
Setelah makan malam, Fiona mengantarkan Ihsan pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali. Mereka berdua terlihat canggung pasca makan malam tadi. Hingga Ihsan yang tak nyaman dengan kondisinya saat ini mulai mengajak Fiona bicara.
"Mbak Fiona," ucap Ihsan
"Iya Mas," jawab Fiona
"Jujur saja, saya tidak menyangka kalau hubungan sandiwara ini benar benar membuat kita terjebak. saya pribadi tidak nyaman terus melakukan ini," ucap Ihsan
"Iya benar, bahkan papa ingin membicarakan kapan kita menikah, saya jadi tidak enak," jawab Fiona
Ucapan Pak Hasan yang menyuruh Ihsan dan Fiona segera menikah tentu mengusik pikiran meraka. Ihsan tahu bukan hanya dirinya tak nyaman dengan kondisi ini, tapi Fiona pasti juga merasakanya. Ihsan saat itu menyuruh Fiona mengambil keputusanya.
"Saya tahu Mbak Fiona juga merasakan hal tidak nyaman sama seperti saya, keputusan sekarang terserah Mbak Fiona saja," ucap Ihsan
"Keputusan saya, saya serahkan sama Mas. Mas pilih bertahan melakukan sandiwara ini atau membongkar sandiwara ini. apapun keputusan Mas saya tidak apa apa kok," jawab Fiona
Jujur saja Ihsan ingin mengakhiri sandiwara ini. Tapi Ihsan juga merasa kasihan jika Fiona harus dijodohkan dengan pria playboy tak biadab itu. Akhirnya Ihsan memberi keputusanya ingin mencoba bertahan.
"Apa Mbak keberatan kalau misalnya memilih bertahan?" tanya Ihsan
"Mengapa Mas Ihsan pilih bertahan melakukan sandiwara ini?" tanya balik Fiona
"Iya karena kita belum mendapat bukti keburukan Aldi, jika Mbak sudah dapat bukti mungkin sudah saatnya kita akhiri sandiwara ini. dan Mbak bisa mencari pasangan hidup yang lebih baik lagi," jawab Ihsan
Awalnya Fiona merasa senang Ihsan bersedia bertahan melakukan sandiwara. Tapi ucapan terakhir Ihsan sungguh menyakitkan seperti perpisahan selamanya. Dalam kondisi menyetir Fiona saat itu tidak fokus hingga Ihsan saat itu berteriak mobil yang dikemudi Fiona hampir menabrak pohon.
__ADS_1
"Mbak !!! awas !!!" teriak Ihsan
Fiona langsung mengerem mobilnya mendadak
"Citttt...." (mobil Fiona berhenti)
Untung saja mobil yang ditabrak tidak menabrak pohon. Fiona berkeringat dan nafasnya terengah engah. Semetara Ihsan saat itu juga ikut panik. Namun Ihsan sadar, Fiona tentunya lebih panik darinya. Tanpa berpikir panjang Ihsan langsung meyodorkan botol air minum di dasbor pada Fiona.
"Mbak, ini minum dulu, tenangkan diri Mbak," ucap Ihsan
Fiona menerima botol air minum itu lalu meminumnya. Ihsan saat itu merasa kondisi Fiona tak memungkinkan untuk menyetir. Tanpa berpikir panjang, Ihsan meminta izin Fiona menggantikan menyetir mobil.
"Mbak, biar saya saja yang nyetir, Mbak bisa istirahat dibelakang," ucap Ihsan
"Bisa Mbak, saya biasanya disuruh Pak Karman mengantakan pesanan ikan hias di luar kota pakai mobil," jawab Ihsan
"Mengapa gak bilang. Mas?, tahu gitu Mas saja yang nyetir mobil saya. saya gak enak loh kesanya kaya saya merendahkan laki laki," ucap Fiona
"Gak apa apa Mbak, saya juga sadar diri sama siapa saya, ini juga kan mobilnya Mbak," jawab Ihsan
"Ih, jangan ngomong gitu lah Mas, saya gak mandang Mas harus kaya atau apa untuk jadi teman saya," saut Fiona
"Iya Mbak, sekarang mari tukar posisi," jawab Ihsan
"Iya Mas," saut Fiona
__ADS_1
30 menit kemudian, mobil yang dikemudikan Ihsan sudah sampai rumah. Ihsan langsung turun dari mobil dan pamit pada Fiona.
"Mbak, terima kasih. saya mau langsung jalan pulang," ucap Ihsan
"Iya Mas, saya juga mau pamit pulang," jawab Fiona
Jam saat itu menunjukan pukul 21.30, Ihsan sebenarnya merasa khawatir jika Fiona pulang sendirian.
"Mbak, tidak apa apa pulang sendirian malam malam?" tanya Ihsan
"Gak apa apa Mas, saya pamit, assalamualaikum," ucap Fiona
"Waalaikumsalam," jawab Ihsan
Setelah kepergian Fiona, entah mengapa Ihsan merasa terus khawatir dengan Fiona. Tanpa berpikir panjang, Ihsan saat itu bergegas meminjam motor anak Pak Karman lalu membuntuti Fiona.
--------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga
Baca juga karya author lainya ya.....
__ADS_1