Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
74. SALING BERJANJI


__ADS_3

---- Di Kontrakan ----


Pagi yang cerah, seperti biasanya Chintia dan Daniel duduk di meja makan untuk melakukan aktivitasnya menyantap menu sarapan. Setelah sarapan kebetulan Chintia ada jam kuliah pagi sehingga dirinya langsung berpamitan pada Daniel untuk berangkat kuliah.


"Mas, aku pamit berangkat kuliah," ucap Chintia


"Iya, ini uang saku untukmu hari ini." jawab Daniel


Daniel memberikan uang 20.000 pada Chintia. Chintia yang menerima uang itu langsung bersuara.


"Tapi Mas..." ucap Chintia terpotong


"Kurang ya, kalau gitu ini ambilah," jawab Daniel


Daniel memberi tiga lembar uang 5000 kepada Chintia. Sekarang Chintia membawa uang 35.000 dari Daniel.


"Maaf ya, Mas gak bisa beri kamu uang banyak seperti sebagian besar mahasiswa lain pada umumnya," ucap Daniel


"Mas bukan itu maksudku," ucap Chintia


"Terus?" tanya Daniel


Sebenarnya Chintia terkejut Daniel memberi uang saku untuknya. Selama ini Chintia hanya diberi uang belanja dan sewa kontrakan. Chintia bukan tipe wanita yang gila uang, dirinya merasa masih punya uang dari gaji terakhirnya bekerja menjadi guru bimbel. Karena tidak ingin suaminya terbebani, Chintia menolak uang saku pemberian suaminya.


"Mas, aku masih ada uang. sebaiknya Mas simpan saja," ucap Chintia


"Tidak apa apa itu untukmu," jawab Daniel


"Tapi Mas, aku tidak mau Mas terbebani. aku beneran masih ada uang kok," saut Chintia


"Pokoknya simpan saja, lagian itu sudah tanggung jawab Mas menafkahimu dan juga memenuhi kebutuhanmu." jawab Daniel


Chintia terharu melihat suaminya yang semakin hari semakin perhatian kepadanya. Chintia beruntung memiliki suami seperti Daniel. Chintia merasa Daniel mampu menjalankan dua peran dalam kehidupanya saat di jakarta. Selain menjadi suami yang bertanggung jawab, Daniel mampu menjalankan peranya sebagai orang tua.


Chintia sontak langsung memeluk Daniel dan mengucap terima kasih. Walaupun sebagian orang menganggap uang saku 35.000 itu kecil. Tapi bagi Chintia uang saku 35.000 sudah membuatnya bahagia.


"Mas, terima kasih. selain Mas sosok suamiku yang bertanggung jawab, Mas juga bisa menjadi sosok Bapak untuku disini. Bapak dulu di kampung juga perhatian banget sama aku," ucap Chintia


"Sstt...setelah Mas mengucap ijab qabul disitulah kamu sudah menjadi tanggung jawab Mas. Mas harus bisa menjagamu seperti orang tuamu menjagamu," jawab Daniel

__ADS_1


"Mas, apa Mas tidak terbebani hidup bersamaku?" tamya Chintia


"Mengapa Mas harus terbebani? uang Mas adalah uangmu juga. kamu adalah tanggung jawabnya Mas sekarang" jawab Daniel


"Iya Mas, tapi aku minta maaf Mas. aku belum bisa menjalani kewajibanku sebagai istrimu sepenuhnya. bahkan sampai sekarang mahkotaku masih terjaga." saut Chintia


"Mas tahu, selain kamu masih terbayang bayang kesalahanmu pada orang tuamu, Mas juga tahu kalau kamu ada rasa trauma juga setelah kejadian pahit itu. Mas akan selalu menunggumu sampai kamu siap," jawab Daniel


"Mas, jangan tinggalin aku." ucap Chintia menangis


"Hei, mengapa menagis?" tanya Daniel


Melihat Chintia menangis dan mengatakan dirinya akan meninggalkanya. Daniel kembali memeluk Chintia berusaha menenangkanya.


"Chintia, sampai kapan pun Mas tidak akan pernah meninggalkanmu. jangan pernah berpikiran seperti itu.suka dukamu juga suka dukanya Mas." ucap Daniel


"Iya Mas, aku hanya takut Bapak sama Ibu menolak dirimu Mas, sebenarnya kemarin aku dapat telepon dari Bapak." jawab Chintia


"Bapak ngomong apa?" tanya Daniel


"Bapak mau menjodohkanku Mas, aku takut bertemu dengan Bapak," jawab Chintia


Degg...


Ingin sekali Daniel marah marah sekarang tetapi dirinya harus mengontrol amarahnya untuk menenangkan Chintia. Apalagi mengingat Chintia harus berangkat kuliah


"Chintia, kamu jangan takut, Mas akan berjuang mempertahankan hubungan kita. tapi Mas punya pesan untukmu." ucap Daniel


"Pesan apa, Mas?" tanya Chintia


"Mas ingin kamu juga sama ikut berjuang mempertahankan hubungan kita. kita jangan sampai rapuh. kita harus kuat. kita lalui semua ini bersama sama." jawab Daniel


"Iya Mas, aku juga akan berusaha mempertahankan hubungan kita," saut Chintia


"Kita harus saling berjanji. aku berjanji tidak akan meninggalkanmu." ucap Daniel


"Iya Mas, aku juga berjanji tidak meninggalkanmu." saut Chintia


"Sekarang berangkatlah kuliah jangan sampai telat," ucap Daniel

__ADS_1


"Iya Mas, aku berangkat dulu, assalamualaikum," ucap Chintia


"Waalaikumsalam," jawab Daniel


----- Flashback On -----


Setelah shalat maghrib, Chintia mengerjakan tugas kimia anorganik dari dosen di ruang tamu. Saat mengerjakan tugas, tiba tiba ponselnya berdering ada panggilan dari seseorang. Chintia melihat layar di ponselnya ternyata ayahnya yang meneleponya. Tanpa ragu,dengan semangat Chintia mengangkat teleponya.


📞 "Hallo, assalamualaikum Pak," ucap Chintia


📞 "Waalaikumsalam, kamu baik baik saja, Nak?" tanya Pak Bariq


📞 "Alhamdulillah aku baik. Bapak dan Ibu disana gimana kabarnya?" tanya balik Chintia


📞"Kami juga sehat, Chintia. Ini sebenarnya Bapak mau ngomong sesuatu sama kamu tapi kamu jangan marah." ucap Bariq


📞 "Ada apa, Pak?" tanya Chintia


📞 "Bapak dan Ibu akan menjodohkanmu saat liburan. insyallah kamu akan bahagia." ucap Pak Bariq


Degg...


Chintia terkejut saat ayahnya akan menjodohkan dirinya yang sudah bersuami. Chintia bingung harus berbuat apa pada ayahnya. Tanpa ragu Chintia pura pura tidak mendengar suara ayahnya dengan jelas. Dirinya beralasan sinyal di kontrakanya jelek.


"Hallo Pak, Bapak bilang apa? aku tidak denger dari sini?" ucap Chinta


"Tapi Bapak denger jelas dari sini," jawab Bariq


"Maaf Pak, aku tidak dengar. ini suaranya putus putus dadi disini. sinyalnya mungkin jelek." ucap Chintia


"Iya sudah, Bapak matikan dulu. besok kita lanjutkan lagi bicaranya, assalamualikum," jawab Pak Bariq


"Waalaikumsalam," saut Chintia


----- Flashback Off -----


-----------


@@@@

__ADS_1


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


__ADS_2