
30 menit kemudian, Galih dan Daniel sudah sampai di kantor. Sesampainya di kantor terlebih dahulu Daniel mengenalkan Ihsan kepada Galih.
"Pak perkenalkan ini karyawan baru Haidar Group namanya Ihsan. Ihsan akan membantu saya bekerja dalam bidang penerjemah bahasa," ucap Daniel
Galih kemudian menatap Ihsan
"Ihsan, saya harap kamu bisa bekerja dengan baik di Haidar Group," ucap Galih
"Iya Pak, siap," jawab Ihsan
Daniel kemudian menyuruh Ihsan ke ruanganya untuk mulai bekerja. Di ruangan saat itu hanya tinggal Daniel dan Galih. Daniel menatap Galih hari ini tak seperti biasanya. Galih terlihat lesu dan tak bersemangat. Daniel yang curiga Galih ada masalah rumah tangga mencoba bertanya.
"Pak, apa bapak ada masalah?" tanya Daniel
"Gak usah lebay deh, gak usah pak segala panggilnya," jawab Galih
"Baiklah Kak, apakah kamu ada masalah?" tanya Daniel
"Tanpa aku menjawab kamu bisa menebaknya," jawab Galih
"Kalian bertengkar?" tanya Daniel
"Lebih tepatnya seorang suami yang merasa terabaikan oleh istrinya. yah, mungkin ini nasib rumah tanggaku. entahlah aku tidak tahu kedepanya apakah aku akan menyandang gagal berumah tangga untuk yang kedua kalinya," jawab Galih
Daniel saat itu memahami apa yang dirasakan Galih. Walaupun Galih tidak bercerita detail permasalahan rumah tangganya, tapi Daniel tahu rasanya memiliki istri yang memiliki kesibukan diliar rumah. Daniel sontak saat itu menceritakan rumah tangganya.
__ADS_1
"Asal Kak Galih tahu, aku pernah berada di posisi Kak Galih. bahkan aku lebih parah lagi. aku harus membuat istriku benar benar jatuh cinta sepenuhnya kepadaku sebelum melakukan hubungan itu. dulu istriku sangat membenciku karena aku adalah seorang preman," ucap Daniel
"Lalu bagaimana istrimu akhirnya menerimamu sepenuhnya? kamu tahu kan aku dan istriku saling mencintai. tapi apa? kita hanya gitu gitu aja gak ada kemajuan seperti dirimu dan Chintia yang sekarang sudah memiliki Erlan," jawab Galih
"Iya aku mengerti. mungkin Hesti terlalu nyaman menikmati dunia kesibukanya diluar rumah. dan kamu juga sama terlalu nyaman dengan kesibukanmu sekarang," ucap Daniel
"Menurutku dia kurang peka Nil, aku mendiamkanya agar dia sadar akan kesalahanya. aku ingin hidup normal seperti pasangan suami istri pada umumnya. tidak dengan kehidupan rumah tanggaku sekatag yang dari luar terlihat harmonis tapi dari dalam masing masing sibuk dengan dunianya sendiri sendiri," jawab Galih
"Ada satu cara untuk memperbaiki kondisi rumah tangga kalian sekarang," saut Daniel
Galih langsung menatap Daniel dengan intene kemudian bertanya.
"Apa maksudmu? bagaimana cara yang kamu maksud?" tanya Galih
"Kalian butug honey moon," jawab Daniel
"Hah? Honey Moon? kamu pikir dia mau gitu aku rayu sampai aku berlutut mengajaknya honey moon? sungguh mustahil. suaminya itu buku biologinya bukan diriku," ucap Galih
"Kak, yang diinginkan wanita itu adalah kasih sayang yang penuh kelembutan bukan pemaksaan. aku tahu istrimu salah karena tidak melayanimu. sama juga dengan Chintia dulu. entah alasan capek, mengantuk, dan alasan alasan lain untuk menghindar. tapi asal kakak tahu aku mengajaknya dengan penuh kelembutan," jawab Daniel
Galih merasa nasehat Daniel ada benarnya. Namun bukan Galih namanya jika tidak punya rasa gengsi pada adiknya. Galih saat itu melakukan aksi gengsinya denhan merasa apa yang dilakukan Daniel sudah dirinya pikirkan.
"Hmm..aku sudah memikirkanya. dan aku tahu dia lebih cinta sama buku biologinya. kamu tidak perlu menceramahiku," ucap Galih bohong
"Kamu pikir aku bodoh? mulutmu bicara seperti itu tapi matamu terlihat memikirkan apa yang aku katakan. aku bukan psikolog, tapi anak SD mungkin tahu kalau kamu sedang gengsi,," goda Daniel
__ADS_1
"Apa maksudmu? memang benar kenyataanya," jawab Galih
"Kenyataanya kamu memikirkan cara bagaimana mengajak istrimu honeymoon dengan kelembutan dan kasih sayang. haha..." saut Daniel
"Terserah, kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu," jawab Galih
"Ok Kakaku," saut Daniel dikemayukan
"Gih..pergi sono," jawab Galih
Daniel saat itu hendak pergi, namun dirinya mengingat sesuatu. Tanpa berpikir panjang Daniel langsung bertanya pada Galih.
"Oh iya, karena memikirkan masalahmu aku jadi lupa mau mengatakan sesuatu," ucap Daniel
"Hmm...pembicaraan kita kemarin kan maksudmu? kamu tenang saja kakakmu yang jenius ini tidak lupa, nanti sore kita kesana," jawab Galih
"Ok, kamu memang kakaku yang jenius. tapi kamu kurang mahir dalam ehem..." saut Daniel
"Eh somplak, pergi sono," jawab Galih
"Ah...kabor..." saut Daniel meninggalkan ruangan.
---------------
@@@@@
__ADS_1
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga