayak hewan peliharaan.
Akhirnya kami pun sampai di Markas, gue pun langsung melangkah keluar dari mobil dan berjalan menuju kamar gue.
Saat sampai di kamar gue, ternyata sudah ada Marcel yang sedang berbaring di atas ranjang gue. Gue pun langsung menghampirinya.
"Apa dia tidur?" gumam gue sambil menatapnya.
"Kenapa kalau gue tidur?" sahut Marcel yang tiba-tiba membuka matanya dan menatap gue dengan mata tajamnya itu.
"Lu bikin gue kaget!" protes gue.
"Suka banget ngalihin topik, padahal tadi mau ambil kesempatan pas gue tidur." sindirnya sambil bangun dari posisi tidurnya.
"Bukan ngalihin topik, bego! gue beneran kaget? salah mulu gue di mata lu!!" kesal gue.
__ADS_1
"Serah lu, dah! sini duduk." sambungnya.
"Serah mulu, dasar!" geurutu gue sambil duduk di sampingnya.
MARCEL POV*
Setelah gadis itu duduk, gue langsung meletakkan kepala gue di pundaknya, lalu bertanya. "Kali ini, apalagi permintaan lu?"
"Hm...permintaan kali ini cukup aneh, gak papa kan?" ucapnya.
"Memang kenapa sama permintaan lu? aneh apanya? lu minta mobil? rumah? Uang? pakian? perhiasan? atau apa?" tanya gue.
"Hm...gue mau makan malam di tempat makan yang ada di pinggir jalan." jawabnya.
"Hah!? makan malam di pinggir jalan? ngapain? lidah lu mati rasa sama makanan mahal, ya?" sambung gue bingung.
"Ya enggak, lah! dari kecil, gue sama kakak gue pingin banget makan di pinggir jalan. Kita ngeliat orang-orang makan di tempat itu, rasanya kayak bahagia aja. Jadi, gue berharap bisa makan bareng lu, karna kakak gue udah gak ada di Dunia ini." jelasnya sambil tersenyum kecil.
"Hah... permintaan lu tambah hari, tambah gak jelas. Bikin gue kewalahan aja." protes gue.
"Ayolah...gue mohon..." pintanya.
"Sekarang siap-siap dulu, gue bakal bilang sama Jordan." lanjut gue lalu melangkah menuju pintu kamarnya.
"Makasih!!" teriaknya.
"Terserah lu..." gumam gue dan langsung keluar dari kamar itu.
"Jordan!" panggil gue setelah keluar dari kamar Jessica.
"Saya disini, Tuan." sahutnya dari belakang gue.
Gue langsung berbalik dan bertanya. "Apa kamu tau tempat makan yang ada di pinggir jalan?"
"Saya tau, Tuan. Tapi kenapa? Anda kan tidak boleh makan di sembrang tempat, Tuan. Banyak pembunuh yang bisa saja menyamar untuk meracuni anda." ocehnya.
"Ya, aku juga tau itu. Tapi Nona kalian memiliki permintaan yang sangat aneh malam ini." ucap gue.
__ADS_1
"Permintaan apa itu, Tuan?" tanya.
"Dia ingin makan malam di tempat yang ada di pinggir jalan." jawab gue.
"Tapi, Tuan. Itu cukup berbahaya untuk anda, dan lagi...dokter pribadi anda berpesan untuk menjaga makanan yang Anda makan setiap hari. Anda harus memakan makanan yang sudah terjamin aman untuk anda." ocehnya lagi.
"Hah...aku tau itu, Jordan. Dari pada terus mengoceh, lebih baik kamu pergi dan cari tempat makan yang ada di pinggir jalan itu. Lakukan pemeriksaan dengan semua bahan makanannya, dan perintahkan beberapa bawahan untuk menjaga tepat itu!" perintah gue.
"Baiklah, Tuan." jawabnya sambil menunduk.
"Pergilah!" ucap Gue.
Jordan hanya membalas ucapan gue dengan menundukkan kepalanya sekali lagi, lalu berbalik dan pergi dari hadapan gue.
Gue bener-bener gak habis pikir sama permintaan Jessica malam ini, gue pikir para gadis sepertinya akan meminta hal-hal luar biasa yang bisa menghabiskan uang para Pria.
Tapi gadis itu? Ia meminta hal di luar dugaan gue. Permintaan pertamanya, dia meminta agar gue membawanya pergi ketaman. Permintaan kedua, dia meminta untuk menginap di hotel yang ada di dekat pantai. Permintaan ketiga, dia meminta beberapa potong gue dengan jenis yang berbeda-beda.
dan sekarang? dia malah meminta makan di tempat yang ada di pinggir jalan. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu, tapi gue rasa yang dia minta adalah hal yang memang Ia inginkan dari awal.
Dari pada memikirkan permintaan gadis itu, gue lebih memilih untuk kembali ke kamarnya.
"Loh? kenapa masuk lagi? gue baru aja mau keluar." ucap Jessica.
"Perginya nanti." jawab gue yang berjalan kearah ranjangnya, lalu melemparkan tubuh gue ke atas ranjang itu.
"Kenapa? apa ada masalah?" tanyanya.
"Gak ada." jawab gue
"Terus kenapa lu tiba-tiba gak bersemangat gitu?" sambungnya yang ternyata berdiri di samping ranjang.
Gue langsung membalik tubuh gue, lalu menatapnya dan berkata. "Gak ada masalah...kita perginya tunggu Jordan datang aja."
"Loh? emang kenapa? kita gak bisa pergi berdua aja, ya?" sahutnya.
Gue yang mendengar itu, tiba-tiba merasa jengkel kepada gadis itu.
__ADS_1
Bersambung