
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanyanya.
"Menunduk!" perintah gue.
Jordan pun langsung membungkuk tubuhnya, gue pun mendekatkan wajah gue ke telinga Jordan, lalu berbisik. "Bawa Nona kalian keluar dari kamar ini, dan jika dia bertanya ternyata luka di lengan ku, katakan saja itu luka goresan saat berlari."
"Baik, Tuan." jawabnya, lalu menenggakan tubuhnya kembali.
"Cepat!" ucap gue pelan.
Pria itu pun mulai bergerak kearah Jessica, lalu berkata. "Nona, mari saya antar ke kamar anda."
"Tidak! saya ingin di sini, saja." tolaknya.
"Maaf, Nona. Tuan sedang sibuk, mari Nona." sambung Jordan.
"Tapi—"
"Mari saya antara, Nona." potong Jordan.
"Hah...baiklah." jawab Jessica, lalu berdiri dan melangkah pergi bersama Jordan.
"Akhirnya..." gumam gue.
Gue langsung menatap Pria yang ada di hadapan ku, lalu berkata. "Duduk."
Saat Pria itu duduk dan mengeluarkan peralatan, gue lebih memilih untuk menuangkan whiskey kedalam gelas gue. Tapi, saat gue ingin meminum whiskey itu, tiba-tiba saja Pria itu berkata. "Anda masih saja keras kepala."
"Apa maksud mu?" tanya gue.
"Alkohol itu, apa anda akan menghabiskan 3 botol sekaligus? tanyanya.
"Kenapa? apa ada masalah? apa kamu akan memarahi ku lagi dan lagi?" sambung gue, lalu meminum whiskey itu.
"Saya sudah melayani anda lebih dari 5 tahun, tapi anda masih saja mengabaikan ucapan saya. Apa anda lupa dengan pesan Tuan Anggara sebelumnya?" ucapnya, dan mulai mengobati luka gue.
"Ya...aku selalu ingat pesan terakhir itu." jawab gue.
"Tapi kenapa anda bersikap seolah-olah Anda tidak mengingat pesan itu?" tanyanya.
"Coba kamu pikirkan...Tuan Anggara bilang, aku harus bersikap sesuai dengan umur ku. Alkohol di batasi, sex di batasi, dan juga kekejaman ku harus sedikit di kurangi. Apa itu wajar untuk ku yang memiliki sebutan pemimpin Mafia? dan lagi, aku yang kejam ini di latih olehnya dari umur ku yang masih tidak layak untuk di latih menjadi seorang Mafia." jelas gue.
"Bukannya kamu tau tentang masalah mental ku sebelumnya? aku yang dulunya selalu menjadi bahan Bullyan, aku selalu di pukul oleh orang yang lebih tua dari ku di sekolah, dan parahnya orang tua ku tidak tau tentang itu. Aku mengkonsumsi alkohol, melakukan sex, dan juga selalu membunuh orang hanya untuk membuat diri ku lupa tentang itu." timpal gue.
"Saya mengingat itu, Tuan. Tapi, ucapan Tuan Anggara itu benar. Anda juga pasti memiliki keinginan seperti remaja-remaja lainnya, yang ingin—"
"Tidak! aku tidak menginginkannya, aku hanya ingin kekuasaan yang bisa membuat orang bertekuk lutut dihadapan ku. Harta dan wanita hanya sebagai permainan saja, uang yang tidak bisa terhitung lagi jumlahnya, dan wanita yang selalu ku pakai seperti baju yang bisa ku buang kapan pun jika ku mau. Itu hanya kesenangan kecil bagi ku." potong gue.
__ADS_1
"Jadi, berhentilah menyuruhku untuk membatasi diri dengan alkohol. Berikan saja obat ku di setiap bulannya, dan lakukan tugas mu dengan baik." timpal gue.
"Baik, Tuan. Maaf atas kelancangan saya." jawabnya.
"Anggap saja itu sebagai peringatan untuk mu. Sekarang, selesai tugas mu ini " ucap gue, lalu kembali meminum whiskey itu.
"Tuan, apa saya boleh bertanya?" sahutnya.
"Hm..." dehem gue.
"Bagaimana anda bis terluka? bukannya semua jas anda di rancang khusus agar anda tidak bisa terluka sedikitpun, mau itu peluru ataupun benda tajam lainnya." tanyanya.
"Aku lupa menggunakan Jas ku kembali, karna terlalu mendadak aku hanya bisa menyelamatkan gadis itu saja." jawab gue santai.
"Maksud anda Nona Carmelia?" tanyanya.
"Iya, kenapa?" tanya gue balik.
"Tapi kenapa, Tuan? bukannya anda sekalipun tidak pernah berpikir untuk menyelamatkan orang lain?" sambungnya.
"Entah lah, yang pertama di pikiran ku hanya gadis itu. Yang terpenting di aman dari para musuh, itu sudah cukup membuat ku sedikit lega. dan lagi, luka ini karna kesalahan ku sediri. Seharusnya aku tidak pernah melepaskan jas ku, kapan pun itu." jelas gue.
"Keselamatan anda lebih penting dari siapapun, anda harus tetap hidup dengan sehat sampai anda memiliki penerus yang akan menjadi pemimpin Mafia lainnya." ucapnya.
"Tenang saja, aku akan menjaga diri ku dengan aman. Masalah penerus itu masih sangat lama, umur ku saja masih 18 tahun." balas gue.
"Semoga saja..." gumam gue.
"Sudah selesai, Tuan." sahutnya.
Mendengar itu, gue langsung menengok ke arah luka gue yang sudah di perban dengan rapi oleh Dokter itu.
"Saya akan datang lagi besok, untuk mengganti perban anda." ucapnya sambil merapikan barang-barangnya.
"Tidak ada obat yang harus ku minum, kan?" tanya gue.
"Tentu saja ada, Tuan." jawabnya.
"Hah...obat ku selalu saja menambah, rasanya tempat penyimpanan obat ku akan penuh sekarang." keluh gue.
"Tenang saja, obat yang saya berikan hanya di konsumsi setelah luka anda sudah membaik." sambungnya.
"Baiklah...berikan obat itu kepada Jordan." perintah gue.
"Baiklah, Tuan." jawabnya, lalu berdiri.
"Kalau begitu, saya permisi." ucapnya sambil membungkuk tubuhnya, lalu berjalan pergi dari hadapan gue.
__ADS_1
Setelah sendirian di kamar, gue memutuskan untuk menonton TV sambil meminum whiskey. Mulai tadi, gue gak ada memakai baju dan hanya memakai celana saja.
Dingin? ya pasti dingin lah, tapi gue mager banget buat pakai baju lagi atau pun mengambil selimut untuk menutupi tubuh gue.
Entah karna gue belum makan atau karna gue minum Whiskey tanpa henti, perut gue tiba-tiba terasa sangat sakit sampai membuat dada gue sedikit sesak.
Gue hanya bisa menarik nafas panjang, lalu membuang nafas, dan melakukan berulangkali agar rasa sakit itu sedikit berkurang.
"Fuh...fuh...fuh..."
Akhirnya rasa sakit itu berkurang, bukannya berhenti meminum whiskey, gue malah lanjut meminumnya karna hanya tinggal setengah botol lagi yang tersisa.
Tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu, dan ketukan itu di buat oleh Jordan.
"Masuk!" sahut gue.
"Permisi, Tuan. Ini pakaian ganti anda, maaf tela membuat anda menunggu." ucapnya sambil meletakkan 2 tas belanjaan di atas meja.
"Apa isi tas yang satunya?" tanya gue.
"Obat dan juga makan malam anda." jawabnya.
"Oh ya, bagaimana dengan Nona kalian?" tanya gue.
"Nona baru saja selesai makan malam, Tuan. Mungkin sekarang Nona sedang bersantai, atau sedang tidur. Apa anda ingin bertemu dengannya?" tawarnya.
"Tidak, biarkan dia beristirahat." tolak gue.
"Duduklah, temani aku malam ini." ucap gue.
"Baik, Tuan." jawabnya lalu duduk di samping gue.
"Bagaimana dengan luka anda, Tuan?" tanyanya.
"Sudah lebih baik, bagaimana kabar yang lainnya?"
"Apa maksud anda yang berada di rumah sakit?"
"Iya..."
"Mereka masih dalam penanganan, dan ada beberapa dari mereka yang sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Tapi, 2 bawahan Pribadi anda sedang dan ruang operasi, Tuan. Karna peluru, dan beberapa tusukan yang ada di tubuh mereka."
"Hah...aku harap tidak ada lagi yang mati karna para musuh." pinta gue.
"Iya, Tuan..."
Bersambung
__ADS_1