
Malam hari setelah makan malam seperti biasa Galih mengantar Nenek Irah ke kamarnya. Sementara Hesti membersihkan peralatan makan sisa makan malam di dapur.
Di dalam kamar, Nenek Irah tanpa basa basi bertanya pada Galih tentang hasil penyelidikanya pada Daniel.
"Galih, bagaimana hasil penyelidikanmu?" tanya Nenek Irah
"Nek, sebenarnya aku sudah mendapatkan informasi, tapi aku masih memerlukan waktu penyidikan lebih lanjut untuk menyimpulkan hasilnya," jawab Galih
"Apa informasi yang kamu dapat?" tanya nenek Irah
Galih terdiam sejenak memikirkan bagaimana cara menyampaikan informasi yang didapat hari ini tentang Daniel pada Nenek Irah. Galih tidak mungkin mengatakan kalau Olivia ibu kandungnya adalah ibu kandung Daniel juga. Galih memerlukan bukti kuat untuk memastikanya.
"Nek, aku akan menyampaikan semuanya kepada Nenek kalau informasi yang kudapat sudah benar dan akurat. aku mohon Nenek berikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya pada Nenek," jawab Galih
"Baiklah, Nenek akan sabar menunggu. Nenek berharap Daniel adalah Putra cucuku. sejak pertama Nenek melihatnya, Nenek melihat sosok Putra di dalam dirinya. Nenek sangat merindukan Putra," ucap Nenek Irah menangis
Galih yang melihat neneknya menangis juga ikut bersedih. Galih menepuk nepuk pelan punggung Nenek Irah dan menenangkanya.
"Nek, aku yakin akan menemukan Putra. Selain cucu nenek, Putra juga adiku. aku juga merindukan adiku. aku akan berusaha Nek, mencari Putra yang hilang dari keluarga kita. percayalah kepadaku nek, aku pasti akan menemukan Putra," jawab Galih
"Iya Galih, nenek percaya kepadamu. kamu adalah cucuku yang hebat. Nenek yakin kalau kamu akan bisa menemukan Putra," saut Nenek Irah
"Baik Nek, sekarang aku pamit ke kamar. Hesti sudah menungguku," jawab Galih
"Ya sudah, pergilah dari sini. kamu harus segera memberikan nenek seorang cicit," saut Nenek Irah
"Eh, Iya Nek, aku dan Hesti akan berusaha, sekarang nenek istirahatlah aku mau ke kamar," jawab Galih
"Iya baiklah, nenek mau istirahat," saut Nenek Irah.
__ADS_1
Galih keluar dari kamar Nenek Irah lalu berjalan menuju kamarnya. Di dalam kamarnya, Galih melihat Hesti masih terduduk diranjang belum tidur. Galih menatap Hesti terus melamun menatap jendela kamar. Galih merasa ada sesuatu yang ada dipikiran Hesti. Tanpa berpikir panjang, Galih bertanya pada Hesti dan tentunya suara Galih mampu membuyarkan lamunan Hesti
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Galih
"Eh Mas, kamu benar benar mengagetkanku," jawab Hesti kaget
"Kamu belum menjawab pertanyaan Mas, apa yang kamu pikirkan sekarang?" tanya Galih
"Mas tadi aku bertemu Chintia, aku bertanya tanya kepadanya tentang masa lalu suaminya," ucap Hesti
Galih saat itu menatap Hesti dengan intens karena merasa penasaran. Tanpa ragu Galih bertanya informasi yang di dapat dari Chintia.
"Apa informasi yang kamu dapatkan dari Chintia tentang Daniel?" tanya Galih
Hesti saat itu langsung menceritakan informasi yang didapatkanya dari Chintia. Mulai dari masa suram Daniel gagal ikut seleksi TNI, kehilangan pacarnya. kehilangan orangtuanya, penghianatan Ratih, serta perampokan di rumah Ratih adalah kelakuan dari Daniel saat menjadi preman.
Galih merasa informasi yang didapatkan Hesti sama dengan informasi yang didapatkanya. Galih saat itu beranggapan berarti Daniel sudah meceritakan masa lalunya dengam Chintia.
"Iya Mas, aku juga merasa seperti itu. lalu apakah Mas sudah dapat petunjuk saat menemui Mas Daniel tadi?" tanya Hesti
"Belum, tapi Mas akan menyelidikinya lagi. kalau berdasarkan informasi yang Mas dapat nama ibu dari Daniel sama dengan nama ibuku. namanya Olivia," jawab Galih
"Menurut Mas, Olivia ibu kandungnya Mas Daniel apa juga ibu kandungnya Mas juga?" tanya Hesti
"Mas masih belum yakin. tapi yang bikin Mas heran adalah ibunya memanggil dirinya dengan sebutan Putra. sementara ayahnya, keluarganya, dan teman temanya memanggilnya Daniel. Daniel juga bilang sama Mas kalau saat ibunya masih hidup, ibunya mengatakan kalau nama Saputra adalah nama yang diberikan oleh neneknya," jawab Galih
Mendengar cerita Galih. Hesti langsung teringat cincin maskawin yang dipakai Chintia. Tanpa berpikir panjang, Hesti menceritalan cincin maskawin Chintia kepada Galih.
"Mas, ada informasi penting lagi yang harus Mas ketahui," ucap Hesti
__ADS_1
"Informasi apa, Hes?" tanya Galih
"Mas, aku ingat kalau saat Mas Daniel dan Chintia menikah. Chintia menceritakan kepadaku kalau cincin maskawinya dari Mas Daniel adalah peninggalan dari ibunya Mas Daniel," jawab Hesti
Galih langsung terkejut mendengar cincin peninggalan ibu Daniel.Saat itu tiba tiba Galih membuka laci kamarnya lalu mengambil sesuatu dan memperlihatkanya kepada Hesti.
"Apakah seperti ini?" tanya Galih
Hesti melihat cincin yang ditunjukan Galih kepadanya memiliki kemiripan dengan cincin milik Chintia. Tapi Hesti takut pengelihatanya keliru. Hesti saat itu berinisiatif kembali membandingkan cincin yang dibawa Galih dan cincin maskawin Chintia dari Daniel.
"Aku tidak tahu Mas, aku hanya melihatnya sekilas. tapi aku izin memfoto cincinmu itu Mas, aku akan menbandingkanya dengan milik Chintia. siapa tahu caraku ini akan membantumu Mas," ucap Hesti
"Iya boleh, terima kasih telah membantu Mas. kamu adalah istriku yang terbaik. Mas sangat beruntung memilikimu," jawab Galih
Hesti memotret cincin milik Galih lalu membalas ucapan Galih
"Mas, aku ini istrimu. aku akan selalu berada disampingmu," saut Hesti
"Iya kamu benar, sekarang ayo kita tidur. hari sudah malam," ucap Galih
"Iya Mas," jawab Hesti
Sebenarnya Galih saat ini mau melakukanya hubungan penyatuan dengan Hesti. Tapi karena dilihatnya jam sudah larut malam pukul 23.30 WIB, Galih lebih memilih mengajak Hesti tidur bersama. Setidaknya terdapat kemajuan dala hubunganya membuat Galih merasa senang. Walaupun hari ini tidak melakukan hubungan penyatuan dengan istrinya, dalam hatinya Galih berjanji secepatnya akan melakukan hubungan penyatuan dengan Hesti diwaktu yang tepat.
---------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
__ADS_1
Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga