
"Kak, tapi bapak bilang kepadaku kalau nenek dan kakek membencinya. dan kalau boleh tahu bagaimana reaksi nenek saat sudah tahu tentang ini?" jawab Ihsan
Degg...
Galih dan Daniel langsung terdiam mendapat serangan balik pertanyaan dari Ihsan. Daniel saat itu menatap Galih memberi kode anggukan agar mengatakan pada Ihsan yang sebenarnya. Namun Galih tidak setuju dengan kode anggukan Daniel. Galih menggelengkan kepalanya isyarat tak setuju. Menurut Galih, dirinya masih bisa berbicara dengam Nenek Irah lagi. Tanpa berpikir panjang, Galih menjawab pertanyaan Ihsan.
"Ihsan, nenek juga seorang ibu. sebenci bencinya ibu terhadap anaknya, seorang ibu pasti masih memiliki rasa kasih sayangnya terhadap anaknya," jawab Galih
"Maksud Kak Galih, nenek masih membenci ayah?" tanya Ihsan
"Siapa yang mengatakan itu, aku tidak mengatakanya," jawab Galih
"Lalu bagaimana nenek sekarang?" tanya Ihsan
"Nenek pasti senang, nenek orang baik. jadi masa lalu kelam itu biarlah berlalu. jangan banyak pikiran. disini kakak kakakmu akan selalu ada untukmu," jawab Galih
"Hmm...terima kasih, bapak pasti senang jika nenek merindukan bapak," ucap Ihsan
"Iya, katatakan apa kataku pada bapak dan ibukmu, jangan biarkan bapak terus dilanda kesedihan dan rasa bersalah,"jawab Galih
"Iya Kak, aku akan mengatakanya nanti," ucap Ihsan
"Baiklah, kembali ke tempatmu. jangan harap aku mengabulkan permintaan konyolmu minta turun jabatan," saut Daniel
"Baik Kak," jawab Ihsan
Setelah kepergian Ihsan, di dalam ruangan hanya tinggal Galih dan Daniel. Mereka berdua dilanda kebingungan mengatakan fakta yang sebenarnya kepada Nenek Irah.
__ADS_1
"Kak, bagaimana kita mengatakan semuanya pada Nenek?" tanya Daniel
"Kita harus membuat Nenek menerima ayah," jawab Galih
"Tapi kita tahu sendiri kalau nenek belum tentu menerima kehadiran ayah," saut Daniel
"Kita perlu bantuan istri kita. aku akan mencoba menghubungi Hesti," ucap Galih
"Maksudmu kita membongkarnya dulu pada Hesti dan Chintia?" tanya Daniel
"Benar sekali, nanti sore kita berempat ke restoran dekat kampus Hesti dan Chintia," jawab Galih
"Ok, aku setuju," saut Daniel
Setelah itu Galih menghubungi Hesti untuk meminta pertemuan berempat. Dan Hesti yang memiliki waktu longgar langsung menyetujuinya.
Sore hari Galih, Daniel, Chintia dan Hesti bertemu di restoran. Tanpa basa basi Galih mulai langsung memulai pembicaraan.
"Hesti, Chintia, sepertinya kalian harus mengetahui hal ini. kalian pasti tidak menyangka dengan apa yang aku katakan. namun yang akan aku katakan itu adalah kebenaranya," ucap Galih
"Ada apa Mas? ceritakan saja," tanya Hesti
"Ayah kita masih hidup, dan kami berdua sudah mengetahui keberadaanya," jawab Galih
"Dimana Mas?" tanya Hesti
"Ayah ada di rumah sakit, karena menderita leukimia atau kanker darah. sekarang sedang menjalani pengobatan. ada Ihsan dan Bu Halimah yang menjaganya," jawab Daniel
__ADS_1
"Ihsan dan Bu Halimah apa Mas suruh jaga ayah?" tanya Chintia
"Bukan, mereka berdua adalah keluarga ayah. Ihsan itu keluarga kita. karena ayah menikahi Bu Halimah," jawab Daniel
Chintia dan Hesti sangat terkejut mendengar ucapan Daniel. Chintia saat itu sontak menanyakan tentang Nenek Irah.
"Apa nenek tahu hal ini?" tanya Chintia
"Itu dia yang kami berdua takutkan. tadi pas makan pagi saja Nenek bingung perasaanya tentang ayah. nenek mereasa rindu dan benci pada ayah. karena ayah penyebab kakek meninggal," jawab Galih
"Lalu Mas minta tolong kami berdua apa?" tanya Chintia
"Apa Mas menyuruh kita yang mengatakan hal ini pada nenek?" saut Hesti
"Kalian cari tahu tentang ayah mertua kalian pada Nenek. cari informasi sebanyak sampai nenek menyatakan keputusanya menerima atau menolak kehadiran ayah jika kembali," jawab Galih
"Baiklah kita berdua akan mencobanya nanti," saut Hesti
Setelah pembicaraan selesai mereka berempat langsung pulang bersama menuju rumah.
--------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga
__ADS_1