
Keesokan harinya, Hesti menangis dalam kamarnya saat di rias. Chintia dan Melati saat yang merias Hesti juga ikut bersedih. Chintia tahu kalau Galih adalah pria yang baik. Bahkan Galih menolong suaminya membatalkan pertunanganya dengan Zaka. Namun cinta tidak bisa dipaksa, Chintia saat itu hanya bisa meyakinkan Hesti.
"Hes, menurutku Mas Galih itu orangnya baik, insyallah kamu pasti bahagia dengan Mas Galih," ucap Chintia
"Aku tidak mencintainya, aku trauma menjalin hubungan dengan laki laki, aku mau fokus kuliahku, semua laki laki itu buaya dan munafik,"jawab Hesti
"Hes, tidak semua laki laki seperti itu, buktinya suamiku Mas Daniel gak kaya laki laki yang kamu sebutkan tadi," ucap Chintia
"Iya nih, si mantanmu aja yang egois, minta putus alasan jarak dan apalah apalah itu. itu laki laki kampret yang pantes kamu tinggalin, move on dong Hes," saut Melati
Hesti hanya terdiam mendengarkan ceramah dari dua sahabatnya. Sementara dua sahabatnya Chintia dan Melati terus merias Hesti dengan sangat telaten. Hingga akhirnya Chintia dan Melati berteriak takjub melihat penampilan Hesti.
"Hes, kamu sangat cantik," ucap Chintia
"Iya bener, kamu kaya bidadari. Mas Galih pasti gak kedip ngelihatin kami," saut Melati
Hesti hanya merespon dengan senyuman tipis menanggapi pujian dari sahabatnya.
--- 1 jam kemudian ----
Hesti keluar dari kamarnya dengan digandeng Chintia dan Melati. Hesti saat itu berpenampilan sangat cantik dengan riasan adat sunda dan kebaya. Galih yang menatapnya sangat takjub dengan kecantikan Hesti yang sebentar lagi sah menjadi istrinya.
"Dia sangat cantik, sebentar lagi dia menjadi istruku, dia menjadi miliku seutuhnya," batin Galih
Semua orang terdekat sudah berkumpul untuk menyaksikan pernikahan Galih dan Hesti. Saat itu keluarga dari Hesti tidak ada yang datang. Bu Hesti saat itu curiga dengan Hesti kalau Hesti tidak mengabari orangtuanya.
__ADS_1
"Hes, mana ibu dan ayahmu? kamu belum kasih tahu ya?" tanya Bu Wati
"Sudah Bu, ayah dan ibu saya keluar kota karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan,"jawab Hesti
"Hmm..baiklah," saut Bu Wati
Sebenarnya Hesti tahu orangtuanya pasti sangat marah kepadanya mengetahui pernikahan mendadaknya. Hesti mengatakan pada semua orang kalau orangtuanya sibuk bekerja diluar kota dan tidak bisa ditinggal. Padahal yang sebenarnya terjadi Hesti belum mengatakan atau mengabari orangtuanya karena takut.
10 menit kemudian, Galih duduk disamping Hesti lalu menjabat tangan penghulu. Dengan suara lantang dan tegas, Galih mengatakan menerima pernikahan dirinya dengan Hesti.
"Saya terima nikahnya dan kawinya dengan maskawin tersebut dibayar tunai," ucap Galih
"Bagaimana para saksi?" tanya Penghulu
"Sah..." teriak semua orang
----------------
Setelah acara pernikahan berakhir, Galih mengajak Hesti untuk tinggal di rumahnya. Namun Hesti dengan tegas menolak ajakan Galih karena dirinya masih ingin ngekos bareng Melati.
"Aku tidak mau ikut, aku sudah nyaman disini," ucap Hesti
Melati yang melihat perlakuan Hesti kepada Galih hanya bisa menggelengkan kepalanya. Melati merasa kalau Hesti sepertinya belum tahu arti pernikahan. Padahal Hesti sudah pernah berpacaran bahkan jika dibandingkan dengan Chintia, Hesti lebih mengenal dunia percintaan.
Sebagai sahabat yang baik, Melati saat itu memberi pengertian pada Hesti.
__ADS_1
"Hes, kamu itu udah nikah, jadi kamu harus ikut suamimu. kamu sekarang tanggung jawabnya suamimu. kamu masa kalah sih sama Chintia, " ucap Melati
"Kalah sama Chintia? maksudmu? kita lagi gak tanding lho?" jawab Hesti
Mendengar jawaban nggak nyambung dari Hesti, Melati sontak menyentil jidat Hesti dan Hesti kesakitan karena sentilan Melati.
"Auh...sakit Mel, kamu ini apa apaan sih?" rengek Hesti
"Kamu itu pura pura polos nggak ngerti nikah atau gimana sih? Chintia yang belum pernah pacaran aja dia ngerti tugasnya sebagai istri. kamu seharusnya lebih ngerti dari Chintia," ucap Melati.
Hesti hanya manyun mendengar ceramah dari Melati. Selain manyun, Hesti juga sangat marah dengan Melati karena kopernya dbawa keluar.
"Eh, itu koper aku. mau ngapain?" ucap Hesti
"Kamu aku usir dari sini, lihat noh suamimu kamu anggurin dari tadi. sekarang kamu harus ikut suamimu," jawab Melati
"Ih...sebel," ucap Hesti
Hesti menarik kopernya keluar kontrakan dengan wajah manyun. Galih dari tadi melihat istri manyun terus hanya bisa tersenyum karena gemas dengan Hesti.
----------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
__ADS_1
Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga