
Setelah memakaikan pakaian pada Chintia, Daniel melihat kaki kanan Chintia terlihat lebam dibagian mata kaki. Daniel yang tidak tega dengan keadaan Chintia ingin membawa Chintia ke rumah sakit.
"Chintia, aku antar ke rumah sakit ya? kakimu lebam," ucap Daniel
"Tidak usah Mas, pasti perlu banyak biaya kalau di rumah sakit," jawab Chintia
"Jangan pikirkan itu, aku yang mengurusnya, sudah tanggung jawabku menafkahimu," saut Daniel
"Maaf Mas, bukanya aku tidak menghormatimu. sebelumnya terima kasih kamu telah menolongku. tapi untuk urusan menafkahiku aku belum bisa menerimanya. aku tidak mau menikmati uang haram. di rumah sakit pasti butuh banyak biaya aku tidak mau." jawab Chintia
Kata kata uang haram selalu dilontarkan Chintia kepadanya. Daniel tidak menyalahkan ucapan Chintia karena semua yang dikatakan Chintia itu benar. Sudah 6 tahun Daniel menjadi preman, dirinya menyadari bahwa uang yang dinikmatinya haram karena merampas harta orang lain. Daniel merasa menyesal telah menjadi preman, tanpa dirinya sadari air mata menetes membasahi pipinya. Daniel hanya bisa menunduk dengan isak tangisnya dirinya malu dengan Chintia. Chintia yang menyadari kalau Daniel menangis, dirinya merasa ibah lalu berusaha menenangkan suaminya.
"Mas, kamu bisa berubah. tinggalkan duniamu itu," ucap Chintia
"Iya kamu benar, aku akan berubah dan meninggalkan dunia kejahatanku itu. terima kasih kamu telah menyadarkanku," jawab Daniel
"Mas, aku ingin kamu berubah bukan karena aku. tapi karena niat dari dirimu sendiri," saut Chintia
"Iya, kamu benar. bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" ucap Daniel
"Katakan saja," jawab Chintia
"Apakah kamu mencintaiku? apakah kamu menerimaku sebagai suamimu?" tanya Daniel
__ADS_1
"Jujur aku belum mencintaimu Mas, aku juga masih trauma dan takut. aku masih terbayang bayang perampokan dan penyekapan tadi malam." jawab Chintia
Degg
Daniel terkejut ternyata Chintia masih belum mencintanya dan menerimanya sebagai suami. Daniel merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Padahal Daniel mengira panggilan mas dari Chintia kepadanya, permintaan tolong Chintia kepadanya dan pelukan Chintia kepadanya memunculkan sinyal Chintia sudah mencintainya dan menerimanya sebagai suami.Daniel berusaha mengotrol pikiranya lalu merespon ucapan dari Chintia.
"Iya, aku mengerti. kamu benar, aku memang pantas untuk tidak dicintai." ucap Daniel
"Mengapa mas mengatakan itu? aku sekarang memang belum mencintaimu bukan berarti kamu tidak pantas dicintai," jawab Chintia
"Apakah kamu menyesal dengan pernikahan ini?" tanya Daniel
"Buat apa aku menyesal? nasi sudah menjadi bubur. aku hanya bisa menjalani kehidupanku sekarang," jawab Chintia
"Nasi itu belum jadi bubur kalau kamu menginginkanya," saut Daniel
"Aku tahu sampai sekarang kamu membenciku dan aku pantas menerimanya. tapi kamu jangan khawatir. aku memang mencintaimu. tapi aku tidak memaksamu untuk mencintaiku.kalau kamu ingin meninggalkanku aku ikhlas melepaskanmu," jawab Daniel
Degg
Chintia hanya terdiam mendengarkan ucapan Daniel. Chintia memang masih membenci Daniel karena peristiwa perampokan dan penyekapan yang dialaminya. Kejadihan pahit itu membuat dirinya takut dengan Daniel. Namun dimalam pertamanya ini entah mengapa rasa takut itu mulai menjadi kenyamaan untuknya.
Daniel melihat Chintia yang hanya terdiam menyangka kalau Chintia malu untuk mengatakan ingin berpisah darinya. Daniel lalu memegang kedua tangan Chintia lalu mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Tidak usah dijawab kamu jangan takut untuk saat ini jangan suruh aku melepaskanmu. biarkan aku merawatmu sampai kamu sembuh. sekarang tidurlah, aku akan tidur di ruang tamu." ucap Daniel
Daniel beranjak berdiri dari kamar tidur, tapi tiba tiba Chintia menarik tanganya kemudian mengatakan sesuatu.
"Mas, jangan pergi aku takut gelap," ucap Chintia
"Kamu bisa gunakan ponselmu dan ponselku sebagai penerang disini," jawab Daniel
Chintia menganggukan kepalanya kemudian Daniel beranjak berdiri dari kamar tidur. Namun saat itu hujan dan suara petir di luar masih menggelegar membuat Chintia tidak bisa tidur karena ketakutan.
"Duarr..." (bunyi suara petir menggelegar)
"Mas, aku takut Mas, jangan pergi Mas," teriak Chintia
Daniel yang masih berada di kamar langsung naik diatas ranjang keumudian memeluk dan menenangkan Chintia.
"Sudah, tidurlah jangan takut. ada aku disini. aku akan menjagamu." ucap Daniel
Chintia yang ketakutan mengeratkan pelukanya dan menyembunyikan kepalanya di dekapan Daniel. Daniel tersenyum melihat Chintia yang ketakutan seperti anak kecil kemudian mengelus rambut Chintia hingga tertidur. Tak butuh waktu lama akhirnya Daniel juga ikut tertidur dengan posisi memeluk dan mendekap tubuh Chintia.
-------------
@@@@@
__ADS_1
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga