Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
115. YANG PENTING SAH


__ADS_3

Hesti saat itu terkejut dengan ajakan Galih menikah. Hesti tidak siap jika harus menikah di usianya yang belum genap 20 tahun. Hesti akhirnya terpaksa menolak mentah mentah ajakan Galih.


"Aku minta maaf, aku menolaknya," ucap Hesti


"Mengapa kamu selalu menolaku? apakah kamu sudah punya kekasih?" tanya Galih


"Aku tidak punya kekasih," jawab Hesti


"Lalu mengapa kamu terus menolaku?" tanya Galih


"Aku masih ragu, lagipula aku masih muda


Mas Galih bisa menikah dengan wanita lain. aku permisi," jawab Hesti


Hesti meninggalkan Galih sendirian di meja makan. Galih medobrak meja karena merasa kesal dengan penolakan dari Hesti. Disela sela kekesalanya Daniel dsn Chintia menghampiri Galih berusaha menenangkanya.


"Galih, mungkin Hesti merasa terkejut dengan ajakanmu menikah tiba tiba. kamu harus lebih bisa mengontrol emosimu," ucap Daniel


"Baiklah, aku duluan ya, terima kasih telah membantuku," jawab Galih


Galih saat itu memutuskan untuk pergi dari kafe meninggalkan Daniel dan Chintia.


----------------


Hingga larut malam hari, Galih masih mengemudikan mobilnya tanpa tujuan. Di dalam mobil Galih sangat frustasi karena sudah terlanjur mencintai Hesti. Sungguh, tidak mungkin Galih melupakan Hesti begitu saja.


"Ah, sial bagaimana bisa aku mencintai gadis yang jelas jelas tidak mencintaiku." batin Galih


Saat perjalanan menyusuri kota Jakarta, pucuk dicinta ulam pun tiba. Secara tidak sengaja, Galih membelakan matanya melihat Hesti sedang berdiri disamping mobilnya. Galih menduga sepertinya ban mobil Hesti bocor.


Disisi lain Hesti bingung bagaimana mengatasi ban bocor mobilnya. Hari sudah malam, tidak ada bengkel yang buka. Terpaksa Hesti menghubungi Chintia saat itu tapi ponsel Chintia tidak aktif. Hesti berdecak kesal dirimya berharap keajaiban datang berpihak padanya. Namun bukan keajaiban yang didapat, melainkan tiba tiba ada dua preman yang menganggu Hesti.


"Hei gadis, malam malam sendirian aja," ucap preman itu


"Itu bukan urusanmu, pergi dari sini," jawab Hesti


Dua preman itu tak menggubris ucapan Hesti. Preman itu langsung mencengkram tangan Hesti sehingga membuat Hesti merasa kesakitan.

__ADS_1


"Aaaa...lepasin..."teriak Hesti


Preman itu semakin dengan sengaja merobek baju Hesti. Hesti hanya bisa menangis karena hari sudah malam sehingga jalanan sepi tak ada yang menolongnya. Namun akhirnya, tanpa Hesti sadari ada seorang pria yang menolongnya. Pria itu adalah Galih, Galih menyerang dua preman itu hingga babak belur.


Setelah kedua preman itu babak belur, Galih melihat Hesti ketakutan memegango dadanya. Galih saat itu refleks memeluk Hesti mau menenangkanya


"Sudah, jangan takut. aku bersamamu.sekarang ayo aku antar pulang," ucap Galih


Hesti tak menjawab pertanyaaan Galih langsung menurut saja.


20 menit kemudian, Galih dan Hesti sudah sampai di kontrakan Hesti. Suasana kontrakan sangat sepi, gelap dan pagarnya di tutup. Hesti melihat jam di ponselnya sudah menunjukan pukul 23.55 WIB. Wajar saja suasana kontrakanya gelap dan pagarnya ditutup karena peraturan di kontrakanya jam 22.00 WIB penghuni kontrakan harus sudah masuk di dalam tidak boleh keluar.


Tidak ada jalan lain, Hesti terpaksa harus menganggu tidur Melati dengan menghubunginya. Namun ponsel Melati tidak aktif membuat Hesti berdecak kesal.Hesti merasa tidak enak berlama lama di mobil Galih akhirnya memilih turun.


"Mas, aku mau turun. terima kasih atas semuanya," ucap Hesti


Hesti turun dari mobil Galih, Namun saat itu Galih juga ikut turun dari mobil. Hesti yang merasa canggung sontak menyuruh Galih pulang .


"Mas, sebaiknya Mas langsung pulang saja, sebentar lagi ada teman yang membukakan pagar kontrakan," ucap Hesti bohong


"Aku tidak akan pergi sebelum temanmu membukakan pagar kontrakan," jawab Galih


"Aku tidak peduli, keselamatanmu lebih penting," jawab Galih


10 menit kemudian, pagar kontrakan tiba tiba terbuka. Namun bukan teman Hesti yang membukakan pagar, melainkan Bu Wati yang merupakan pemilik kontrakan. Bu Wati saat itu melihat baju Hesti robek dan diantarkan seorang pria langsung marah marah.


"Hes, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu larut malam bersama pria? pakaianmu juga robek," ucap Bu Wati


"Bu sebenarnya saya habis kena musibah dirampok preman, tapi pria yang ada disamping saya yang menolong saya," jawab Hesti


Saat itu ada seorang laki laki tiba tiba menghampiri Bu Wati. Pria itu adalah suami dari Bu Wati yang bernama Pak Tono. Pak Tono adalah ketua RW yang terkenal tegas dan pemarah. Melihat anak kontrakanya pulang larut malam diantar pria dengan penampilanya berantahkan sontak membuat Pak Tono emosi.


"Apakah kalian berpacaran?" tanya Pak Tono


"Maaf Pak, kami tidak berpacaran,"jawab Hesti


"Lalu ada apa dengan penampilanmu?" tanya Pak Tono

__ADS_1


"Saya habis kerampokan Pak, pria yang ada disamping saya menolong saya," jawab Hesti


Pak Tono menatap Galih saat itu kemudian bertanya.


"Apa yang kamu lakukan pada Hesti?" tanya Pak Tono


"Maksud Bapak?" tanya balik Galih


"Apapun alasan yang terjadi kalian berdua tidak bisa dibiarkan. saya ketua RW disini harus bertindak tegas," jawab Pak Tono


"Pak, tapi saya tidak ada hubungan apa apa sama pria itu," saut Hesti


"Kalian pikir saya percaya begitu saja cerita kalian? saya tidak peduli ini merupakan pelanggaran," ucap Pak Tono


"Tapi pak, saya beneran tidak mengarang cerita," jawab Hesti


"Yang dikatakan Hesti benar Pak, saya saksinya," saut Galih


"Sekarang saya tidak mau tahu, kalian merusak nama baik kompleks yang saya naungi. dengan terpaksa kalian harus ditindak tegas. kalian harus menikah," tanya Pak Tono


"Hah?" jawab Hesti dan Galih bersamaan


"Saya setuju Pak, ini tidak bisa dibiarkan. aku tidak tahu bakal apa yang terjadi jika aku tadi tidak membukakan pagar. sekarang yang penting kalian sah," saut Bu Wati


"Benar Bu, besok kita nikahkan mereka secara sirih. Ibu tolong hubungi keluarga Hesti. urusan pria ini biar hari ini Bapak yang ngurus," jawab Pak Tono


"Pak, jangan membuat keputusan ini secara sepihak. saya tidak menyetujuinya," ucap Hesti


"Keputusan saya sudah bulat kalian akan menikah besok secara sirih. yang penting sah," jawab Pak Tono


Jujur saja, sebenarnya Galih merasa senang akan menikah dengan Hesti besok. Tetapi melihat Hesti yang terus terusan menangis, Galih juga ikut bersedih. Yang ada dipikiran Galih saat ini adalah apapun yang terjadi dirinya akan berusaha membahagiakan Hesti.


--------------


@@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!

__ADS_1


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


nb : maaf ya author gak up kemarin. author kemarin sibuk ujian sempro huhu...


__ADS_2