Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
58. PERGI KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

20 menit kemudian, Galih dan Hesti sampai di kontrakan Chintia. Hesti menyuruh Galih menunggunya di mobil, sementara dirinya menghampiri Chintia di kamar.


"Chin, bagaimana keadaan suamimu?" tanya Hesti


"Mas Daniel demam, panasnya gak turun turun," jawab Chintia


"Ya sudah Chin, ayo bawa suamimu di rumah sakit. tapi gimana kita membawa suamimu kedalam mobil?" tanya Hesti


"Iya kamu benar, aku tidak kuat membopong suamiku," jawab Chintia


Hesti berpikir sejenak mencari cara bagaimana cara membawa suami Chintia dalam mobil. Tak butuh waktu lama, Hesti mengingat Galih yang menunggunya di dalam mobil. Hesti akhirnya mengatakan pada Chintia kalau dirinya akan meminta tolong Galih.


"Oh iya, aku kesini sama Mas Galih. tunggu bentar ya, aku akan panggilkan Mas Galih," ucap Hesti


"Hmm...Iya Hes, tolong panggilkan," jawan Chintia


Hesti berlari keluar menuju mobil yang menunggunya di depan kontrakan. Hesti mengetuk pintu jendela mobil Galih diiringi berucap meminta tolong.


"tuk...tuk...tuk(Hesti mengetuk jendela mobil)


"Mas, kamu keluarlah. aku minta tolong sebentar," ucap Hesti


Galih kemudian keluar dari mobilnya menghampiri Hesti.


"Iya Hes, ada apa?" tanya Galih


"Tolong bantu temanku membopong suaminya," jawab Hesti


"Hmm...baiklah apakah suaminya di kamar?" tanya Galih


"Iya Mas, ayo buruan masuk," jawab Hesti


"Ok ayo," saut Galih


Galih dan Hesti masuk kedalam kamar kontrakan Chintia. Sesampainya di kamar, Galih terkejut melihat seseorang yang tak asing baginya.


"Daniel," ucap Galih

__ADS_1


"Mas Galih kenal dengan suami temanku?" tanya Hesti


"Iya, beberapa hari yang lalu Daniel bikin heboh di hotel karena istrinya diculik. aku membantu Daniel menyelamatkan istrinya," jawab Galih


"Hah? kamu di culik, Chin?" tanya Hesti


"Iya, nanti pas di rumah sakit aku akan ceritakan semuanya," jawab Chintia


"Kalian berdua bisa tunggu di mobil. aku akan membopong Daniel," saut Galih


Chintia dan Hesti mengangguk meyetujui ucapan Galih. Tak lama kemudian, Galih membopong Daniel masuk dalam mobinya. Setelah semua sudah masuk dalam mobil, Galih mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


----- Di Rumah Sakiit -----


Di rumah sakit, Chintia terlihat cemas dan gelisah menunggu pemeriksaan dari dokter. Saat itu, Hesti yang melihat Chintia nampak gelisah, mencoba menenangkanya.


"Chin, kamu yang tenang ya, suamimu pasti baik baik saja," ucap Hesti


"Iya Hes, terima kasih", jawab Chintia


Chintia menceritakan awal mula pertemuanya dengan Daniel hingga alasan pernikahanya yang terjadi karena kesalapahaman warga. Hesti yang mendengarkan certa dari Chintia turut prihatin dengan nasib sahabatnya.


"Chin, kamu yang sabar ya," ucap Hesti


"Iya Hes, aku sudah menerima takdirku.tapi jujur saja aku bahagia sekarang," jawab Chintia


"Terus kamu dan Mas Galih juga sudah saling mengenal?" tanya Hesti


"Tidak Hes, bahkan aku terkejut saat Mas Galih mengenal Mas Daniel. aku hanya sempet lihat sekilas seorang pria yang membantu suamiku menyelamatkanku. karena saat itu aku syok banget," jawab Chintia


"Kalau boleh tahu emang pria yang menyelakaimu itu apa ada masalah denganmu? di hotel Daniel mendapat pesan dari pria brengsek itu langsung ngamuk ngamuk," saut Galih


"Pria itu adalah Mas Zaka. dia adalah anak Bu Hartatik pemilik kontrakan yang kami huni. dia ingin memisahkan aku dengan Mas Daniel," jawab Chintia


"Mengapa kamu dan suamimu kemarin tidak melaporkan pria yang menyelakaimu itu ke polisi?" tanya Galih


"Aku kasihan sama Bu Hartatik. Bu Hartatik pasti sedih. aku tidak ingin melihat Bu Hartatik sedih. Bu Hartatik sayang kepadaku. aku juga menyayanginya. mungkin buat pembelajaran kedepanya aku akan menghindari Mas Zaka," jawab Chintia

__ADS_1


"Hmm...kamu sebaiknya pindah kontrakan aja deh Chin," ucap Hesti


"Kalau ingin cari kontrakan, aku bisa membantumu dan suamimu. aku punya kenalan jasa layanan sewa rumah dan kontrakan." jawab Galih


"Terima kasih, akan kami pikirkan nanti masalah itu," saut Chintia


15 menit kemudian, dokter yang memeriksa Daniel keuar dari ruaganya. Chintia yang melihat dokter keluar dari ruanganya sontak menanyaka kondisi suaminya.


"Dok, apa yang terjadi sama suami saya?" tanya Chintia


"Pasien atas nama Bapak Daniel mengalami gejala tipes. kondisinya baik baik saja nanti sore bisa pulang. tapi untuk pola makan dan pola istirahtnya harus dijaga." jawab Dokter


"Baik Dok, terima kasih," saut Chintia


"Iya sudah kalau gitu saya permisi," ucap Dokter


"Iya Dok," jawab Chintia


Chintia masuk kedalam ruangan terlihat Daniel masih tertidur dengan tanganya yang dilengkapi perlengkapan infus. Chintia duduk di kursi yang ada dekat ranjang pasien menanti Daniel bangun dari tidurnya.


Sementara di luar ruangan, Galih dan Hesti mengurus administrasi pengobatan Daniel. Setelah mengurus administrasi Galih dan Hesti masuk kedalam ruangan tempat Daniel dirawat. 15 menit kemudian, Galih dan Hesti izin kepada Chintia untuk pamit pulang.


"Chin, kita berdua pamit duluan ya," ucap Hesti


"Iya, terima kasih. kalian berdua sudah menolong suamiku," jawab Chintia


"Kalau butuh apa apa jangan sungkan, kami berdua pamit, assalamualaikum," saut Hesti


"Iya, waalaikumsalam," jawab Chintia


-----------


@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga

__ADS_1


__ADS_2