
--- Di Rumah Pak Hasan ---
15 menit kemudian, Pak Hasan dan Fiona sudah sampai di rumah. Sesampainya dirumah, Pak Hasan dan Fiona tiba tiba dikejutkan dengan perlakuan Jauza yang meyambutnya tak seperti biasanya.
"Pa, Fiona, kalian sudah pulang? hari ini mama masak banyak. mama masak semur jengkol kesukaan papa dan lele bumbu balado kesukaan Fiona," ucap Bu Jauza
"Ma, tumben masak banyak? ada apa ini?" tanya Pak Hasan
"Iya nih, mama bukanya dulu ngeluh sama papa minta dicariin pembantu," saut Fiona
"Mama ingin masak aja, udah lama mama gak masak besar kaya gini.sekarang mama masak besar sendiri. pembantu sudah mama liburkan tiga hari kedepan," jawab Bu Jauza
"Iya sudah ma, papa sama Fiona akan ke meja makan menikmati masakan mama. mama ikut makan ya?" ucap Pak Hasan
"Iya Pa, makan yang banyak," jawab Bu Jauza
Pak Hasan, Bu Jauza dan Fiona menyantap makana di meja makan bersama sama. Disela sela makanya, Fiona sangat penasaran dengan hubungan Ratih dan Bu Jauza. Mendengar cerita dari Ratih, tentunya Fiona tidak mau ayahnya dimanfaatkan oleh Bu Jauza. Tanpa ragu, Fiona mulai bertanya pada Bu Jauza.
"Ma, aku mau ngasih tahu suatu hal sama mama," ucap Fiona
"Apa sayang, katakan saja pada mama," jawab Bu Jauza
"Ma, tadi aku dan papa ketemu sama Kak Ratih, Kak Ratih itu kata papa kakak aku. asal mama tahu Kak Ratih orangnya cantik, baik, rendah hati," ucap Fiona
Mendengar nama Ratih, ekspresi Bu Jauza yang tadinya ceria mendadak jutek.
"Mengapa sih, kamu bahas anak itu, bikin mood mama hancur aja deh," jawab Bu Jauza
__ADS_1
"Ma, Kak Ratih itu anak mama dan juga kakak aku. mengapa mama benci sama Kak Ratih?" tanya Fiona
"Lihat Ma, Fiona aja baru pertama kali bertemu sudah akrab sama Ratih. lagian, mama mengapa juga gak suka banget sama Ratih," saut Pak Hasan
"Dia itu anak yang gak tahu diri, gak tahu diuntung. udah deh, kalian jangan bahas anak itu lagi, kepala mama rasanya mau pecah kalau bahas anak itu terus," jawab Bu Jauza
Fiona tidak puas dengan jawaban Bu Jauza. Fiona tanpa ragu terus membicarakan Ratih di depan Bu Jauza.
"Ma, batagornya Kak Ratih rasanya enak loh, besok minggu aku mau bertemu Kak Ratih beli batagor," ucap Fiona
"Mama gak suka batagor, kamu saja sama papa yang kesana," jawab Bu Jauza
"Ih, mama gak usah malu malu gitu deh, mama bukanya sering beli batagornya Pak Totok?" tanya Fiona
"Iya Ma, bener apa kata Fiona. bukanya mama suka banget sama batagor Pak Totok kalau menurut papa, batagornya Ratih lebih enak," saut Pak Hasan
"Maksud mama, mama kalau batagor selain punya Pak Totok gak mau. Soalnya kan jelas beda dong batagor langganan sama batagor baru," ucap Bu Jauza
"Tapi apa salahnya mencoba Ma? Mama harus nyobain batagor buatan Kak Ratih. Fiona jamin deh, mama pasti ketagihan," jawab Fiona
"Kalian berdua kok mbahas dia aja....mulu. Mama tuh bosen dengernya. udah deh sebaiknya kalian lanjutin makanya," saut Bu Jauza
Masih belum puas jawaban ibunya, Fiona lagi lagi memanasi ibunya dengan menyebut nama Paula.
"Oh iya Ma, mama kenal sama Paula nggak?" tanya Fiona
"Apa maksudmu bertanya seperti itu pada Mama?" tanya Bu Jauza panik
__ADS_1
"Fiona tanya doang, Mama kok tiba tiba keliatan panik gitu," jawab Fioana
"Siapa Paula yang kamu maksud? tahu dari siapa kamu?" tanya Bu Jauza
"Ih, Mama biasa aja deh nggak usah tegang gitu. itu dosen akuntasinya Fiona namanya Paula," jawab Fiona bohong
"Udah udah, lanjutkan makan kalian," saut Bu Jauza
Fiona dan Pak Hasan memperhatikan Bu Jauza saat makan. Mereka berdua melihat gerak gerik aneh Bu Jauza yang nampaknya tidak nyaman menyantap makananya. Bahkan makananya Bu Jauza di meja makan tidak habis. Pak Hasan dan Fiona saat itu menjadi mulai percaya dengan ucapan Ratih.Terbukti, mereka berdua melihat Bu Jauza nampak tak nyaman saat pembicaraan membahas tentang Ratih atau Paula.
Visual Tokoh
1. Ratih
2. Fiona
---------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga
__ADS_1