
Akhirnya Hendra tiba, gue langsung menyuruhnya untuk memeriksa Jessica. Tapi, Pria itu tiba-tiba ingin membuka selimut yang menutupi tubuh Jessica.
Gue sontak menggenggam tangannya yang memegang selimut itu, dan menatap Hendra dengan sangat tajam.
"Ada apa, Tuan? kenapa anda menggenggam tangan saya?" tanyanya.
"Jangan membuka selimutnya!" tegas gue.
"Tapi, saya ingin memeriksa Nona." ucapnya.
"Lakukan tanpa membuka selimutnya!" sambung gue.
"Hah...baiklah, Tuan." jawabnya dan langsung menarik tangannya sendiri, lalu mulai memeriksa Jessica.
"Tuan, apa anda tidak kedinginan?" sambung Jordan yang berdiri di samping gue.
"Tidak!" jawab gue sambil melipat kedua tangan gue di depan dada.
"Tapi tubuh anda bergetar dan wajah anda terlihat sangat pucat." balasnya.
"Aku tidak apa, tidak usah memerdulikan ku." ucap gue.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Hendra selesai memerika Jessica.
"Bagaimana keadaannya?" tanya gue.
"Nona baik-baik saja, Tuan. Saya sudah menyuntiknya obat agar dia tidak terkena demam. Efek obat sebelumnya sudah hilang dari tubuhnya, Nona hanya butuh istirahat saja dan juga butuh kehangatan karna terlalu lama berendam di air dingin." jelasnya.
"Haah...syukurlah." ucap gue.
"Kamu boleh pergi, terimakasih sudah datang." lanjut gue.
"Hah!? Anda bilang apa tadi?" sahutnya yang menatap gue dengan wajah yang terkejut.
"Tidak ada, cepat pergi!" ketus gue.
"Haah...gak asik! Padahal itu harus di abadikan, saya belum sempat merekamnya." gerutunya.
"Tidak ada rekaman ulang! cepat sana!" balas gue.
__ADS_1
"Baiklah, saya izin undur diri." ucapny sambil menunduk lalu melangkah pergi.
"Jordan!" panggil gue.
"Ada apa, Tuan?" sahutnya.
"Ada yang harus kita bicarakan mengenai Bryan." ucap gue.
"Anda harus ganti baju dulu, Tuan. Setelah itu baru kita akan bicara." sambungnya.
"Oke, oke! Dimana baju ku?" tanya gue.
"Ada di atas meja, Tuan." jawabnya.
"Yasudah, tunggu aku diluar. Kita akan bicara di ruang pertemuan saja."
"Baik, Tuan." jawab ya sambil menunduk llu melangkah keluar dari ruangan gue.
Gue pun langsung mengganti pakaian gue yang masa, termaksud sepatu gue yang di dalamnya di penuhi dengan air.
Sebelum gue keluar untuk menemui Jordan, gue memilih untuk menghampiri Jessica dan duduk tepat di sampingnya.
*Apa yang sudah Bryan lakuin ke lu? apa dia nyentuh lu? apa dia sudah melihat tubuh lu?* batin gue sambil mengelus kepalanya dengan lembut.
Gue pun berdiri dan melangkah keluar dari ruangan itu, menuju keruang pertemuan yang berada di lantai dua, tak jauh dari ruangan gue.
Saat sampai di ruangan itu, gue melihat Jordan yang sedang mnerima telpon. Gue pikir telpon itu penting, makanya gue membiarkannya saja dan langsung duduk di kursi gue.
"Haah..." hela nafas gue sambil menyandarkan punggung gue disandarkan kursi dan memutar-mutar kursi gue.
"Apa Tuan ingin kopi?" tawar Jordan sambil meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi terbalik.
"Tidak! siapa yang menelpon? kenapa wajah mu terlihat bahagia?" tanya gue.
"Itu, Tuan. Andre sudah menyelesaikan tugasnya, Ia sekarang sedang dalam penerbangan kemari." jawabnya.
"Serius!?" sahut gue dan langsung menenggakan tubuh gue.
"Iya, Tuan. Setelah 2 tahun kepergiannya, Ia akhirnya kembali dengan membawa kabar baik. Dia benar-benar menyelesaikan tugasnya dalam waktu sesingkat ini, padahal anda memberikannya cuti selama 1 tahun jika Ia berhasil menyelesaikan tugas itu. Tapi Ia memilih untuk kembali dan ingin kembali berkumpul bersama kita." jelasnya.
__ADS_1
"Aku kira Ia akan pergi selama 5 tahun, bagaimana bisa dia menyelesaikan tugas itu dengan sangat cepat? Dia benar-benar pengacara terbaik ku." ucap gue.
"Dan lebih baiknya lagi, dia telah berhasil menemui semua pemimpin mafia yang ada di Negara lainnya. Dia berkata, bahwa anda akan menjadi pemimpin mafia tertinggi di Dunia ini jika anda sudah berumur 20 tahun." sambungnya.
"Ya...itulah keinginan Tuan Anggara sebelum Ia pergi. Harapan agar keluarga Anggara berada pada tingkatan paling atas, dan tidak bisa di kalahkan oleh siapapun. Tapi sayang, beliau udah pergi dan tidak akan kembali lagi."
"Jika bukan anda yang memimpin, mungkin keluarga Anggara tidak akan berada pada tingkatan tertinggi dan tetap berada pada tingkatan kelima dari keluarga lainnya."
"Haah...sudah lah, sekarang kita harus membahas Putra dari keluarga Erland."
"Apa yang akan anda lakukan kepada bocah itu? Jika anda ingin membunuhnya, anda tidak perlu langsung turun tangan. Berikan perintah kepada Mark saja."
"Tidak, jangan langsung membunuhnya. Akan lebih baik jika keluarganya juga hancur, bukan hanya Putranya saja." ucap gue sambil menyeringai.
"Karna Andre akan kembali, jadi tugas mengenai politik biarkan dia yang menyelesaikannya." lanjut gue.
"Tapi, Tuan. Anda tau sendiri jika Andre yang bertindak, Ia bisa saja menghancurkan semua orang yang bersangkutan dengan keluarga Erland. Walaupun dia pengacara yang sangat terikat dengan hukum, tapi kalau mengenai anda. Ia bisa melupakan hukum negara ini dan juga pekerjaannya. Ia lebih berbahaya dari seluruh bawahan pribadi anda." sambungnya.
"Itulah yang kuinginkan. Hanya kehancuran keluarga saja, masih belum cukup untuk membalas perbuatan Putra mereka kepada wanita ku. Berani sekali dia menyentuh Calon pemimpin wanita, Dia benar-benar gila!!!" geram gue.
"Ah! saya lupa mengenai Nona. Apa anda akan menikahinya tahun depan? bertepatan dengan kenaikan kepemimpinan anda." sahutnya.
"Hm... tidak tau kapan aku akan menikahinya. Kamu tau kan, pemimpin wanita harus di latih terlebih dulu. Ia harus memiliki keahlian dalam menembak ataupun berkelahi. Tubuh yang harus kuat dan hati yang keras, Ia tidak boleh merasa kasian kepada siapapun." jawab gue.
"Saya tau siapa yang bisa mengajarinya. Bertembak, berkelahi, dan juga mengatur perasaan sendiri. Nona akan segera mendapatkan pelatihan itu." sambungnya.
"Apa maksud mu wanita itu? bukannya dia sudah berhenti dari pekerjaan itu, setelah Nyonya Anggara pergi?" tanya gue.
"Saya bisa membujuknya lagi. Walaupun sulit, saya akan berusaha untuk membawanya kembali." jawabnya.
"Baiklah, lakukan apapun yang menurut mu benar." ucap gue.
"Oh ya, belikan mobil terbaik dan kirimkan kerumah orang tua Jessica. Bilang saja, itu bayaran dari Putrinya yang sudah bekerja dengan baik. Biar orang tua itu menyerahkan Putrinya kepada ku dengan bayaran saja. Jadi, itu akan lebih mudah untuk memalsukan kematiannya nanti." lanjut gue.
"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan surat kematian itu, bersama dengan kematian anda nanti. Saya juga sudah menemukan mayat pengganti untuk anda, hanya perlu mencari mayat pengganti untuk Nona." jawabnya.
"Baiklah, kita akhiri perbincangan ini. Aku akan kembali ke ruangan ku." sambung gue lalu berdiri, begitupun Jordan.
"Mari saya antar." balasnya sambil menunduk.
__ADS_1
Gue pun melangkah keluar dari ruangan itu menuju ruangan gue dan diikut Jordan dari belakang gue.
BERSAMBUNG