Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Terbangun


__ADS_3

MARCEL POV*


Gue akhirnya membuka mata gue setelah beristirahat yang cukup panjang. Terasa cukup aneh, Hendra berkata aku hanya akan tidur selama 8 jam. Tapi terasa sangat lama, seperti habis tertidur beberapa hari.


Saat membuka mata pun, mata gue terasa sangat berat, dan tubuh gue terasa sangat ringan, tapi sedikit kaku untuk di gerakan.


Gue yang baru membuka mata, sudah melihat keempat Pria itu dan ada satu Wanita di samping mereka. Karna sudah cukup lama tidak duduk, gue pun berusaha untuk membangunkan tubuh gue.


Tapi tiba-tiba saja Jordan dan Hendra sontak menunduk dan menolong gue untuk bangun, bukan hanya itu. Mereka meletakkan bantal tepat di belakang gue, dan menyandarkan punggung gue di bantal itu.


"Apa anda baik-baik saja? apa ada yang tidak nyaman ditubuh anda? apa penglihatan anda baik-baik saja? apa tubuh anda terasa kaku? apa ada–"


"Hei, hei! bertanyalah pelan-pelan, kenapa kamu terlihat sangat khawatir seperti itu?" potong gue.


"Maaf, Tuan. Saya hanya mengawatirkan anda." jawab Hendra sambil menunduk.


"Sudah lah..." balas gue.


"Oh ya, kapan kamu datang? aku pikir akan memakan waktu yang sangat lama untuk membujuk mu datang." tanya gue ke Wanita itu.


"Selamat Malam, Tuan Anggara." sapanya sambil membungkuk sekilas.


"Senang bisa bertemu dengan anda lagi." lanjutnya.


"Senang juga bisa bertemu dengan mu lagi, Nella." balas gue.


*kayaknya ada yang salah deh? tapi apa ya?* batin gue saat mendengar sapaan Agnella.


"Anda masih saja memanggil saya dengan nama itu, padahal saya lebih Tua dari pada anda." keluhnya.


"Kita hanya beda 10 tahun saja, dan lagi aku lebih nyaman dengan panggilan itu. Panggilan itu juga membuatnya terlihat lebih muda, haha..." canda gue.

__ADS_1


Saat gue tertawa kecil, gue sontak teringat dengan ucapan Nella tadi. Gue yang tadinya bersandar, langsung menenggakan tubuh gue dan berteriak. "Malam!!? apa ini sudah malam!!?" sambil menatap mereka dengan mata ynag membulat besar.


"Ya, Tuan. Ini sudah malam, lebih tepatnya sudah pukul 10 malam." jawab Nella dengan santai.


"Hei!! kenapa kamu menjawab!? buat mulut mu itu diam!!" kesal Andre.


"Apa salahnya aku menjawab? Tuan bertanya, sangat tidak sopan jika tidak di jawab. Benarkan Jordan?" balas Nella.


"Kamu benar-benar—!!"


"Ayolah!! jangan bertengkar!" potong gue.


"Kenapa ini bisa malam!? berapa lama aku tertidur? bukannya efek obatnya hanya bertahan selama delapan jam saja? seharusnya aku terbangun di pagi hari, bukannya malah malam hari!!" geram gue.


"Sebelum itu saya benar-benar meminta maaf kepada anda, saya memberikan obat tidur yang bertahan selama 24 jam. Bukan untuk membuat anda diam ataupun mengurung anda dengan cara yang buruk ini, tapi kami ingin melihat anda tertidur dengan pulas dan membiarkan Anda beristirahat dengan nyaman." jelas Hendra.


Mendengar itu, gue benar-benar gak habis pikir dengan pola pikir mereka. Membuatku tertidur dengan paksa, dan gue lagi-lagi meninggalkan waktu sekolah gue.


"Lalu kenapa kalian mengikuti perkataan Andre!!? membuatku tertidur selama 24 jam itu tindakan yang sangat gila!! tidur yang normal saja 8 jam, itupun sudah sangat cukup untuk ku!! dan lagi, bagaimana jika tiba-tiba ada pemberontakan atau kejadian yang tidak mengenakkan lainnya, dan aku masih tertidur seperti ini, apa yang akan kalian lakukan!!? malawan tanpa perintah!!?" geram gue, dan membuat mereka berempat sontak menunduk, kecuali Nella.


"Dari pada anda marah, akan lebih baik anda makan malam terlebih dulu. Anda belum ada makan dari kemarin." celetuk Nella, lalu mengambil nampan makanan dan meletakkannya di hadapan gue dengan meja kecil di bawahnya.


"Makanlah dulu, setelah itu saya tidak akan menghentikan anda untuk menghukum mereka berempat." ucapnya.


"Haah...baiklah. Jangan pergi kemana-mana, tetap disini sampai aku selesai makan!!" tegas gue.


"Baik, Tuan." jawab mereka bersama.


Gue pun mulai menyantap makan malam gue dengan santai, dan sesekali menatap mereka berempat yang masih menundukan kepala mereka.


Setelah gue menghabiskan semua makanan yang di sajikan, gue pun mendorong meja itu menjauh dari gue, lalu menurunkan kaki gue ke lantai.

__ADS_1


"Apa kalian sudah menyiapkan segalanya untuk penyampbutan ketiga Keluarga itu? dan kamar mereka, apa kalian sudah menyiapkannya?" tanya gue.


"Sudah, Tuan. Say sudah menyuruh para pelayan untuk menyiapkan kamar untuk ketiga Keluarga itu, dan penyambutannya sudah selesai sore tadi. Jadi, pagi nanti kita hanya tinggal menunggu mereka di depan kastil." jelas Vernon.


"Baiklah...karna kalian sudah menipu ku, aku memilih kalian berempat untuk penyambutan besok. Aku dan Nella akan menunggu di ruang tamu saja." ucap gue.


"Baik, Tuan." jawab mereka.


"Bagaimana dengan mu? apa kamu akan tinggal disini lagi? atau kamu hanya akan tinggal sampai kamu selesai melatih gadis itu?" tanya gue ke Nella.


"Tidak tau, saya masih memikirkan hal itu. Ada sesuatu yang harus saya pikirkan dengan baik." jawab Nella.


"Hm...baiklah. Jangan lupa untuk memberitahu ku keputusan mu itu, aku akan menyetujui apapun yang kamu putuskan." balas gue sambil berdiri.


"Terimakasih, Tuan." jawabnya.


"Yasudah, kalian bisa kembali ke kamar kalian. Aku ingin bersantai sekarang." ucap gue sambil melangkah kearah kursi yang ada di dekat jendela.


"Apa kami tidak bisa menemani anda?" sahut Jordan.


"Tdak perlu, aku hanya ingin menghirup udara segar saja. Jika aku butuh sesuatu, aku akan memanggil kalian." jawab gue.


"Baiklah, kalau begitu kami izin undur diri. Selamat malam, Tuan." ucap Jordan.


"Malam." balas gue, lalu duduk di kursi sambil menghadap ke jendela.


Mereka berlima pun keluar dari kamar gue, dan sekarang hanya tinggal gue di kamar yang cukup gelap dan dingin.


Menatap ke langit, memerhatikan para bintang dan bulan sabit, dan menghirup udara segar di malam hari. Istirahat yang terasa sangat panjang, dan cukup memuaskan bagi ku.


Tapi tidak untuk pagi nanti, mungkin kehidupan gue yang sangat tidak beraturan akan kembali saat matahari mulai terbit.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2