Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
76. MENJADI BENTENG


__ADS_3

Degg...


Daniel terkejut saat mendengar ucapan Chintia yang sangat menyayat hati. Orangtua Chintia menginginkan perjododohan dimajukan dalam kurun waktu waktu 3 hari lagi. Dunia seakan mau kiamat, itulah yang dirasakan Daniel sekarang. Daniel terduduk lemas di di meja makan dengan tatapan kosong.


Semantara Chintia, dirinya hanya bisa menanagis tanpa henti karena rencana perjodohan orangtuanya. Daniel memang sedih, hatinya sakit dan juga ingin rasanya dirinya ikut menangis. Namun luapan kesedihan Daniel terpaksa tertahan karena melihat Chintia yang sangat rapuh. Daniel berusaha untuk tegar dan kuat karena dirinya harus menenangkan Chintia. Kalau bukan dirinya yang bisa menenangkan istrinya lalu siapa lagi kalau bukan dirinya. Hal itulah yang terlintas dipikiran Daniel.


"Chintia," sapa Daniel


Daniel merentangkan kedua tanganya isyarat akan memberikan pelukan kepada Chintia. Chintia yang saat itu masih menangis menoleh kearah Daniel dan tanpa berpikir panjang Chintia memeluk Daniel.


"Mas, aku harus bagaimana ? aku takut Mas," ucap Chintia


"Mas akan ikut kamu pulang kampung." jawab Daniel


"Tapi Mas, pekerjaan Mas disini bagaimana?" tanya Chintia


"Yang terpenting dalam hidup Mas adalah membahagiakan dirimu. Mas pernah berjanji kepadamu untuk mempertahankan pernikahan kita." jawab Daniel.


"Mas, tapi bagaimana cara Mas mempertahankan pernikahan kita? apa kita lebih baik kabur saja ya, Mas? kita nggak perlu ketemu Bapak dan Ibu." saut Chintia


Mendegarkan ucapan Chintia, Daniel tahu Chintia juga mencintai dirinya, namun menurutnya solusi dari Chintia bukan solusi yang terbaik. Daniel kemudian memegang kedua pipi Chintia dengan lembut berusaha memberikan ketenangan pada Chintia.


"Kabur tidak akan menyelesaikan masalah." ucap Daniel


"Terus, apakah Mas ingin melihatku dilamar pria lain yang tidak aku cintai? Bapak ingin aku lamaran di hari itu juga Mas," saut Chintia

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir, Mas akan menjadi benteng saat bertemu orangtuamu nanti. Mas akan berusaha meyakinkan orangtuamu agar mau menerima Mas sebagai menantunya. Mas percaya, jika memang kita berjodoh, kita tidak akan terpisahkan." jawab Daniel


"Mas, tapi aku tidak siap jika dihari itu juga kita harus berpisah. aku tidak tenang Mas," ucap Chintia


"Cup" (ciuman Daniel mendarat di pipi Chintia)


Chintia yang mendapat perlakuan Daniel yang tiba tiba mencium pipinya sangat terkejut. Chintia merasakan kenyamanan saat bibir Daniel mendarat ke pipinya. Chintia hanya terdiam setelah mendapat ciuman dari Daniel. Sementara Daniel, dirinya tadi hanya berniat memberikan kenyamanan pada Chintia agar tidak terus panik. Melihat Chintia yang hanya terdiam, Daniel sedikit merasa bersalah langsung meminta maaf pada Chintia.


"Chintia, Mas minta maaf membuatmu kaget tadi. Mas gak bermaksud ingin menciumu kasar tadi." ucap Daniel


"Tidak Mas, aku hanya kaget sedikit saja karena belum terbiasa. Mas tidak perlu minta maaf. aku juga merasakan ketenangan kok Mas," jawab Chintia


"Kamu mau lagi? atau kamu mau membalasnya? Mas mau kok," goda Daniel


Chintia merasa malu saat mengakui ciuman Daniel sangat nyaman baginya. Pengakuan Chintia tanpa sadar membuat Daniel kegirangan dan terus menggodanya.


Disisi lain, Daniel tertawa kecil melihat raut wajah malu dari Chintia. Daniel melihat wajah Chintia semakin cantik dan imut saat sedang malu. Disaat itu juga hasrat Daniel juga mulai timbul, tanpa ragu Daniel izin pada Chintia untuk menciumnya lagi.


"Chintia, Mas cium lagi boleh?" tanya Daniel


"Hah?" jawab Chintia


"Tidak usah malu, kita sudah sah. Mas mulai ya?" ucap Daniel


Daniel memajukan wajahnya hendak mencium Chintia. Sementara Chintia yang masih tidak berpengalaman hanya terdiam saja seperti patung. Namun saat bibir Daniel hendak mendarat ke pipi kiri Chintia, tiba tiba terdapat suara yang menganggu.

__ADS_1


"Kruyuk...Kruyuk..."(suara perut)


Daniel yang bibirnya hanya tinggal beberapa sentimeter mendarat langsung terbuyarkan konsentrasinya saat mendengarkan suara perutnya yang kelaparan.


"Aishh...menganggu saja ini suara," ucap Daniel memegang perutnya


"Mas lapar?" tanya Chintia


"Iya, tapi Mas ingin menciumu dulu terus kita makan ke warung." jawab Daniel


"Mas, kita lebih baik makan dulu saja. aku juga lapar. ciuman nggak bisa buat kita kenyang." ucap Daniel


"Tapi..." ucap Daniel terpotong


"Ayo kita makan dulu ke warung Mas, ditunda tunda malah nanti kita antri dan semakin kelaparan." saut Chintia


"Eh, iya deh, kita makan dulu." jawab Daniel sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal


-----------


@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga

__ADS_1


__ADS_2