
--- Di Kontrakan ---
Sesampainya di kontrakan, Daniel duduk di lantai halaman kontrakan Chintia untuk berjaga malam. Daniel tidak peduli entah Chintia membencinya, memakinya, atau tidak menganggapnya sebagai suami. Dirinya tetap akan berusaha melindungi dan membahagiakan Chintia. Daniel juga menyadari kalau Chintia perlu waktu untuk menerimanya karena dirinya dimata Chintia adalah preman yang jahat.
Di sisi lain, didalam kamar Chintia tidak bisa tidur memikirkan pernikahan mendadak yang barusan dialaminya. Chintia menikahi seorang preman yang telah merampok dan menyekapnya di gudang. Chintia menyadari kalau Daniel memang menyelamatkaya tapi sebenarnya dirinya juga masih merasa takut dan tidak nyaman jika berdekatan bersama Daniel.
Jam menunjukan pukil 00.00 WIB. Chintia masih saja tidak bisa tidur. Chintia berinisiatif ke dapur untuk membuat susu agar saat setelah dirinya meminumnya rasa kantuk datang dimatanya. Setelah membuat susu, Chintia ingin menikmati susunya di ruang tamu dengan duduk lesehan beralaskan karpet. Karena memang kontrakan Chintia ruang tamunya tidak memiliki kursi dan meja. Saat menikmati susu hangatnya, Chintia mendengar hembusan angin kencang dan gemuruh badai seperti hendak akan turun hujan. Chintia mencoba melihat kondisi luar rumahnya tiba tiba dirinya terkejut melihat Daniel terduduk di halaman kontrakanya.
"Lho, kok preman ini masih disini? katanya mau pulang? sebenarnya apa sih mau preman ini? apakah preman ini merencanakan sesuatu perampokan atau penyekapan lagi padaku? Oh, tidak semoga itu tidak terjadi," batin Chintia
Chintia terus menatap gerak gerik Daniel karena takut Daniel tiba tiba menyelekainya. Namun beberapa saat kemudian, hujan turun lebat dan suata petir yang menggelegar membuat Chintia ketakutan
"Duar" (bunyi petir yang menggelegar )
"Aaaa..." teriak Chintia meringkuk disudut ruang tamu
"Chintia..." teriak Danial panik
Dari luar, Daniel panik mendengar suara teriakan Chintia. Daniel takut terjadi apa apa pada Chintia. Tanpa ragu Daniel mendobrak pintu kontrakan lalu masuk kedalam menghampiri Chintia yang duduk meringkuk ketakutan. Daniel mencoba berjalan menghampiri Chintia, tapi Chintia menghentikan langkah Daniel.
__ADS_1
"Stop !!! menjauhlah, jangan dekati aku," teriak Chintia
Daniel menghentikan langkahnya menuruti ucapan Chintia. Diluar hujan yang lebat dan petir yang menyambar berhasil menumbangkan pohon. Tumbangnya pohon mengenai kabel tiang listrik sontak membuat padam lampu di area kompleks perumahan.
"Tep" (lampu kontrakan padam)
Chintia yang takut gelap menahan rasa takutnya dengan terus menutup matanya karena takut. Namun rasa takut pada Chintia sudah tidak tertahankan karena suata petir yang menggelegar terus menghantuinya.
"Duar"(suara petir menggelegar)
"Aaaa...aku takut !" teriak Chintia menangis
"Sudah, jangan takut, ada aku disini," ucap Daniel sembari memeluk Chintia
"Tolong, jangan sakiti aku," jawab Chintia yang takut dengan Daniel
"Aku tidak akan menyakitimu. jangan khawatir, aku akan selalu menjaga dan melindungimu," saut Daniel
Chintia tetap saja ingin memberontak pelukan dari Daniel, tapi dirinya terlanjur merasa nyaman dan tenang saat Daniel memeluknya. Justru karena dinginnya udara diluar karena hujan. Chintia tiba tiba kebelet buang air kecil. Ingin sekali pergi ke kamar mandi tapi kontrakanya gelap karena listrik padam.Chintia ingin meminta bantuan Daniel tapi dirinya bingung harus memulai pembicaraaanya. Rasa kebelet yang tak tertahankan akhirnya membuat Chintia memulai pembicaraanya pada Daniel.
__ADS_1
"Mas," ucap Chintia
Daniel mendengar Chintia memanggilnya dengan sebutan mas dirinya sungguh sangat senang. Daniel melonggarkan pelukanya pada Chintia lalu bertanya pada Chintia.
"Iya, ada apa chintia?" tanya Daniel
"Aku kebelet pipis. bisakah menemaniku ke kamar mandi?" ucap Chintia
"Iya, ayo aku antar," jawab Daniel
Daniel berjalan menuntun Chintia ke kamar mandi.
--------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga
__ADS_1