Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
145. GEJALA


__ADS_3

---- Di Kontrakan Daniel dan Chintia ---


Pagi hari, Chintia merasa tidak enak badan. badanya terasa lemas dan berkali kali mual dan muntah di kamar mandi. Dari kamar, Daniel mendengar suara Chintia yang sedang mual dan muntah. Daniel langsung panik saat itu berlari ke kamar mandi menghampiri Chintia.


"Chintia, kamu tidak apa apa?" tanya Daniel


"Hari ini aku merasa lemas Mas, maaf Mas aku gak bisa masak sarapan hari ini," jawab Chintia


"Tidak apa apa, Mas akan menjagamu dirumah. Mas bisa izin ke Galih hari ini. urusan sarapan Mas akan beli rawon dekat perumahan," ucap Daniel


"Mas kerja saja, aku tidak apa apa sendirian," jawab Chintia


"Apa kamu pikir Mas gak khawatir melihatmu keadaan seperti ini? Apa Mas harus meninggalkan kamu seharian dirumah dengan keadaanmu yang lemah seperti ini? Mas hari ini akan menjagamu, kamu tidak usah mikir macam macam," ucap Daniel


Chintia akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah mendengar ucapan suaminya. Daniel kemudian pamit sebentar membeli rawon pada Chintia untuk sarapan


"Mas, beli rawon dulu untuk kita sarapan. kamu jangan kemana mana," ucap Daniel


"Iya Mas," jawab Chintia


10 menit kemudian, Daniel sudah membawa rawon untuk menu sarapanya bersama Chintia. Daniel menyuapi Chintia dengan telaten hingga separuh nasi di mangkuk habis. Setelah itu, Daniel memberi obat penurun demam kepada Chintia kemuduan menyuruh Chintia istirahat.


Pehatian Daniel masih berlanjut ketika Chintia ingin pergi ke kamar mandi. Dengan badan yag terasa lemas, Daniel membopong Chintia ke kamar mandi. Bahkan saat Chintia buang air kecil, Daniel dengan setia memegangi Chintia agar tidak terjatuh.Kejadian ini mengingatkan Chintia saat dulu dirinya sakit. Perhatian Daniel masih sama, cinta Daniel kepadanya tidak berkurang, Hal itu sontak membuat Chintia terharu.


"Mas, terima kasih sudah merawatku," ucap Chintia


"Mas, ini suamimu. jadi kalau istrinya sakit suaminya pasti khawatir. sudahlah jangan bikin suasana jadi sedih haru gitu," jawab Daniel

__ADS_1


"Emang mengapa, Mas?" goda Chintia


"Gak apa apa, Mas gak suka nangis. jelek nanti wajah Mas," jawab Daniel


"Mas, kamu lucu banget?" saut Chintia


"Jangan menggoda Mas, kamu sedang sakit. sekarang kamu harus istirahat. Mas yang akan jagain kamu," ucap Daniel


Sore hari, deman pada Chintia belum turun juga. Hal itu membuat Daniel panik dan khawatir dengan istrinya. Namun yang bikin Daniel merasa aneh, Chintia merengek ingin makan ayam geprek sambel pencit. Daniel yang tahu Chintia sakit melarangnya.


"Chintia, kamu masih sakit. gak boleh makan pedes sama asam dulu, kalau sembuh deh Mas beliin," ucap Daniel


"Tapi aku ingin ayam geprek sambal pencit," jawab Chintia


"Mas beliin bubur ayam saja gimana? atau soto? atau mungkin rawon kaya tadi pagi?" tawar Daniel


"Ok baiklah, Mas akan membelinya." ucap Daniel


"Yeay...makasih Mas," jawab Chintia


"Iya sama sama, Mas beli menu itu dulu ya, jangan beranjak dari kamar," saut Daniel


"Iya Mas," jawab Chintia


30 menit kemudian, Daniel membawa menu ayam geprek sambal pencit pesanan Chintia Namun Daniel sangat cerdik, Daniel hanya memberi setengah sendok sambal pencit dalam ayam milik Chintia. Hal itu tentu membuat Chintia marah.


"Mas, sambal punyaku sedikit sekali, punya Mas banyak," ucap Chintia

__ADS_1


"Habisnya kamu sakit, Mas tidak ingin kamu malah makin sakit. yang penting ada sambal pencitnya kan? makan saja," jawab Daniel


"Mas, aku tambahin dikit lagi dong sambal miliku," ucap Chintia


"ini pedes, kamu gak kuat pasti. yang ada kamu malah sakit. lagian kenapa sih tiba tiba suka sambal padalan kamu gak doyan pedas," jawab Daniel


"Eh, bener juga ya Mas, tapi enak Mas sambalnya. namun sayangya hanya satu suapan sama nasi habis," saut Chintia


"Jangan jangan kamu gejala hamil?" tanya Daniel


"Hah kok bisa?" saut Chintia


"Iya bisalah, biasanya orang hamil ngidam. atau nanti Mas beliin tespeck deh, pagi pagi coba cek," jawab Daniel


"Iya Mas, Mas ini sambalku kurang banget loh, Mas pelit deh," saut Chintia


"Itu namanya Mas cinta dan sayang sama kamu, Mas peduli sama kesehatan kamu. jadi itu bukan pelit namanya," jawab Daniel


Chintia hanya terdiam karena terharu dengan ucapan suaminya. Memang benar Daniel sangat menyayangi dirinya. Bahkan sebenarnya Chintia tidak menyangka bisa menikahi preman yang ternyata baik kepadanya. Bahkan dulu yang masih membenci Daniel, sekarang rasa benci itu menjadi cinta.


---------------


@@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga

__ADS_1


__ADS_2