Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
114. MEMBANTU GALIH


__ADS_3

Esok hari, aktifitas kembali normal. Chintia dan Daniel sedang makan bersama dengan menu tumis kangkung dan perkedel jagung. Selesai makan seperti biasa Daniel memberi uang saku Chintia. Setelah memberi uang saku, Daniel mengajak Chintia bicara.


"Chintia, Mas mau ngomong sesuatu kepadamu," ucap Daniel


"Ada apa Mas?" tanya Chintia


"Kamu apakah sering ketemu sama Hesti?" tanya balik Daniel


"Aku dan Hesti beda jurusan satu fakultas Mas, jadi jarang Mas," jawab Chintia


"Oh, sebenarnya Mas mau bicara denganmu masalah Galih dan Hesti. Galih mencintai temanmu Hesti.Galih juga sudah menyatakan cintanya pada Hesti, tetapi Hesti hanya diam dan mengacuhkan Galih," ucap Daniel


"Mas tahu tidak laki laki yang namanya Joshua kemarin? dia itu mantan pacarnya Hesti. mereka berdua putus karena jarak yang memisahkanya. aku yakin Mas kalau Hesti dan Joshua sepertinya masih saling mencintai," jawab Chintia


"Kalau menurutmu apa Galih cocok dengan Hesti? Mas sebenarnya pingin. membantu Galih karena Galih kemarin sudah membantu Mas batalin pertunanganmu dengan Zaka," ucap Daniel


"Mas, aku mau membantu Mas Galih tapi aku tidak menjanjikan kalau Hesti bakal menerima Mas Galih. semua keputusan ada di Hesti sendiri," jawab Chintia


"Baiklah, nanti Mas dan Galih sore nanti pergi kesuatu tempat. nanti alamatnya Mas kirim di WA," saut Daniel


"Iya Mas, aku akan mengaja Hesti nanti. sekarang aku berangkat dulu assalamualaikum," jawab Chintia


"Waalaikumsalam" saut Daniel


------------


Kebetulan, Chintia dan Hesti memiliki waktu longgar untuk saling ketemu. Chintia saat itu langsung mengajak Hesti ke suatu tempat.


"Hes, aku mau mengajakmu makan di kafe. kamu mau ikut nggak?" tanya Chintia


"Ok boleh, di kafe mana Chin?" jawab Hesti

__ADS_1


"Udah, kamu fokus nyetir aja, nanti aku beritahu," saut Chintia


Hesti dan Chintia menuju kafe bersama sama menaiki mobil.


20 menit kemudian, Chintia dan Hesti sudah sampai di kafe. Sesampainya di kafe, Chintia melihat Daniel dan Galih duduk berhadapan. Saat itu Hesti tidak menyadari keberadaan Galih karena posisi Galih membelakanginys. Chintia saat itu tanpa ragu langsung menarik tangan Hesti mengajaknya duduk didekat suaminya.


"Hes, disana ada suamiku. kita kesana yuk," ajak Chintia


"Terus aku jadi obat nyamuk kalian nanti?" jawab Hesti


"Disitu ada teman suamiku. kamu gak sendirian jadi obat nyamuk," saut Chintia


"Kamu menyindirku? yah mentang mentang punya suami sahabatnya jomblo di motivasi atau apak kek harusnya," jawab Hesti


"Eh, udah ah cemberut mulu. ayo kita kesana," saut Chintia


"Lha kamu sih gak peka," ucap Hesti


"Udah ayo santai aja, lagian banyak orang malu dong mesra mesrahan," jawab Chintia


Hesti saat itu merasa pria dihadapanya terus menatapnya. Hal itu tentu membuat Hestu ketakutan, spontan memulai pembicaraan.


"Maaf, sebaiknya anda tidak menatap saya begitu. saya ketakutan," ucap Hesti


Pria itu yang melihat Hesti ketakutan langsung membuka masker, kaca mata dan topinya di hadapan Hesti. Hesti sontak terkejut dengan pria yang sangat familiar di ingatanya.


"Mas Galih," ucap Hesti


"Hesti, apa kabar? kita sudah lama tak bertemu " jawab Galih


"Iya aku memang sibuk banyak tugas," ucap Hesti

__ADS_1


"Hmm...sekarang bagaimana jawabanmu?" jawab Galih


"Jawaban?" tanya Hesti


"Iya jawaban kamu. apa kamu lupa kalau aku pernah menyatakan cintaku padamu. sekarang bagaimana jawaban kamu?" tanya balik Galih


Hesti kembali terdiam tidak menjawab pertantaan Galih. Hesti sebenarnya masih ragu dengan peraasaanya. Hestu saat itu berpikir, kalau dirinya tidak mau pacaran karena dirinya ingin fokus kuliah.


"Maaf, aku menolaknya. aku tidak mau berpacaran. aku mau fokus kuliahku," ucap Hesti


"Aku tidak suka penolakan," jawab Galih


"Itu urusan Mas Galih. sekarang jangan ganggu aku. aku mau pulang," saut Hesti


Galih saat itu tidak terima cintanya bertepuk sebelah tangan. Bayangan Hesti akan kembali berpacaran dengan Joshua menghantui pikiranya. Melihat Hesti beranjak dari tempat duduknya, Galih mencengkram tangan Hesti dengan kuat karena takut Hesti meninggalkanya pergi. Tak peduli Hesti yang terus memberontak, Galih terus memaksa Hesti tetap duduk dihadapanya.


"Aku bilang duduk," tegas Galih


Hesti akhirnya mengalah memilih duduk. Melihat Hesti menuruti perintahnya, Galih langsung memulai pembicaraan.


"Apakah kamu sungguh tidak mau pacaran?" tanya Galih


"Iya benar," jawab Hesti


"Ok, jika itu keinginanmu, aku mau menikah denganmu," saut Galih


Degg..


--------------


@@@@@

__ADS_1


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


__ADS_2