
Galih dan Daniel dalam perjalanan menuju rumah Chintia di Tulungagung. Sudah 8 jam perjalanan mereka tempuh seharusaya mereka sudah sampai di wilayah jawa timur. Namun karena terjebak kemacetan Galih dan Daniel masih berada di Salatiga Jawa Tengah. Jarak tempuh Jakarta menuju Tulungagung adalah 10 jam. Hingga sudah dapat dipastikan Galih dan Daniel akan sampai di Tulungagung sekitar 5 jam lagi.
"Lih, apakah kita akan dilanda kemacetan seperti ini terus?" tanya Daniel
"Iya, dan kamu tau sendiri hari ini hari minggu," jawab Galih
"Apakah tidak ada jalur lain? aku rasanya ingin meloncat dan terbang dari sini," tanya Daniel
"Kamu tahu aku adalah seorang CEO perusahaan yang sering keluar kota? kamu jangan meragukanmu. bersabarlah," jawab Galih
"Sial..." saut Daniel
Daniel sangat kesal dengan kondisi kemacetan yang menimpanya. Padahal Galih sudah mencari jalur alternatif tapi tetap saja selalu terjebak macet. Daniel takut terlambat membatalkan pertunangan Chintia dengan Zaka. Hatinya merasa tidak tenang.Galih saat itu melihat Daniel frustasi mencoba menenangkanya.
"Nil, kamu yang tenang. jangan frustasi seperti ini. yakinlah kalau kita akan berhasil membatalkan pesta pertunangan itu," ucap Galih
"Lih, apa aku boleh menggantikanmu menyetir? kamu sedikit lamban hingga terus terusan kena macet. biar aku saja," jawab Daniel
"Apa kamu mau menyetir? pikiranmu sangat kacau. kamu akan membunuhku nanti kalau memaksakan diri menyetir," ucap Galih
"Cepatlah, aku akan menggantikan kamu menyetir. kamu sangat lamban," jawab Daniel
Galih tertawa saat Daniel mengatakan dirinya lamban dalam menyetir. Padahal sekarang hari minggu jalanan rawan akan kemacetan. Galih merasa Daniel menjadi terlalu bucin karena Chintia. Sepertinya Chintia telah berhasil merobohkan jiwa preman yang dulu melekat pada diri Daniel. Daniel yang saat itu melihat Galih menertawainya langsung menegurnya.
"Apa maksudmu menertawaiku? apakah menurutmu ini lelucon?" tanya Daniel
__ADS_1
"Eh, jangan salah paham dong Nil. aku cuma gak nyangka aja gara gara kemacetan sikapmu tiba tiba jadi bucin karena istrimu. posesifmu kumat sampai sampai aku kamu mengejeku lamban dalam menyetir," jawab Galih
"Iya kamu memang lamban sekali dalam menyetir. biar aku saja yang menyetir," ucap Daniel
"Sorry Nil, pikiranmu sekarang sedang kacau. sebaiknya tenangkan dirimu dulu. coba baca baca doa cari di goggle kalau gak hafal. atau apa gitu biar dirimu tenang," jawab Galih
"Andaikan aku punya kantung doraemon mungkin aku akan minta pintu ajaib kemana saja," ucap Daniel
"Eh, kamu disuruh nenangin diri malah ngelantur halumu kebangetan. kalau kamu mau kantungnya doraemon kamu jadi aja nobita," jawab Galih
"Lha bener kan, andai aja doraemon kita gak usah antri macet gini di jalanan," saut Daniel
"Ya udah sono jadi nobita. selain bucin ternyata kamu juga kebanyakan nonton doremon setiap minggu jam delapan di RCTI," ucap Galih
"Lha, kok aku jadi yang disalahin. aku tahunya juga dari anak sepupu jadwal doraemon." ucap Galih
"Udah udah banyak omong kamu," saut Daniel
"Bukanya dia yang ngoceh mulu karena macet," batin Galih
Daniel yang saat itu memberhentikan obrolan konyol dengan Galih sontak meraih ponselnya. Daniel berpikir ada benarnya juga baca doa untuk menenangkan hati dan pikiranya yang tidak tenang. Tanpa berpikir panjang, Daniel mencari doa doa untuk menenangkan hati dan pikiranya di goggle lalu membacanya didalam hati.
3 jam kemudian, Jam sudah menunjukan pukul 15.00. Artinya dua jam lagi mereka akan segera sampai di Tulungagung. Saat itu di dalam mobil, Galih dan Daniel yang duduk di kursi depan sedang saling berdiskusi untuk memikirkan strategi baru saat sampai di Tulungagung.
Sementara Niken yang duduk kursi belakang baru saja terbangun dari tidurnya yang lelap. Niken memang semalaman tidak tidr hingga sampai pagi hari karena menangis, berteriak ,dan memberontak. Saat Niken bangun dari tidurnya, dirinya melihat Daniel dan Galih terus berdiskusi. Niken tahu Daniel dan Galih merencanakan sesuatu yang buruk pada dirinya. Niken yang merasa tidak aman saat itu tiba tiba berteriak
__ADS_1
"Tolong...Tolong..." teriak Niken
Kebetulan mobil yang dikendarai masih berhenti di lampu merah. Galih dan Daniel terlihat emosi melihat kelakuan Niken. Terutama Daniel yang otaknya sudah menggebu nggebu. Tanpa ragu, Daniel saat itu langsung menggertak Niken.
"Hei...apa maksudmu teriak teriak?" tanya Daniel
"Aku mau lepas. Lepaskan aku !!!" teriak Niken
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum dirmu meminta maaf pada keluarga istriku," ucap Daniel
"Tolong...Tolong...siapa pun diluar tolong saya !!!" teriak Niken
"Hei, kau..." jawan Daniel terpotong
Ucapan Daniel terpotong saat itu juga karena mendengar suara ketukan jendela mobil secara tiba tiba.
"Tok...Tok...Tok" (bunyi ketukan pada jendela mobil)
--------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga
__ADS_1