
Malam hari, Chintia masih gelisah menunggu kedatangan Daniel. Chintia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Daniel.Chintia ingin mencoba menelpon Daniel, tapi dirinya lupa belum bertukar nomor dengan Daniel.
"Haduh, bodohnya aku seminggu nikah tidak tahu nomor suami." gumam Chintia
Entah apa yang melanda perasaan Chintia hari ini tiba tiba dirinya khawatir dengan Daniel. Chintia yang menyadari rasa kekhawatiramya pada Daniel bertanya tanya pada dirinya sendiri tentang perasaanya terhadap Daniel.
"Aku mengkhawatirkan Mas Daniel. hari ini Mas Daniel belum juga pulang. dulu aku takut dan benci padanya, tapi aku sekarang merasa takut kehilangan. apakah aku sudah mencintai Mas Daniel? atau aku hanya merasa bersalah aja?" batin Chintia
Sudah 2 jam lebih Chintia menunggu diruang tamu lesehan tapi dirinya belum juga mendapati tanda tanda kedatangan. Chintia sebenarnya sangat mengantuk, tapi dirinya masih setia menunggu suaminya di ruang tamu.
"Pokoknya jangan tidur dulu. mataku harus kuat." ucap Chintia
Jam di dinding menunjukan pukul 23.00, mata Chintia yang tak bisa menahan rasa kantuk akhirnya tertidur pulas di lesehan ruang tamu beralas karpet serta dirinya lupa menutup pintu.
Disisi lain, Daniel masih dalam perjalanan kontrakan Chintia. Daniel sebenarnya masih marah dam cemburu dengan Chintia. Tapi tetap saja dirinya ikut khawatir jika Chintia berada di kontrakan sendirian.Daniel takut jika kejadian seperti lampu mati seminggu yang lalu terulang kembali saat Chintia sendiran.
__ADS_1
15 menit kemudian, Sesampainya di depan kontrakan Chintia, Daniel panik melihat pintu kontrakan yang masih dalam keadaan terbuka. Daniel takut dan khawatir telah terjadi sesuatu pada Chintia. Tanpa berpikir panjang, Daniel masuk kedalam kontrakan Chintia.
"Chintia," ucap Daniel
Saat memasuki kontrakan, Daniel terkejut melihat Chintia tertidur meringkup di ruang tamu. Daniel merasa tenang, pikiran aneh aneh terjadi sesuatu pada Chintia tidak terjadi. Namun, Daniel merasa bersalah pada Chintia, karena ulahnya mendiamkan Chintia dan pergi tanpa pamit membuat Chintia tertidur di karpet ruang tamu.
"Chintia, aku minta maaf karena terlalu egois. aku mendiamkanmu dan pergi tanpa pamit karena cemburu melihatmu dekat dengan pria lain. aku cuma ingin kamu memutuskan masa depan kebahagiaanmu." ucap Daniel lirih
Daniel lalu menutup pintu kontrakan dan bergegas meggendong Chintia menuju ke kamar. Sesampainya dikamar, Daniel merebahkan tubuh Chintia diatas ranjang lalu bergegas ke ruang tamu untuk tidur. Sebenarnya ingin sekali Daniel tidur bersama Chintia, tapi niatnya dirinya urungkan karena takut Chintia terkejut. Namun ,saat Daniel beranjak dari ranjang tiba tiba mendengar Chintia mengingau dan menangis dalam kondisi tidur.
"Chintia," ucap Daniel
"Mas, aku minta maaf," saut Chintia menangis dalam tidurnya
Daniel yang tak tega melihat Chintia langsung kembali duduk diatas ranjang kemudian mengelus ngelus rambut Chintia dan berusaha menenangkanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf, jangan takut, aku ada disini melindungimu." ucap Daniel lirih
Tak lama kemudian, Chintia sudah tenang tidak mengingau akhirnya tertidur lelap. Daniel yang melihat Chintia tertidur merasa senang istrinya sepertinya memimpikan dirinya.
"Chintia, apakah benar kamu memimpikan aku? apakah juga benar kamu takut kehilanganku? aku mencintaimu Chintia, aku berharap kamu mulai membalas cintaku." batin Daniel
Daniel yang perlahan tidak kuat menahan rasa kantuknya kemudian tertidur. Dirinya mendekap tubuh Chintia karena menurutnya dekapan yang dirinya berikanya pada Chintia, membuat Chintia merasa nyaman dalam tidurnya.
--------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga
__ADS_1