Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
156. PEDAGANG MISTERIUS


__ADS_3

3 hari kemudaian, hari minggu yang dinanti nantikan sudah datang. Galih, Daniel, Hesti, dan Chintia berencana ingin jalan jalan di taman Menteng. Taman Menteng punya sejarah cukup panjang dan kini menjadi salah satu tempat wisata Menteng yang cukup populer di Jakarta. Letaknya yang berada di kawasan Menteng membuat taman ini dinamakan Taman Menteng


Taman Menteng memiliki luas kawasan sekitar 30 hektar. Taman Menteng dulunya adalah Stadion Mennteng yang dialih fungsikan sebagai penghijauan kota. Di dalamnya ada sekitar 1000 pohon dari 30 jenis tanaman hias. Adanya pepohonan tersebut membuat suasana di taman ini sangat asri, sangat cocok sebagai tempat melepas penat atapun kumpul-kumpul keluarga. Selain itu Taman Menteng juga sudah dilengkapi beberapa fasilitas. Di sana terdapat sarana olahraga, taman bermain, hingga para pedagang serta penjaja kuliner.





Chintia, Hesti, Daniel dan Hesti sangat menikmati keindahan pemandangan di Taman Menteng. Namun saat berjalan menyusuri Taman Menteng Chintia yang sedang hamil saat itu ingin membeli batagor.


"Mas, aku mau beli batagor, dimana ya ada penjual batagor disini?" tanya Chinta


"Kita coba cari diluar area taman, jelasnya banyak penjual disana," jawa Daniel


"Hesti, Mas Galih, kalian juga ikut makan batagor kan?" tanya Chintia


"Iya boleh, ayo kita kesana cari batagor," jawab Hesti


"Hmm.." jawab semua


Tak butuh waktu lama, mereka berempat menemukan tempat tujuanya yakni penjual batagor. Terlihat penjual batagor itu memakai jaket kulit, topi hitam dengan rambut diikat pendek serta memakai kaca mata dan juga masker serba hitam. Jika dilihat dari jauh mungkin penjual batagor itu terlihat seperti boy band.



Karena sudah meras lapar, Chintia yang memandu ketiga pasukanya makan batagor langsung memesan batagor pada penjual batagor.

__ADS_1


"Mas, batagornya empat porsi makan sini," ucap Chintia


"Iya Mbak," jawab Penjual Batagor


Mendengar suara penjual batagornya adalah perempuan, Chintia sontak langsung meminta maaf.


"Maaf mbak, saya kira mbaknya tadi laki laki," ucap Chintia


"Iya mbak, silahkan duduk," jawab penjual batagor


15 menit kemudian, pesanan Chintia sudah datang. Pedagang batagor itu meletakan piring dimeja kemudian kembali ke tempatnya. Namun saat berjalan kembali ke tempatnya, tidak sengaja pedagang batagor itu bertabrakan dengan seseorang.


"Bruk"(Penjual Batagor bertabrakan dengan seseorang)


Karena tabrakan itu topi dan kaca mata pedagang batagor itu terlepas


"Iya mbak, tidak apa apa," jawab Pedagang Batagor


Chintia, Hesti, Daniel, dan Galih melihat Pedagang Batagor itu saat tertabrak. Chintia dan Hesti memandang biasa dan melanjutkan menyantap batagornya. Akan tetapi Daniel dan Galih menatap Pedagang Batagor itu nampak tak biasa. Walaupun hanya memakai masker, Daniel dan Hesti merasa tak asing dengan wajah Pedagang Batagor itu.


"Siapa pedagang itu? aku merasa pernah melihatnya, apa jangan jangan dia...eh tapi tunggu tunggu, aku akan merudingkan ini dengan Kak Galih terlebih dahulu sebelum menyimpulkan apa yang kulihat" batin Daniel


"Apakah aku gak salah lihat ? aku seperti sangat mengenali pedagang itu, tapi sebelum aku menyimpulkan siapa pedagang misterius itu, aku akan menyelidikinya bersama Daniel," batin Galih


Semenrara, Pedangang Batagor yang kacamata dan topinya terlepas sangat panik dan bergegas memaka topi dan kacamata yang terlepas barusan. Chintia dan Hesti masing masing memandang suaminya yang menatap serius Pedagang Batagor itu. Tanpa ragu, Chintia dan Hesti masing masing menengur suaminya.


"Mas, ayo dilanjutin makanya, kok malah bengong liatin mbak pedagang batagor," ucap Chintia

__ADS_1


"Iya nih, Mas Galih juga kompakan banget bengong," jawab Hesti


"Tidak apa apa, ayo lanjutin makanya, habis ini kita pulang," ucap Galih


Chintia, Daniel, Galih, dan Hesti melanjutkan makanya menyantap batagor. Namun ada salah satu seseorang dari mereka yang terlihat berbeda. Siapa lagi kalau bukan si ibu hamil yang makanya paling lahap. Disaat semuanya masih menghabiskan separuh porsi batagor. Chintia nampak sudah menghabiskan porsi batagornya. Tanpa ragu, Chintia memuji enaknya batagor yang dirinya makann dan juga memesan lagi.


"Eh, batagor ini enak banget, aku ingin membeli dua porsi lagi. satu aku makan sini lagi, satunya lagi dibungkus untuk aku makan lagi di rumah," ucap Chintia


"Chintia, apa kamu nggak kekenyangan? ini porsi banyak sekali batagornya, bahkan Mas, Hesti dan Kak Galih baru saja habis setengah porsi" tanya Daniel


"Aku masih sangat lapar, aku mau memesan lagi," jawab Chintia


Chintia menoleh kearah pedagang batagor.


"Mbak, aku tambah satu porsi makan sini, sama satu porsi nanti dibungkus," ucap Chintia


"Iya Mbak," jawab Pedagang Batagor


Hesti, Galih, dan Daniel hanya bisa ngelus dada melihat Chintia yang tidak kenyang dengan porsi jumbo batagor seharga 15.000. Namun, mereka bertiga memahami kalau Chintia sedang hamil.


---------------


@@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga

__ADS_1


__ADS_2