Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
144. MASIH RAGU


__ADS_3

Setelah pertemuanya dengan paman Yasir. Daniel, Galih, Hesti, dan Chintia berkumpul di kontrakan. Daniel menceritakan informasi yang dirinya dapatkan dari pamanya. Galih, Hesti, dan Chintia yang mendengar cerita dari Daniel terkejut. Saat itu, Hesti berasumsi kalau Galih dan Daniel memang besar kemungkinan adalah saudara.


"Mas Galih, Mas Daniel, jika aku membandingkan cerita dari nenek dan paman yasir ada banyak kecocokan. aku merasa kalian berdua memang kakak adik," ucap Hesti


"Ucapan nenek? nenek bicara apa sama kamu?" tanya Daniel


Daniel saat itu tidak tahu cerita dari Nenek Irah yang dimaksud Hesti. Hesti menjelaskan cerita nenek irah beberapa waktu lalu kepada Daniel dan Chintia. Namun Daniel masih ragu dalam mengambil kesimpulan.


"Tapi aku masih ragu, aku harus bertemu dengan Sofia alias pengacara yang mengurus peralihan namaku dulu," ucap Daniel


"Mas, aku sependapat dengan Hesti. Mas bilang paman mengatakan panggilanmu dulu Putra berubah jadi Daniel. itu termasuk bukti kuat juga kalau Mas Daniel adalah Putra," jawab Chintia


"Tapi tetap saja, Mas akan tetap mencari tahu nama asli Mas, jujur saja Mas belum yakin. bahkan paman saja tidak tahu siapa suami ibu dulu sebelum menikah dengan ayah Yazid," saut Daniel


Ada rasa kecewa dihati Galih saat mendengar Daniel yang masih ragu dan tidak yakin sama bukti dan kemungkinan yang didapat. Galih saat itu seakan akan merasa kalau Daniel tidak mau memiliki saudara sepertinya.


Tapi walaupun kecewa, apa yang dikatakan Daniel ada benarnya. Galih tetap mendukung dengan apa yang dikatakan Daniel.


"Iya, aku setuju dengan Daniel. Daniel harus tahu dulu siapa nama aslinya untuk memantapkan hatinya." saut Galih


"Hmm...terima kasih kamu telah banyak membantuku," jawab Daniel


"Sama sama, hari ini sudah mulai sore aku dan Hesti pamit pulang. assalamualakum," saut Galih

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Daniel dan Chintia


------ Rumah Galih ------


Sesampainya di rumah, Galih dan Hesti menuju kamarnya. Hesti melihat raut wajah Galih yang murung. Hesti saat itu mencoba menenangkan Galih.


"Mas, aku yakin Mas Daniel pasti bisa menerima semua kenyataan bila semua sudah terungkap," ucap Hesti


"Iya Hes, Mas ngerti itu kok. cuma Mas merasa kalau Daniel tidak ingin menjadi saudaranya Mas," jawab Galih


"Mas, jangan mikir aneh aneh, aku tahu mungkin Mas Daniel syok menerima kenyataan kalau Yazid bukan ayahnya. Mas Daniel butuh waktu," ucap Hesti


"Iya, kamu benar Hes. terima kasih kamu selalu ada untuk Mas, Mas jadi makin cinta deh sama kamu," jawab Galih


Hesti menjadi salah tingkah karena ucapan Galih. Wajah Hesti yang malu malu kucing membuat Galih gemas melihatnya. Galih kemudian dengan lembut mencium pipi Hesti dan mengatakan sesuatu.


"Mas, boleh melakukanya?" tanya Galih


"Melakukan apa, Mas?" jawab Hesti polos


"Masa kamu nggak ngerti sih, kamu pura pura nggak ngerti ya?" tanya Galih


"Aku benar benar gak tahu apa yang Mas katakan. Mas mau melakukan apa emang?" tanya Hesti

__ADS_1


"Sepertinya kamu gak bakal ngerti kalau Mas jelasin panjang lebar. Mas ingin menjalankan ritual malam pertama kita. apakah kamu siap?" saut Galih


Tangan Galih mulai meraba raba piyama yang dipakai Hesti. Hesti saat itu mulai paham dengan apa yang dilakukan Galih hanya pasrah. Galih yang tahu Hesti pasrah menerima perlakuanya langsung ingin sesuatu miliknya yang mengeras kedalam gawang.


"Kamu siap ya? Mas ingin memilikimu seutuhnya," ucap Galih


"Apakah sakit?" tanya Hesti


"Pertama bagimu mungkin sakit, kamu boleh mukul, nyakar atau jambak rambut Mas," jawab Galih


Hesti hanya mengangguk pasrah isyarat setuju. Galih kemudian memulai aksinya untuk melakukan adegan panasnya. Setia inchi tubuh Hesti kini sudah ditelusurinya dengan meninggalkan bekas merah. Pada kegiatan inti Galih memasukan miliknya kedalam milik Hesti yang tentunya membuat Hesti kesakitan.


"Mas....sakit...." teriak Hesti menangis


"Tahan ya, bentar lagi gak sakit, kamu bisa melampiaskan sakitmu pada Mas," jawab Galih


Hesti kemudian menyakar punggung kekar Galih karena kesakitan. Galih juga saat itu menenangkan Hesti dengan memberi ciuman. Setelah puas melakukan ritualnya, Galih mengeluarkan benihnya didalam agar secepatnya Hesti bisa hamil anaknya.


Malam yang cukup melelahkan, setelah selesai Galih dan Hesti menjalankan ritual mandi bersama untuk membersihkan diri. Kemudian,mereka berdua tidur bersama.


---------------


@@@@@

__ADS_1


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


__ADS_2