Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
162. PENCULIKAN TIBA TIBA


__ADS_3

Esok hari, Hesti dan Chintia berangkat bersama di kampus. Walaupun jurusan Hesti dan Chintia berbeda tapi karena berada di fakultas yang sama, Chintia dan Hesti masih sering bertemu disaat jam istirahat. Namun, di perjalanan menuju kampus mobil yang dikendarai Hesti tiba tiba dicegat oleh tiga preman. Hesti dan Chintia sangat takut saat itu.


"Hes, preman itu nyegat kita mau ngapain Hes?" tanya Chintia


"Aku tidak tahu, aku takut, tubuhku gemetar," jawab Hesti


"Kita harus bagaimana Hes, aku juga takut," saut Chintia


"Semoga tidak terjadi apa apa Chin," jawab Hesti


Preman itu semakin mendekati mobil Hesti kemudian langsung menyekapnya.


"Aaaach...." teriak Hesti dan Chintia


Tiga Preman itu membuat Chintia dan Hesti pingsan kemudian membawanya ke suatu tempat.


----- Di Haidar Group ----


Sementara di Haidar Group, Daniel dan Galih membahas tentang kelanjutan kerja samanya bersama Pak Hasan dan Bu Jauza. Namun disela sela pembahasan kerja sama, Galih bertanya kepada Pak Hasan terkait perkembangan penyelidikan kasus korupsi di Gunadharma Group.


"Pak, bagaimana perkembangan penyidikan kasus korupsi di Gunadharma Group," ucap Galih


"Belum ada perkembanganya, hasilnya masih nihi, kita masih melacaknya," jawab Pak Hasan


"Kalau Bapak tidak keberatan, Haidar Group akan mengerahkan tim untuk menyelidiki kasus korupsinya," ucap Galih


"Maaf, proses penyelidikan masih berlangsung. lagipula mengapa Haidar Group selalu mencampuri urusan Gunadharma Group?" saut Bu Jauza


Pak Hasan, Galih dan Daniel menatap Bu Jauza yang tiba tiba menyuarakan pendapatnya. Pak Hasan merasa malu dengan Galih dan Daniel karena ucapan istrinya. Pak Hasan sontak langsung meminta maaf.


"Maaf atas kelancangan sekretaris saya dalam bicara. saya bersedia menerima tawaran bagus dari Pak Galih," ucap Pak Hasan


"Iya Pak, saya akan mengerahkan tim Haidar Group menyelidiki kasus korupsi di Gunadharma Group," jawab Galih

__ADS_1


"Terima kasih Pak Galih, Haidar Group telah membantu banyak di Gunadharma Group," ucap Pak Hasan


"Iya Pak, sama sama," jawab Galih


"Aku menduga sepertinya bisa jadi orang dalam yang melakukan korupsi di Gunadharma Group," saut Daniel


Daniel mengucapkan itu sambil menatap Bu Jauza. Bu Jauza yang menyadarinya, merasa sangat kesal dengan Daniel yang terus menatapnya langsung menegurnya.


"Apa maksud anda menatap saya? apa anda mencurigai saya?" tanya Bu Jauza


"Saya tidak merasa menatap anda," jawab Daniel


"Jelas jelas anda mengucapkan hal itu sambil menatap saya, dalam pikiran anda, pasti anda memaki dan menuduh saya," ucap Bu Jauza


"Semua kemungkinan bisa terjadi, tapi entah mengapa saya mencurigai seseorang, saya tidak menuduhnya karena saya menunggu hasil penyelidikan tim kami," jawab Daniel


"Berarti benarkan? anda menuduh saya? saya tidak terima, itu artinya anda memfitnah saya, saya bisa menuntut anda," saut Bu Jauza


"Awas saja, kalian mau menyudutkanku? aku tidak akan tinggal diam," batin Bu Jauza


------- Di Gedung Tua ------


2 jam kemudian, Chintia tersadar dari pingsanya. Semetara Hesti masih belum tersadarkan diri dari pingsanya. Chintia melihat disekelilingnya merasa takut karena gelap.Chintia berteriak meminta tolong agar ada seseorang yang menyelamatkanya.


"Tolong...Tolong..." teriak Chintia


Chintia terus berteriak tetapi tak ada suara yang menyaut. Chintia orangnya takut kegelapan, karena takut, Chintia mencoba meraba raba tasnya untuk mencari ponselnya. Namun sayang, baterai ponsel Chintia habis.


Chintia berdecak kesal hingga tanpa sadar melemparkan ponselnya mengenai kepala Hesti. Hesti langsung tersadar dari pingsanya. Entahlah sebenarnya dari tadi Hesti pingsan atau cuma tertidur pulas tidak ada yang tahu. Atau bahkan mungkin sebenarnya Hesti sudah sadar dari pingsanya dari tadi karena mengantuk memilih tidur.


"Auuh sakit," teriak Hesti


"Eh Hes, kamu disini? ini gelap sekali aku gak bisa melihatmu, apakah aku buta?" ucap Chintia

__ADS_1


"Aku juga gak bisa lihat kamu, ini gelap sekali, tapi tunggu, tadi apa yang mengenai kepalaku? auhh..sakit sekali," tanya Hesti


"Aku melempar ponselku karena kesal baterainya habis," jawab Chintia


"Dasar, kalau saja kamu gak hamil sudah aku cekik kamu," ucap Hesti


"Udah ah, simpen dulu dendamnya, buruan nyalakan senter ponselmu," jawab Chintia


"Ok baiklah," saut Hesti


Hesti mengambil ponselnya dengan meraba raba tasnya. Setelah berhasil mengambil ponselnya, Hesti menyalakan penerangan ponselnya.


"Chin, kita ada dimana?" tanya Hesti


"Gak tahu Hes, kita bukanya tadi dicegat sama tiga preman" jawab Chintia


"Eh iya, tapi ini preman kok premanya gak ngiket kita ya?" ucap Hesti


"Iya gak diiket, tapi tengok dulu ijah dibawah, kaki kita diborgol," jawab Chintia


"Eh iya bener, tunggu tunggu...apa maksudmu ngatain aku Ijah?" saut Hesti


"Namamu terlalu keren untuk kegesrekanmu, makanya aku panggil ijah," jawab Chintia


"Uuh...dasar," saut Hesti


---------------


@@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga

__ADS_1


__ADS_2