
Setelah kepergian Bu Hartatik dari pesta, Daniel dan Chintia menghampiri Pak Bariq dan Bu Rahma. Daniel menatap Pak Bariq dan Bu Rahma dengan menggenggam erat tangan Chintia. Daniel saat itu langsung memulai pembicaraanya kepada Bu Rahma dan Pak Bariq
"Pak, Bu, sebelum kami kembali ke jakarta. kami meminta restu dari Bapak dan Ibu," ucap Daniel
"Daniel, Chintia, Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Ibu merestui kalian." jawan Bu Rahma
"Terima kasih Bu," saut Daniel
Berbeda dengan Bu Rahma, Pak Bariq hanya terdiam tidak merespon ucapan Daniel. Bahkan Pak Bariq tidak menatap Daniel dan Chintia. Daniel yang melihat ayah mertuanya masih terdiam, mencoba mengajaknya bicara
"Pak," sapa Daniel
"Pergilah kalian dari sini aku bukan Bapakmu," jawab Pak Bariq
"Pak, kami hanya ingin meminta restu dari Bapak," ucap Daniel
"Buat apa kalian butuh restuku? tanpa restuku kalian tetap akan hidup bersama. apakah kalian puas mempermalukan keluarga kami," tanya Pak Bariq
"Pak, ini adalah kebenaran bukan mempermalukan keluarga Bapak," jawab Daniel
"Setelah kejadian ini kalian pikir sangat muda diterima masyarakat. apa kalian tahu? apa kata masyarakat nanti kalau ternyata putriku diam diam menikah dengan preman. pernikahan karena kesalahpahaman dipergok warga.apa kalian tidak berpikir mau ditaruh mana muka keluarga kami dihadapan tetangga sekitar." ucap Pak Bariq
Mendengar ucapan Pak Bariq. Bu Rahma saat itu sangat geram dengan Pak Bariq. Tanpa ragu, Bu Rahma menampar pipi kanan Pak Bariq
"Plakk" (Bu Rahma menampar Pak Bariq)
__ADS_1
"Apakah Bapak tidak berpikir masa depan anak kita? Apakah Bapak rela melepas anak kita pada seseorang yang jelas jelas terbukti kejahatanya. seharusnya Bapak berterima kasih sama Daniel. Tolong Bapak pikirkan jika dulu rencana Niken berhasil, apa yang bisa kita lakukan?" tanya Bu Rahma
Pak Bariq hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan istrinya. Tidak cukup sampai disitu, Bu Rahma kembali menegur suaminyam
"Bapak tidak bisa jawab kan? apakah di kepala Bapak hanya ada 300 juta itu? apakah Bapak tidak memikirkan bagaimana menderitanya putri kita jelang acara pertunangan? Putri kita menangis terus di ancam sama calon tunangan pilihan Bapak. aku memeluknya, aku menenangkanya, aku berusaha tegar untuk menguatkan putriku," ucap Rahma
"Cukup !!! Bapak butuh waktu untuk berpikir. yang pasti sampai sekarang Bapak belum menerima jika Chintia menikah dengan preman." jawab Pak Bariq
Pak Bariq meninggalkan ruang pesta berjalan menuju kamarnya. Namum beberapa langkah berjalan, Daniel menghentikan langkah Pak Bari
"Pak, tunggu !" ucap Daniel
"Apa maumu sebenarnya? kamu sudah menghancurkan pesta ini dan mempermalukan keluargaku. Putriku sudah kamu dapatkan. Restu dari Istriku juga kamu dapatkan. Bahkan Istriku menamparku karena membela dirimu. Apa gak sekalian aja kamu menjual rumah ini kemudian mengusirku," jawab Pak Bariq
"Aku hanya ingin restu dari Bapak. aku tidak akan menyerah meminta restu dari Bapak walau saat ini Bapak masih menolaku. Tapi aku yakin suatu saat nanti Bapak akan merestui hubungan kami." ucap Daniel
"Aku memang tidak sekaya Zaka, aku tidak bisa memberikan 300 juta untuk Bapak. Tapi saya berjanji akan memberikan kebahagiaan pada keluarga ini." jawab Daniel
"Kebahagiaan? Apa kebahagiaan yang kamu berikan kepada keluarga kami?" tanya Pak Bariq
"Setelah mengucap ijab kabul putri Bapak menjadi tanggung jawabku. sampai saat ini dan detik ini putri Bapak adalah istriku. Aku akan menjaga, melindungi, menafkahi dan menjadi imam putri Bapak. suka dan duka putri Bapak adalah suka dan dukaku juga." jawab Daniel
Pak Bariq mengacuhkan ucapan Daniel langsung pergi meninggalkanya. Bu Rahma yang mendengar ucapan Daniel merasa beruntung Chintia mendapatkan laki laki yang bertanggung jawab.
"Daniel, Ibu percaya sama kamu. jaga putri Ibu. terkadang dia suka masih kaya anak kecil," ucap Bu Rahma
__ADS_1
"Iya Bu, aku akan selalu menjaga putri Ibu,"jawab Daniel
Bu Rahma kemudian menatap Chintia juga memberinya pesan.
"Chintia, jadilah istri yang baik. apa yang baik dari suamimu kamu harus patuh ya Nak," ucap Bu Rahma
"Iya Bu, aku akan ingat terus pesan Ibu," jawab Chintia
"Bapak masih butuh waktu, kalian yang sabar ya, kalian jangan benci Bapak," ucap Bu Rahma
"Iya Bu, kalau gitu kami pamit pulang," saut Daniel
"Apa tidak sebaiknya menginap saja?" tanya Bu Rahma
"Kami akan nginap di hotel Bu, Bapak akan tidak nyaman jika kami disini. Bapak perlu waktu," jawab Daniel
"Baiklah kalau itu yang terbaik untuk kalian," ucap Bu Rahma
"Iya sudah Bu, kami berdua mau pamit. assalaualaikum," saut Daniel
"Waalaikumsalam," jawab Bu Rahma
--------------
@@@@@
__ADS_1
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga