
--- Di Rumah Galih ---
Hari ini Daniel dan Chintia berkunjung di rumah Galih. Daniel mengajak Chintia ke rumah Galih karena permintaan Galih yang mengajaknya makan siang. Galih sengaja mengundang Daniel dan Chintian makan siang karena dirinya merasa berterima kasih telah di dekatkan dengan Hesti hingga akhirnya menikah.
Makan siang hari ini cukup spesial. Karena hari ini Hesti memasak untuk semua orang. Hari ini Hesti memasak semur jamur, tumis buncis, udang chrispy dan telur balado.
Terlihat masakan Hesti menggugah selera. Chintia yang tahu Hesti pandai memasak langsung menggodanya.
"Hes, masakan kamu terlihat enak banget. Mas Galih pasti nambah terus porsinya," goda Chintia
"Apaan sih kamu Chin, lagian dulu kamu juga kan yang sering ngajarin aku masak dirumahmu," jawab Hesti
"Hehe, iya juga. ternyata kamu bisa menerapkanya," ucap Chintia
Hesti saat itu menyajikan nasi dan lauk di piring Galih. Galih menatap Hesti melongo dan tak berledip saat Hesti menyajikan makanan dipiringnya. Di meja makan, Galih dan Hesti tidak sendirian. Ada empat mata lain yaitu Daniel dan Chintia yang melihat perlakuan Hesti kepada Galih. Tentunya bukan Daniel namanya jika tidak jahil dengan sahabatnya. Daniel yang memandang Galih yang melongo dan tak berkedip menatap Hesti langsung menggodanya.
"Lih, kedip dulu nanti kelilipan. bibirnya juga mingkem biar ilernya gak netes," goda Daniel
Galih tersadar dari lamumanya sontak terkejut mendengar ucapan Daniel.
"Eh Nil, apaan sih kamu, gak lucu tau nggak," tegur Galih
"Hehe...ya makanya kamu jangan jadiin aku dan Chintia obat nyamuk disini," jawab Daniel
"Ah, udahlah aku sudah lapar. aku panggil nenek dulu untuk ikut makan siang," ucap Galih
Galih meninggalkan meja makan berjalan menuju kamar neneknya. Saat berada di kamar neneknya, Galih mengajak neneknya makan.
"Nek, ayo kita makan siang sama sama. hari ini Galih kebetulan kedatangan tamu. jadi kita bisa makan siang rame rame," ucap Galih
"Iya, nenek mau ikut makan juga. tolong bantu nenek," jawab Nenek Irah
Galih langsung mengangkat neneknya mendudukanya dikursi roda. lalu Gali mendorong kursi rodanya perlahan menuju meja makan.
Sesampainya di meja makan. Nenek Irah melihat sosok laki laki berdampingan dengan seorang gadis di meja makan. Entah apa yang ada dipikiran Nenek Irah. Nenek Irah tiba tiba memanggil Daniel dengan sebutan Putra.
__ADS_1
"Putra," ucap Nenek Irah
Tentu saja semua orang di meja makan terkejut. Khusunya Galih dan Hesti yang mengetahui sosok Putra. Galih melihat Daniel dan Chintia nampak kebingungan langsung memperkenalkan neneknya kepada Chintia dan Daniel.
"Daniel, Chintia perkenalkan neneku namanya Irahwati. kalian bisa memanggilnya nenek. dan nenek kenalin mereka berdua tamu kita hari ini namanya Daniel dan Chintia," ucap Galih
"Daniel?" tanya Nenek Irah
"Iya Nek, saya Daniel. dan istri saya ini namanya Chintia. senang bisa bertemu dengan nenek," jawab Daniel
"Nenek juga senang bisa bertemu denganmu, kamu mirip sekali dengan Putra," ucap Nenek Irah
"Iya Nek, kebetulan nama saya Daniel Saputra," jawab Daniel
Degg...
Nenek Irah sontak terkejut mendengar nama Saputra. Nenek Irah teringat Saputra adalah nama yang diberikan untuk cucunya dulu. Namun sekarang Saputra atau Putra sudah tidak bersamanya. Putra dibawa pergi oleh Olivia yang tak lain adalah Ibu Galih.
Galih menatap nenek terus memandangi Daniel. Tentu saja Daniel merasa tidak nyaman tapi Daniel hanya diam saja. Galih yang melihat kondisi di meja makam saat itu mempersilahkan semuanya memakan makan siang yang sudah tersaji di meja makan.
Galih lalu menoleh ke Daniel dan Chintia
"Daniel, Chintia mari dimakan makananya. jangan sungkan sungkan nanti keburu dingin," lanjut Galih
Akhirnya mereka semua menyantap makan siangnya di meja makan. Nenek Irah menikmati makan siang telur balado buatan Hesti. Tanpa ragu, Nenek Irah memuji masakan Hesti.
"Hesti, telur balado masakanmu enak, nenek sangat suka, nih lihat nenek jadi nambah karena masakan kamu enak," ucap Nenek Irah
"Iya Nek, terima kasih. aku senang jika nenek menyukainya," jawab Hesti
"Kalau aku suka semuanya, masakan kamu enak banget Hes," saut Galih
"Iya Mas, terima kasih," jawab Hesti
Setelah makan siang, Daniel dan Chintia berpamitan. Namun saat berpamitan, Nenek Irah berpesan pada Daniel dan Chintia untuk sering mampir di rumah.
"Daniel, Chintia, sering sering mampir ya, biar rumah ini ramai. Nenek senang makan siang ramai ramai kaya tadi," ucap Nenek Irah
__ADS_1
"Iya Nek, kami akan sering mampir kesini." jawab Daniel
"Iya, pintu rumah selalu terbuka untuk kalian," ucap Nenek
"Iya Nek, terima kasih. sekarang kami pamit pulang dulu ya Nek, assaalamualaikum," jawab Daniel
"Waalaikumsalam," jawab Nenek Irah, Galih, dan Hesti
Setelah melihat kepulangan Daniel dan Chintia, Galih mendorong kursi roda yang diduduki Nenek Irah menuju kamar. Sementara Hesti mencuci piring sisa makan siang tadi di dapur.
Sesampainya di kamar, Nenek Irah tiba tiba mengatakan sesuatu yang membuat Galih terkejut.
"Galih, Nenek memiliki firasat kalau Putra sudah ada didekat kita sekarang," ucap Nenek Irah
"Hah? maksud Nenek?" tanya Galih
"Firasat Nenek mengatakan kalau Daniel adalah Putra cucu Nenek, dia adikmu," jawab Nenek Irah
Galih merasa ucapan neneknya mungkin karena rasa kerinduanya dengan Putra. Tidak ingin darah tinggi neneknya kumat, Galih mengalihkan pembicaraanya.
"Nek, sepertinya Nenek harus istirahat," ucap Galih
"Nenek ingin kamu menyelidiki Daniel," jawab Nenek Ira
Sebenarnya Galih merasa malas menuruti permintaan neneknya. Tetapi karena tidak ingin penyakit neneknya kambuh, Galih menyetujui perintah neneknya.
"Iya Nek, tapi sekarang nenek istirahat ya, Galih mau ke dapur menemui Hesti," ucap Galih
"Hmm...iya baiklah nenek mau istirahat sekarang," jawab Nenek Irah
---------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga
__ADS_1