
--- Di Kontrakan Daniel dan Chintia ---
Sore hari, setelah ke kantor Daniel yang merasa lelah terduduk di kursi yang ada di teras kontrakan
"Hari ini sangat melelahkan," ucap Daniel
"Mas, mau aku buatkan air hangat buat mandi?" tanya Chintia tiba tiba
"Iya tapi, mandinya sama kamu," goda Daniel
"Ih, Mas Daniel selalu gitu deh, mintanya aneh aneh," jawab Chintia
"Hehe, boleh ya?" tanya Daniel
"Kalau mau sekarang berarti nanti malam nggak usah," jawab Chintia
Daniel saat itu berpikir durasi main di malam hari lebih lama di banding sore hari langsung menarik ucapanya tadi.
"Baiklah, permintaan Mas yang tadi gak jadi sekarang, nanti malam aja. tapi kamu gak boleh ngerjain Mas kaya kemarin kemarin tidur pules duluan," ucap Daniel
"Hehe...aku kan tidak sengaja Mas, lagian yang salah bukan aku, tapi mataku yang sudah ngantuk," jawab Chintia
"Bisa aja kamu, pokoknya kalau nanti kamu ngerjain Mas lagi, Mas gak peduli pokoknya Mas akan terkam dirimu pas tidur," ucap Daniel
Daniel merasa kesal beberapa hari yang lalu, Chintia mengerjai dirinya. Waktu itu malam hari, Daniel sudah bersiap hanya memakai sehelai benang yang menutupi senjatanya. Tapi nasib berkata lain, Chintia sudah terlelap dalam tidurnya. Karena tidak tega membangunkan Chintia, Daniel terpaksa memakai piyamanya lagi.
"I...Iya Mas, sekarang aku akan siapkan air hangat untuk Mas mandi sama masak buat nanti makan malam," jawab Chintia gugup
"Siap istriku sayang," saut Daniel
__ADS_1
Chintia yang masih merasa aneh dipanggil sayang saat itu mengenyitkan dahinya merasa geli. Dengan langkah seribu, Chintia segera berlari pergi ke dapur meninggalkan Daniel di teras. Daniel yang melihat istrinya masih asing dengan panggilan sayang tersenyum senyum memuji istrinya.
"Dasar istri kecilku, gemesin banget mukanya, 9 bulan nikah masih aja polos," batin Daniel
--- Malam Hari ---
Setelah makan malam, entah mengapa tiba tiba dipikiran Daniel masih terngiang dengan ucapan Nenek Irah dan Daniel. Awalnya Daniel menganggap semua itu hanya angin lewat mungkin saja Nenek Irah merindukan Putra. Tapi dengan adanya temuan Galih yang mengatakan masa lalunya berhubungan dengan Putra membuat Daniel berpikir.
Banyak sekali kemiripan dirinya dengan Putra. Selain nama ibunya yang sama dengan Galih, cerita cerita ibunya sejak dirinya masih kecil juga berhubungan seperti apa yang dikatakan Galih. Mulai dari cerita ibunya tentang pemberian nama Saputra, rasa kue cubit buatan ibunya berasal dari neneknya, dan yang lebih aneh lagi hanya ibunya dan Nenek Irah yang memanggilnya Putra.
"Memang benar yang diucapkan Galih kalau masa laluku memiliki kemiripan dengan masa lalu Putra. apakah memang ada rahasia yang belum terkuak dari keluargaku?" gumam Daniel
Chintia saat itu yang barusan selesai mencuci piring melihat suaminya gelisah. Tanpa berpikir panjang, Chintia mencoba mendekati dan menanyai suaminya.
"Mas, ada apa?" tanya Chintia
"Mas kepikiran ucapan Nenek Irah dan Galih kemarin? menurutmu Mas harus bagaimana?" tanya balik Daniel
" Iya kamu benar, Mas mulai darimana dulu ya menyelidikinya?" tanya Daniel
"Apakah Mas masih ada keluarga? maksud aku mungkin keluarga dari almarhum ayah atau ibu," jawab Chintia
"Selama ini aku tidak pernah bertemu dengan keluarga dari ibuku. yang aku tahu adalah keluarga dari ayahhku. keluarga dari ayahku tidak ada yang menginginkan aku. sebenarnya ada sih pamanku yang peduli sama aku. tapi pedulinya diam diam kalau pas sepi," ucap Daniel.
"Bagaimana kalau kita menemui paman, Mas? siapa tahu paman bisa memberikan kita petunjuk?" tawar Chintia
"Iya kamu benar, paman Yasir pasti bisa membantu kita. Paman Yasir itu kembar sama ayahku. Paman Yasir itu adiknya ayahku Yazid.Tapi masalahnya paman Yasir tinggal dirumah kakek dan nenek. kakek dan nenek sangat membenci diriku."ucap Daniel
Chintia yang melihat Daniel bingung cara menemui paman Yasir langsung menawarkan dirinya yang bertemu dengan Pamam Yasir.
__ADS_1
"Mas, gimana kalau aku saja yang bertemu dengan Paman Yasir. nanti sekalian aku akan mengajak Hesti dan Mas Galih juga. menurut Mas gimana?" tanya Chintia
"Iya sebaiknya kita juga membicarakan hal ini sama Hesti dan Galih biar kebenaran segera terungkap," jawab Daniel
"Mas, seandainya benar Mas Daniel dan Mas Galih adalah kakak adek, aku seneng banget Mas," ucap Chintia
"Haha...kamu bisa saja Chin. lagian aku anak tunggal," jawab Daniel
"Hmm..lihat saja nanti," saut Chintia
"Chintia, kamu gak lupa kan?" tanya Daniel
Chintia saat itu teringat ucapanya tadi sore hanya bisa diam melihat tatapan mesum Daniel.
"Eh, aku kayaknya amnesia mendadak deh Mas," jawab Chintia
"Mas akan menyembuhkan amnesiamu itu, hari ini kamu gak bisa kabur," ucap Daniel
"Mas, aku PMS," jawab Chintia asal
"Mas sudah tahu kalender datang bulan kamu, hari ini nurut saja sama Mas, jangan cari alasan aneh aneh, ini hukuman karena kamu ngerjain Mas kemarin kemarin," saut Daniel
Daniel langsung menggendong istrinya ke kamar. Setelah itu Daniel melepas pakaianya dan pakaian istrinya hingga tak menyisahkan sehelai benang. Seperti biasa pemanasan dimulai dengan adegan menyatukan saliva. Kemudian setelah puas salivanya bersatu, Daniel meremas remas gunung kembar istrinya yang baginya adalah mainan favoritnya.
Masuk kedalam inti permainan saat itu tanpa basa basi Daniel langsung menghentakan hentakan maju mundur miliknya hingga membuat Chintia terus mengeluarkan desahanya. Mereka berdua menikmati permainan cintanya yang berlangsung 2 jam. Setelah puas bermain, Daniel dan Chintia bersama sama melakukan ritual mandi wajib lalu kembali tertidur.
---------------
@@@@@
__ADS_1
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga