Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
39. TAKUT SUNTIK


__ADS_3

15 menit kemudian, Dokter memanggil pasien dengan nama Chintia untuk diperiksa. Daniel beranjak berdiri dari duduknya lalu masuk ke ruangan dengan tetap menggendong Chintia. Chintia ternyata masih berpura pura tertidur. matanya tetep terpejam tapi berkedip kedip. Rasa takut untuk periksa ke dokter membuat Chintia terus bertahan pura pura tidur.


Di dalam ruangan, Daniel merebahkan tubuh Chintia di ranjang. Chintia yang merasakan tubuhnya sudah tidak digendong Daniel tiba tiba merasa takut. Chintia terpaksa membuka matanya, saat membuka matanya dirinya melihat dokter hendak memeriksanya. Awalnya Chintia merasa tidak apa apa karena dokter hanya memainkan stetoskopnya di dadanya, mengecek suhu tubuh, dan tekanan darah. Namun saat dokter membawa suntikan, Chintia sontak menghentikam langkah dokter memeriksa.


"Dok, hentikan !" ucap Chintia


"Mbak, saya belum selesai memeriksa. ini saya mau menyuntik lengan Mbak," jawab Dokter


"Apa? Suntik? saya tidak mau dan jangan paksa saya. mengapa saya harus di suntik?" tanya Chintia


"Mbak, ini suntik karena pasien tidak dapat menelan obat secara peroral (lewat mulut) karena sedang dalam kondisi mual, tadi pas berangkat kata suaminya mbak mual dan muntah." jawab dokter


"Saya sehat Dok, saya tidak perlu suntik dan tidak perlu obat. Dokter tidak usah khawatir," saut Chintia


Dokter menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan Chintia seperti anak kecil. Chintia beranjak turun dari ranjang tapi Daniel yang masih di duduk di meja dokter mencegah Chintia turun.


"Chintia, mengapa turun? Dokter belum selesai memeriksa kamu," ucap Daniel


"Mas, aku sehat, aku tidak apa apa, aku tidak perlu suntik ,dan aku tidak perlu minum obat," jawab Chintia


Daniel berjalan mendekati Chintia, lalu duduk disamping Chintia kemudian membisikan sesuatu


"Kamu takut disuntik?" tanya Daniel lirih


Chintia menganggukan kepalanya dirinya terpaksa jujur kalau dirinya memang takut suntik. Daniel yang melihat Chintia tertunduk malu memberi isyarat dokter dengan mengedipkan matanya agar Chintia disuntik. Dokter yang mengetahui isyarat dari Daniel kalau Chintia takut suntik mencoba ancang ancang melakukan suntikan.


Daniel melihat dokter hendak menyuntik lengan Chintia sontak mengalihkan perhatian Chintia dengan mengajaknya mengobrol

__ADS_1


"Chintia, besok kamu masak apa?" tanya Daniel


"Mas, mau aku masak apa?" tanya balik Chintia


"Enaknya masak apa ya?" ucap Daniel


Saat Chintia hendak menjawab, tiba tiba Chintia merasakan lenganya basah dan dingin. Tanpa ragu Chintia dengan gerakan cepat menoleh kearah samping. Chintia melihat dokter memberikan cairan alkohol dilenganya.Chintia yang paham dirinya akan disuntik langsung menegur Dokter.


"Dok, kok basah? ini saya mau disuntik ya? maaf saya menolak dengan senang hati," ucap Chintia


"Mbak rileks aja badanya. rasanya tidak sakit kok," jawab dokter


"Bohong, aku pernah sampai nangis dulu waktu SMA." saut Chintia


Daniel merasa gemas dengan tingkah Chintia, rencana pertama mengalihlan perhatian Chintia gagal. Dan untuk rencana kedua tanpa berpikir panjang Danel mengarahkan kepala Chintia di hadapanya. Daniel yang melihat Chintia ketakutan mencoba memotivasi dan memberinya semangat.


"Chintia, benar kata Dokter. rasanya gak sakit kok disuntik," ucap Daniel


"Gak sakit kok, kaya di gigit kupu kupu," saut Daniel


"Hah? Kok kupu kupu? kaya disengat lebah Mas rasanya," bantah Chintia


"Masa sih? nanti coba rasakan habis ini," ucap Daniel


"Nggak mau," jawab Chintia


"Harus mau," saut Daniel

__ADS_1


"Nggak mau," jawab Chintia


"Harus mau," saut Daniel


"Nggak aaahh...apa salahku kalian menyakitiku? kalian jahat. "teriak Chintia merasakan suntikan


Diam diam dokter sudah berhasil menyuntik lengan Chintia. Chintia menangis dirinya merasa ditipu dokter dan suaminya. Daniel merasa lega Chintia sudah disuntik, tapi dirinya juga sedih meihat Chintia yang terus menangis. Daniel memeluk Chintia dan berusaha menenangkan Chintia.


"Sstt...sudah jangan nangis. sakitnya akan ilang kok," ucap Daniel


"Nggak, sekarang masih belum ilang," jawab Chintia


"Sini, Mas cium pipinya biar ilang," saut Daniel


"Cup" (Daniel mencium pipi Chintia)


"Mas, jangan merayuku. rasanya enut enut Mas, "rengek Chintia


"Makanya jangan nangis. nanti tambah sakit lho. apa gak malu sama Dokter? udah kuliah masa disuntik nangis? dilihatin Dokter itu loh," goda Daniel


"Udah, pokoknya aku mau pulang," saut Chintia menahan malu


Daniel semakin gemas dengan kelakuan Chintia yang merengek seperti anak kecil. Setelah selesai diperiksa, Daniel dam Chintia menebus resep obat dari dokter kemudian pulang ke kontrakan.


-----------


@@@@

__ADS_1


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


__ADS_2