Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
153. MAULINA ATAU PAULA


__ADS_3

--- Haidar Group ---


Esok hari Galih dan Daniel sedang mengadakan meeting dengan Gunadharma Group. Saat itu Hasan Gunadharma ditemani sekretarisnya mulai memperkenalkan dirinya sebelum rapat dimulai.


"Sebelum memulai rapat, perkenalkan saya Hasan Gunadharma direktur Gunadharma Group dan disamping saya ada sekretaris saya namanya Jauza," ucap Hasan


"Perkenalkan saya Jauza, sekretaris Gunadharma Group," jawab Jauza


"Perkenalkan saya Galih,dan ini sekretaris saya namanya Daniel," saut Galih


Galih dan Daniel saat itu menatap intens seseorang yang bernama Jauza di depanya. Wajah Jauza mirip sekali dengan foto sesorang yang bernama Paula. Bahkan wajah Jauza mengingatkanya pada Maulina alias ibu dari Ratih.


Rapat berlangsung selama 2 jam berjalan dengan lancar. Sebelum mengakhiri pertemuanya, Galih saat itu bertanya pada Jauza.


"Ibu Jauza, apakah saya boleh menanyakan sesuatu pada anda?" tanya Galih


"Silahkan saja Pak, apa yang mau bapak tanyakan pada saya?" tanya balik Jauza


"Sejak kapan anda bekerja di Gunadharma Group?" tanya Galih


"Sebenarnya Jauza adalah istri sekaligus sekretaris saya," saut Aziz


"Oh begitu, apakah bapak sudah memilki anak?" tanya Galih


"Saya dan Jauza, kami berdua dipertemukan saat pasangan kita terdahulu telah tiada, kami berdua juga ingin anak anak kita memiliki orangtua yang lengkap. dan syukurlah Jauza adalah ibu yang penyanyang dari anaknya dan anaku," jawab Hasan


Mendengar cerita dari Hasan, Galih memperhatikan gerak gerik Jauza yang mulai merasa tidak nyaman. Jauza menyadari tatapan intens dari Galih merasa tidak nyaman. Jauza yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Galih langsung begegas mengajak suaminya kembali ke kantor.


"Pa, sebaiknya kita balik ke kantor, karena masih banyak pekerjaan," ucap Jauza


"Tunggu sebentar ma, papa mau berbincang dulu sama Pak Galih," jawab Hasan


"Maaf, kalau boleh tahu umur berapa anak, Bapak?" tanya Galih

__ADS_1


"Usianya 26 tahun dan satunya 19 tahun.Tapi anak kami yang berusia 26 tahun memilih pergi karena tidak menerima saya sebagai ayahnya. entah dimana dia sekarang," jawab Hasan


"Pa, udah jangan dibahas. itu privasi keluarga kita. anak itu tidak tahu diuntung. biarkan saja dia. kita masih punya Fiona. Jangan pikirkan dia lagi," saut Jauza


"Ma, tolong jaga ucapan mama. Ratih itu anak kita. kamu gak boleh bilang gitu. sudahlah ayo kita pulang," jawab Hasan


Hasan menoleh ke arah Daniel dan Galih lalu mengucapkan sesuatu.


"Maaf Pak Galih, Pak Daniel. saya tidak bermaksud menceritakan masalah privas keluarga kami. kalau gitu kami pamit. assalamualaikun," ucap Hasan


"Iya pak, waalaikumsalam," jawab Galih


Hasan dan Jauza pergi meninggalkan ruang rapat. Galih dan Daniel yang masih berada diruang rapat saling menatap lalu saling berbicara.


"Nil, apakah kamu bisa menebak apa yang aku pikirkan?" tanya Galih


"Wajah ibu Jauza yang mirip dengan Ibu Maulina?" tanya balik Daniel


"Tapi ibu Maulina sudah meninggal karena bunuh diri pasca peristiwa perampokan besar itu. mungkin bisa jadi dia Paula," saut Daniel


"Apa kamu yakin ibu Maulina benar sudah meninggal? kamu tahu sendiri kan, kalau Pak Hasan bilang anaknya namanya Ratih. umurnya bahkan sama denganmu Nil," ucap Galih


Pemikiran Daniel saat itu sejalan dengan Galih. Namun Daniel masih ragu dengan pemikiranya itu.


"Tapi kita tetap harus memastikanya Lih, apa benar ibu Maulina sudah meninggal atau belum. Bisa jadi kemungkinan Ibu Jauza adalah saudara atau kerabat dari Ibu Maulina," jawab Daniel


"Dan bisa jadi Jauza adalah Paula juga, kita sendiri juga sudah lihat foto ibu Maulina mirip dengan Ibu Paula ," ucap Galih


"Kita harus menyelidiki ini Lih, aku hanya ingin suatu saat nanti keluarga kita diusik lagi," jawab Daniel


Semenjak mengetahui Daniel adalah adiknya. Galih merasa aneh jika Daniel memanggilnya dengan sebutan nama. Entah ada apa dala hatinya Galih merasa kesal seperti tidak dihargai sebagai seorang kakak. Tanpa ragu, saat itu Galih bicara pada Daniel


"Iya Nil kamu benar. dan oh iya, aku ada satu permintaan. aku ingin kamu mengabulkanya," ucap Galih

__ADS_1


"Permintaan apa?" tanya Daniel


"Apakah kamu bisa tidak memanggilku dengan hanya sebutan nama. maksudku aku ingin kita seperti kakak adik diluaran sana. semoga kamu mengerti perasaanku,"jawab Galih


Awalnya Daniel merasa permintaan Galih lebay. Tetapi jika dipikir pikir memang seharusnya Daniel memanggil Galih dengan sebutan sepantasnya. Akhirnya, Daniel menuruti perintah Galih.


"Baiklah, mulai sekarang aku memanggilmu Kak aja gimana?" tanya Daniel


"Ok lakukan, coba katakan," jawab Galih


"Kak Galih, apakah kamu masih perjaka?" goda Daniel


"Hei dasar adik kurang ngajar, asal kamu tahu ya, aku sudah membobolnya. jadi berhenti mengatai seperti itu," jawab Galih


"Haha...akhirnya kakaku sudah bukan bujang tua," ucap Daniel


"Sekali lagi kamu mengejeku, aku akan kirimkanmu ke cabang perusahaan Haidar Group di Papua. biar kamu jauh dari istrimu dan tongkat pusakaku hanya bisa kamu lampiaskan di kamar mandi nanti," jawab Galih


Daniel tidak bisa berkutik dengan ancaman Galih. Daniel menggelengkan kepalanya dirinya tidak sudi menetap di Papua sementara istrinya di Jakarta. Jika hal itu terjadi, sabun lux akan menjadi korban pelampiasanya nanti. Dan tentunya, pelampiasan di sabun lux tidak senyaman goa surga istrinya yang menurutnya tempat pepampiasan ternikmat. Daniel yang bergidik ngeri dengan ancaman Galih hanya bisa meminta ampun dan maaf.


"Aku minta maaf, ampun, kakak jangan kejam sama aku. aku janji tidak lagi mengejekmu," ucap Daniel


"Nah bagus, sekarang lanjutkan pekerjaanmu. dua jam lagi ada meeting evaluasi divisi manajemen keuangan," jawab Galih


"Ok siap," saut Daniel


---------------


@@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga

__ADS_1


__ADS_2