Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
75. TIDAK FOKUS


__ADS_3

Malam hari, Chintia sendirian di kontrakan karena Daniel masih bekerja. Semenjak mengetahui ayahnya hendak menjodohkanya Chintia merasa takut. Chintia berharap ayahnya berubah pikiran untuk tidak menjodohkanya dengan pria lain. Ingin sekali Chintia jujur pada ayah dan ibunya kalau dirinya sudah bersuami tapi dirinya masih belum siap.


Di kamar, Chintia memainkan ponselnya bermain Hago untuk menenangkan pikiranya. Namun baru sebentar memainkan Hago, tiba tiba ponsel Chintia berdering menandakan ada telepon dari seseorang. Chintia melihat ayahnya menelepon dirinya. Chintia sudah menebak ayahnya akan membicarakan perjodohan. Malas sekali untuk mengangkat tetapi dirinya terpaksa mengangkatnya takut orang tuanya khawatir kepadanya.


📞 "Hallo, assalamualaikum Pak," ucap Chintia


📞 "Waalaikumsalam," jawan Pak Bariq


📞 "Ada apa Bapak malam malam telepon?" tanya Chintia


📞 "Chintia, Bapak ingin mempercepat perjodohanmu. Bapak ingin tiga hari lagi kamu pulang ke kampung melakukan acara lamaran." jawab Pak Bariq


📞 "Pak, aku minta maaf. aku terpaksa menolak pernikahan ini." saut Chintia


📞 "Tidak bisa, kamu harus menerimanya." tegas Pak Bariq


📞"Pak, aku mohon, aku benar benar tidak bisa menerimanya," jawab Chintia menangis


📞"Rencana perjodohan sudah kami bicarakan matang matang. pokoknya Bapak tidak mau tahu. kamu harus menerimanya." saut Pak Bariq


Tut... Tut...


(Pak Bariq mematikan teleponya)


Chintia menangis karena nasib yang menimpanya saat ini. Chintia bingung harus mengatakan apa pada Daniel. Daniel pasti kecewa dengan keputusan orangtuanya yang menyuruhnya pulang kampung untuk lamaran. Namun mau tidak mau Daniel harus mengetahui rencana perjodohan orangtuanya. Sekarang Chintia harus menanti hari esok untuk membicarakan hal itu pada Daniel. Karena Daniel masih bekerja dan akan pulang ke rumah pukul 04.00 shubuh.


Esok hari, jam menunjukan pukul 05.00. Chintia sudah bersiap siap memasak sarapan di dapur. Saat memasak pikiran Chintia tidak fokus pada masakanya. Rencana perjodohan dari ayahnya menghantui dirinya. Karena tidak terlalu fokus, tanpa sengaja saat Chintia memarut kelapa tanganya keparut.

__ADS_1


"Srek..." (tangan Chintia keparut)


"Aaauhh..." ucap Chintia


Chintia meringis kesakitan saat tanganya keparut. Hingga tanpa sadar panci berisi sayur tewel atau nangka muda terjatuh di lantai menimbulkan suara bising


"Pruangg..."(bunyi panci terjatuh)


Suara panci yang terjatuh membuat Daniel yang masih tidur di kamar langsung terbangun dan berlari menunuju dapur. Sesampainya di dapur, Daniel tekejut melihat tetesan darah di lantai. Daniel panik dengan kondisi Chintia yang berantahkan, sementara Chintia menyembunyikan tanganya dari belakang. Daniel yang tahu tangan Chintia disembunyikan melirik ke meja dapur terdapat noda darah di parutan kelapa Chintia. Daniel tanpa permisi langsung mendekati Chintia menyuruh Chintia memperlihatkan lukanya.


"Chintia, lihat tanganmu !" tegas Daniel


"Hanya luka kecil Mas, aku tidak apa apa," jawab Chintia


"Jangan bikin Mas panik. banyak darah yang berceceran. ayo perlihatkan tangamu !" saut Daniel


Chintia mau tidak mau terpaksa memperlihatkan tanganya yang terluka berdarah pada Daniel. Daniel membelakan matanya langsung panik meihat luka parutan di tangan.


Daniel berlari menuju kamar mengambilkan kotak obat. Sementara Chintia hanya bisa menuruti ucapan Daniel dengan duduk di meja makan.


Tak butuh waktu lama, Daniel kembali kedapur kemudian duduk di meja makan mengobati luka Chintia. Daniel mengobati Chintia dengan sangat telaten. Namun tetap saja rasa perih pada luka jari tangan Chintia sangat terasa saat cairan rivanol atau antiseptik membasahi jari tangah.


"Ah...perih banget Mas," ucap Chintia


"Sebentar, kamu tahan sedikit lagi ya ini hampir selesai." jawab Daniel


"Mas, aku minta maaf, aku nggak bisa melanjutkan masak sayur tewel hari ini," ucap Chintia

__ADS_1


"Setelah lukamu selesai diobati, Mas akan mengajak kamu makan ke warung." jawab Daniel


"Mas, maafkan aku, aku udah gak bejus jadi istrimu." saur Chintia


"Dimataku kamu adalah istiriku yang sangat sempurna. hari ini kamu cuma kecelakaan saja." jawab Daniel


"Mas, semoga kita gak akan terpisah, aku sayang sama kamu Mas." saut Chintia


Degg


Mendengar tutur kata dari Chintia membuat Daniel terkejut. Daniel menduga orangtua Chintia habis menelpon Chintia bicara masalah perjodohan.


"Mas juga sayang sama kamu Chintia, apakah Bapak dan Ibumu habis menelponmu?" tanya Daniel


"Iya Mas, kemarin malam bapak menghubungiku," ucap Chintia


"Masalah perjodohan?" tanya Daniel


"Iya Mas, Bapak bilang akan mempercepat perjodohanku di kampung. Bapak memaksaku tidak menolaknya dan harus menerimanya. dan tiga hari lagi aku disuruh pulang kampung Mas melakukan lamaran." jawab Chintia.


Degg...


-----------


@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!

__ADS_1


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


.


__ADS_2