Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
154. SEPERTI IKUT MASTER CHEF


__ADS_3

Malam hari, Daniel dan Galih sudah pulang dari kantor. Nenek Irah menyambut kedua cucunya lalu menyuruhnya makan.


"Kalian makanlah, istri istri kalian hari ini memasak makanan yang enak," ucap Nenek Irah


Daniel dan Galih mengangguk lalu menuju di meja makan. Di meja makan, Galih dan Daniel melihat Hesti dan Chintia banyak berkeringat. Galih yang penasaran dengan kondisi dua wanita itu mencoba menanyai neneknya.


"Nek, apa yang terjadi dengan mereka? mereka banyak berkeringat," tanya Galih


"Iya seperti habis lari maraton. dan kamu Chintia, kamu lagi hamil mengapa kamu berkeringat?" tanya Daniel


"Tidak usah cemas, mereka habis belajar memasak sama nenek. dan untuk kamu Putra, kamu tenang saja. Chintia hanya melakukan pekerjaan ringan. lagipula nenek mengawasinya. ibu hamil selain istirahat harus gerak. biar ototnya gak kaku pas lahiran," jawab Nenek Irah


"Apa? belajar memasak?" tanya Galih


"Iya mereka seharian belajar memasak sama nenek," jawab Nenek Irah


"Bukanya mereka bisa memasak? mengapa harus belajar. masakanya enak loh Nek," tanya Galih


"Mereka berdua terlalu candu dengan teknologi dan serba instan. Sekarang seba ajaib. hanya karena kecanggihan teknologi dan suatu hal yang serba instan. semua orang jadi bisa memasak. Nenek tidak mau menantu nenek candu sama gituan, nenek tidak suka. menantu nenek harus benar benar bisa memasak," jawab Nenek Irah


"Iya Nek," jawab semuanya


"Ok, evaluasi hari ini Hesti dan Chintia terlalu candu dengan teknologi canggih dan bumbu serba instan. besok siang nenek minta Chintia masak semur tahu tempe, dan Hesti kamu tumis buncis dan wortel." saut Nenek Irah


--- Flashback On ----


Siang hari, Chintia dan Hesti sedang asyik menonton film drama korea. Semenjak hamil, Chintia mulai memilki ketertarikan dengan drama korea. Apalagi sekarang Chintia berada satu rumah dengan Hesti. Hesti yang memiliki koleksi film drama korea yang banyak di laptopnya menunjukanya pada Chintia

__ADS_1


Saat sedang seru serunya menonton film drama korea. Nenek Irah tiba tiba nyelonong menghampiri Hesti dan Chintia menyuruhnya masak.


"Chintia, Hesti, ayo masak di dapur. nenek ingin melihat kalian memasak," ucap Nenek Irah


"Nek, tapi kita bukanya sudah makan siang. memang kita mau memasak untuk siapa Nek?" tanya Hesti


"Tentu saja untuk suami kalian," jawab Nenek Irah


"Tapi Nek, Mas Galih dan Mas Daniel nanti pulang jam 7 malam," saut Chintia


"Makanya itu, kalian harus belajar memasak dengan benar. Nenek ingin melihat kalian memasak. Nenek curiga kalian sebenarnya bisa memasak hanya karena bumbu instan yang kebanyakan penyedap. sekarang buktikan kalau kalian bisa memasak," jawab Nenek Irah


"Iya Nek," saut Hesti dan Chintia


Nenek Irah diikuti kedua menantunya berjalan menuju dapur. Di dapur saat itu, Nenek Irah menyuruh kedua menantunya membuat masakan terenak. Hesti dan Chintia merasa tidak keberatan awalnya karen mereka bisa memasak. Hesti dan Chintia keduanya memilih masakan yang simpel suapaya cepat matang. Karena mereka berdua masih terbayang bayang film drama koreanya yang masih belum selesai.


Hesti saat itu ingin membuat tempe terong balado. Bagi Hesti, tempe terong balado bisa dimasaknya dengan mudah. Namun saat memasak nenek irah menengur Hesti.


"Biar cepet alus Nek," jawab Hesti


"Ini coba lihat bumbunya kalau pakai blender, ini encer sekali. ini kurang nikmat nanti jika dimasak. buat sedikit lebih kental. coba diulek aja bumbunya pakai cobek. teknologi canggih tidak menjamin masakan enak" ucap Nenek Irah


"Iya Nek," jawab Hesti pasrah


"Dan juga, terong dan tempe yang kamu masak kematengan itu, seharusnya setengah mateng biar ngeresap pas d masak pakai bumbu balado," ucap Nenek Irah


"Baik Nek," jawab Hesti pasrah.

__ADS_1


"Ah, aku berasa seperti ikut master chef. nenek diam diam mengalahkan chef renata judesnya," batin Hesti


Sementara Chintia, lebih memilih memasak kari ayam. Bagi Chintia, kari ayam adalah masakan yang mudah dibuat. apalagi sudah ada bumbu racikan penyelamatnya. Bumbu racikan itu menurut Chintia menjadi alternatif memasaj kari ayam dengan cepat. Nenek Irah yang tidak menyukai serba instan langsung. menegur Chintia.


"Mengapa nggak racik sendiri bumbunya?" tanya Nenek Irah


"Biar gak lama Nek, pasti enek kok Nek," jawab Chintia


"Nenek gak mau kamu pakai bumbu instan itu, nenek ingin kamu racik sendiri," ucap Nenek Irah


"Iya Nek," jawab Chintia


"Karena kamu hamil nenek akan mengawasimu dan kalau butuh apa apa bilang sama nenek," ucap Nenek Irah


"Iya Nek," jawab Chintia


"Fix, ini mah nenek cocoknya jadi juri master chef," batin Chintia


Dua masakan Hesti dan Chintia cukup memakan waktu. Karena jiwa emak emak Nenek Irah muncul membuat Hesti dan Chintia tak berkutik. Chintia hanya mengulang sekali saat membuat bumbu kari sementara Hesti mengulang dua kali karena Nenek Irah ngomel masakanya yang kurang pas. Selain dua masakan tempe terong balado dan kari ayam, Nenek Irah juga membuat tumis kangkung yang rasanya memang enak tak tertandingi


----- Flashback Off ----


Sesudah makan malam, Semua meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya masing masing. Namun didalam kamar Daniel dan Chintia, tiba tiba ada suatu permintaan konyol Chintia yang mau tidak mau harus dijalankan oleh Daniel.


---------------


@@@@@

__ADS_1


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


__ADS_2