
Setelah mendapat informasi tentang Chintia, Hesti dan Melati tidak pulang ke kosnya. melainkan Hesti dan Melati mencoba iseng iseng bertamu di kontrakan Chintia. Sebenarnya Hesti dan Melati gugup mengunjungi kontrakan Chintia. Hesti dan Melati belum mengenal suami dari Chintia. Namun rasa penasaram tingkat maksimum mereka, memaksan mereka untuk mencari kebenaran dari teka teki kehidupam Chintia.
Sesampainya di depan pintu, Melati mengetuk pintu kontrakan Chintia
"Dok...Dok...Dok..."
Dari dalam kontrakan Daniel yang bergegas berangkat kerja membukakan pintu.
"Ceklek" (pintu rumah kontrakan)
Hesti dan Melati terkejut melihat pria tampan berseragam satpam membukakan pintu. Daniel melihat dua gadis yang berkunjung sontal menanyainya tujuan kedatanganya.
"Maaf, kalian siapa ya? apa temanya Chintia?" tanya Daniel
"Iya Pak" jawab Melati
"Baiklah, kalian tunggu di dalam. maaf ya, kontrakan kami tidak ada kursi hanya alas karpet," saut Daniel
"Iya Pak, tidak apa apa," jawab Melati
"Saya panggilkan Chintia dulu," ucap Daniel
"Iya Pak" jawab Hesti dan Melati bersmaan
Daniel bergegas masuk kedalam kamar memanggil Chintia. Di dalam kamar, dilihatnya Chintia sedang bersiap akan berangkat kerja.
"Chintia, di ruang tamu ada dua temanmu mencarimu," ucap Daniel
"Apa? temanku? siapa Mas? " tanya Chintia
__ADS_1
"Mas juga tidak tahu, Mas kira kamu sudah janjian sama mereka," jawab Daniel
"Cewek atau Cowok Mas?" tanya Chintia
"Ada dua cewek mencarimu. katanya kamu temanya pas Mas tanya," jawab Daniel
"Hesti...Melati...mengapa dua orang itu disini," batin Chintia
Daniel melihat Chintia melamun sontakmenyuruh Chintia menemui kedua temanya.
"Chintia, kok bengong? samperin teman kamu di ruang tamu. Mas akan siap siap bentar terus berangkat. jam istirahat Mas sudah mau habis," ucap Daniel
"Iya Mas, aku kesana," jawab Chintia
Chintia sangat gugup bertemu dengan kedua sahabatnya. Apalagi kedua sahabatnya sudah melihat Daniel. Chintia bergegas berjalan ke ruang tamu, dirinya pasrah jika akan di introgasi sahabatnya. Sesampainya di ruang tamu, Chintia menghampiri Hesti dan Melati yang terduduk lalu bertanya tanya.
"Kalian berdua kok bisa tahu kontrakanku?" tanya Chintia
"Iya Chin, maaf kami lancang. Soalnya menurut kita berdua kamu gak seperti biasanya kalau ketemu kita, kalau ada masalah cerita aja sama kami berdua Chin," ucap Hesti
Chintia ingin sekali marah pada kedua sahabatnya karena berbuat lancang mengikutinya diam diam, tapi apa boleh buat, Chintia tidak bisa marah karena apa yang dilakukan Hesti dan Melati adalah bentuk keharmonisan dalam perdahabatan dengan rasa saling peduli dan perhatian. Chintia bingung harus memulai pembicaraanya kepada kedua sahabatnya. Hesti dan Melati yang menyadari gerak gerik kebingungan Chintia dalam menceritakan kehidupanya. Tanpa berpikir panjang Melati menanyakan sesuatu pada Chintia.
"Chin, kalau boleh tahu siapa laki laki yang tinggal bersamu?" tanya Melati
"Oh, laki laki itu sepupu aku," jawab Chintia bohong
"Sepupu? tapi kok kata pemilik rumah sebelah katanya kamu sudah menikah," saut Hesti
"Apa, mereka tahu aku sudah menikah" batin Chintia
__ADS_1
Hesti dan Melati yang meihat Chintia terdiam kembali menanyakan sosok laki laki di dalam kontrakan.
"Chin, kok diam aja? kebenaranya bagaimana?" tanya Hesti
"Iya Chin, jawab pertanyaan kami," saut Melati
"Laki laki tadi sepupu aku.mungkin karena kita deket orang orang ngganggap kami suami istri," jawab Chintia
"Maafkan aku, aku berbohong, aku belum siap," batin Chintia
"Oh, iya udah Chin, kalau gitu kami pamit dulu ya? maaf nih kami ganggu," tanya Hesti
"Nggak kok, kalian gak ganggu," jawab Chintia
"Kapan kapan kamu mampir ke kos kita ya Chin? sekarang kami pamit dulu, assalamualaikum," ucap Melati
"Iya, waalaikumsalam hati hati," jawab Chintia
Setelah Hesti dan Melati pergi, Chintia melihat jam dinding sudah telat 10 menit. Chintia tanpa berpikir panjang segera berjalan cepat menuju tempat bekerjanya.
Sementara itu di dalam kamar, Daniel meneteskan air matanya membasahi pipinya. Sebenarnya setelah shalat maghrib Daniel hendak berpamitan dengan Chintia. Tapi belum melangkahkan kakinya di ruang tamu, Daniel tidak sengaja mendengar obrolan Chintia dengan teman temanya. Daniel mendengar Chintia bicara kepada teman temanya menganggap dirinya adalah sepupu. Daniel merasa dirnya tidak dianggap suami oleh Chintia, bahkan Daniel mulai meragukan cinta Chintia kepadanya.
"Chintia, aku mencintaimu, sekarang hatiku sakit kamu menganggapku sepupu di hadapan teman temanmu. apakah kamu belum mencintaiku? apakah aku masih terlalu buruk? apakah aku tidak pantas menjadi suamimu? sungguh aku merasa aku hanya bayangan sekarang dalam hidupmu." batin Daniel
-----------
@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
__ADS_1
Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga