
Saat di dalam pabrik itu, tiba-tiba saja semua lampu menyala. Dan yang lebih membuat gue terkejut adalah, para mayat yang berserakan di lantai dan ada beberapa orang yang terikat di depan gue.
"Wah...aku takjub dengan pekerjaan kalian yang sangat cepat ini." ucap Andre.
"Keluar lah!!" teriak Jordan.
Setelah Jordan berteriak, para bawahan gue tiba-tiba datang dan ada beberapa dari mereka yang menyandera seseorang di tangan mereka.
"Apa kami tepat waktu, Tuan?" tanya salah satu dari mereka.
"Kalian sangat~ tepat waktu. Karna pekerjaan kalian sangat baik, malam ini kita akan mengadakan pesta di kastil." jawab Andre.
"Terimakasih, Tuan." ucap mereka bersama.
Mulai tadi, gue melihat kesekeliling untuk mencari Jessica. Tapi, tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu.
"Apa anda mencari Nona, Tuan?" sahut Dika dari arah kiri gue.
Gue langsung menengok kearah suara itu, dan ternyata Dika sedang bersama Jessica dan ada kepala seseorang di tangan kirinya.
"Jessica!?" ucap gue dan langsung berlari kearah Dika, lalu memeluk gadis itu dengan erat.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya gue ke Dika.
"Sepertinya Nona hanya pingsan saja, dan pergelangan tangan Nona terluka karna di ikat dengan kuat. Tapi, orang-orang ini menjaga Nona dengan baik." jawabnya sambil melempar kepala yang ada di tangannya itu ke lantai.
"Kepala siapa itu?" sahut Andre.
"Kepala Pria yang mengikat tangan Nona, saya hnya sedikit kesal dengan wajah ketusnya itu." jawab Dika santai.
"Lalu, dimana kepala keluarga Erland? apa kalian sudah tau siapa saja di balik penculikan ini?" sambung Jordan.
"Dan, siapa yang berniat untuk membunuh Tuan?" tanya Vernon.
"Kepala keluarga Erland tidak ada disini, mungkin mereka sedang bersenang-senang dirumah." jawabnya.
"Dan tentu saja kami sudah mendapatkan seseorang yang akan menjelaskan pertanyaan anda." lanjutnya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja salah satu dari Pria yang disandera itu, di paksa berlutut di hadapan kami berempat. Karna Jessica yang belum sadarkan diri, gue akhirnya mengendongnya dan berdiri di samping Andre.
"Siapa nama mu?" tanya gue.
"Z-Zhero." jawabnya.
"Siapa yang menyuruh mu untuk menyulik Gadis ini? dan berniat untuk membunuh ku? Jelaskan beserta dengan alasannya!!" tegas gue.
"A-ada dua Pria yang mendatangi ku, tapi hanya satu saja yang saya kenali, dia Tuan Erland Ketua Menteri. Saya tidak mengenali Pria yang satunya karna wajahnya di tutupi dengan kain. Tuan Erland hanya menyuruh untuk menyulik gadis itu saja, karna Ia ingin mengancam anda menggunakan gadis itu. Dan Tuan yang satu lagi, menyuruh saya untuk membunuh anda, dengan alasan untuk membalas dendam Putrinya." jelas Pria itu.
"Putrinya? apa jangan-jangan Pria itu adalah Tuan Dermi?" duga Jordan.
"Tuan Dermi? mana mungkin! untuk apa dia membunuh Tuan? Ia tau sendiri hukuman dari rencana pembunuhan seperti ini!! dan lagi, dendam apa yang Angel punya kepada Tuan!?" elak Andre.
"Benar, Tuan Dermi juga sangat menghargai Tuan Anggara." sambung Vernon.
"Belum tentu yang terlihat baik di luar, di dalamnya pun sama baiknya. Dermi memang menghargai Tuan Anggara sebelumnya, tapi tidak dengan Tuan Anggara yang sekarang." sahut Gue.
"Tuan Marcel benar, ada masalah besar yang pernah terjadi sebelum anda kembali. Akan saya jelaskan setelah masalah ini selesai." lanjur Jordan.
"Apa kamu memiliki nomor Pria yang menyuruh mu itu?" tanya lagi kepada Zhero.
"Beritahu aku, dimana mereka!" ucap gue.
"Kediaman keluarga Erland, mereka sekarang sedang bersama untuk menunggu kami, untuk membawa gadis itu kehadapan mereka dan kabar mengenai anda yang berhasil terbunuh. Walaupun kami tau sangat mustahil untuk membunuh anda, tapi mereka tetap mengharapkan keberhasilan kami itu." jelasnya.
"Sangat konyol!! Sudah tau mustahil, tapi kenapa kalian masih melakukannya!? Dan lagi, berapa harga yang mereka bayar kepada kalian? kenapa sangat banyak penjaga di luar dan di dalam pabrik ini!!?" celetuk Andre.
"Vernon!" panggil gue.
"Ada apa, Tuan?" tanyanya.
"Kembali lah ke Kastil, dan bawa gadis ini ikut bersama mu. Rawat dia dan panggil Hendra untuk memeriksa keadaannya." perintah gue.
"Baik, Tuan." jawabnya dan langsung melangkah ke depan gue.
Gue pun memberikan Jessica kepada Vernon dan membiarkannya membawa gadis itu pergi dari tempat ini.
__ADS_1
Mulai tadi, pikiran gue hanya di penuhi dengan Jessica dan keselamatannya. Gue sampai lupa dengan jati diri gue yang sekarang. Tapi, setelah Jordan menduga bahwa Kepala keluarga Dermi di balik semua ini. Diri gue yang haus akan kematian dan juga penderitaan seseorang tiba-tiba bangkit.
"Dengarkan aku baik-baik! ikut dengan kami dan masuk ke dalam kediaman keluarga Erland, lalu beritahu kepada mereka bahwa Pemimpin Mafia berhasil di bunuh dan gadis itu sedang menuju ke sana!" tegas gue.
"Ta-tapi, Tuan—"
"Biarkan mereka bersenang-senang lebih dulu, aku ingin melihat wajah bahagia mereka sebelum kematian menjemput mereka!" potong gue.
Gue sontak mengambil pistol milik Jordan dan melemparkannya kehadapan pria itu, lalu berkata. "Setelah mereka mendapatkan informasi dari mu, mereka pasti akan langsung membunuh mu. Tapi, sebelum mereka membunuh mu. Izinkan diri mu untuk membunuh dirimu sendiri. Itu akan menjadi lebih baik daripada kamu di bunuh oleh mereka."
"Ta-tapi, jika saya membunuh diri saya sendiri. Lalu bagaimana dengan Putra saya? dia hanya memiliki saya, dan lagi...tidak akan ada yang membiayai hidupnya." sambungnya.
"Berapa usia Putra mu?" tanya gue.
"Du-dua puluh tahun." jawabnya.
"Dia akan menjadi salah satu bawahan ku, aku akan menjamin kehidupannya seperti seseorang yang disana." ucap gue sambil menunjuk Dika.
"Dia akan mendapatkan tempat tinggal di apartemen milikku, bersama dengan bawahn ku yang lain. Kendaraan yang bisa dia beli sendiri menggunakan uang yang Ia dapatkan dari ku, dan bersekolah bersama dengan Pria itu. Tapi, nyawanya adalah milik ku, sama seperti Pria lainnya yang ada disini." lanjut gue.
"Dimana kamu berkuliah dan bagaimana cara mu membagi waktu?" tanya Pria itu kepada Dika.
"Saya berkuliah di Harvard University, saya mengambil kuliah jarak jauh. Saya belajar setiap pagi sampai siang saja, dan sore sampai malam saya berkumpul dengan anggota mafia lainnya." jawab Dika.
"Bagaimana? apa kamu menerima tawaran ku?" sambung gue.
"Saya tidak tau apa Putra saya menerima keputusan saya, tapi saya percaya anda akan menepati perkataan anda." ucapnya.
"Jadi, saya menerima tawaran anda. Saya bersedia bekerjasama dengan anda." lanjutnya.
"Baiklah, lepaskan dia!" perintah gue, dan kedua Pria yang memegangi Zhero langsung melepaskannya.
Pria itu pun langsung mengambil pistol yang ada di hadapannya, lalu berdiri sambil membersihkan pakaiannya.
"Ayo! kita harus pergi sekarang!" ucap gue dan langsung berbalik, lalu melangkah keluar dari pabrik itu.
Karna tidak mungkin untuk menyuruh Pria itu naik di mobil yang sama dengan gue, akhirny gue menyuruh Mark untuk mengantarnya sampai ke kediaman keluarga Erland dan membiarkannya menjalankan tugas yang sudah gue berikan.
__ADS_1
BERSAMBUNG