Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
172. MODUS VS NGIDAM


__ADS_3

4 bulan kemudian, usia kandungan Chintia memasuki usia 8 bulan lebih. Semakin besar kandungan Chintia, Daniel nampak terlihat khawatir dengan Chintia. Karena rasa khawatirnya itu, Daniel rela memilih mengerjakan semua pekerjaan kantornya di rumah demi menjaga Chintia. Setiap hari Chintia menghabiskan waktunya berdiam diri di kamar. Chintia hanya diperbolehkan keluar saat jalan pagi saja dan itu pun Daniel harus menemaninya. Hingga satu minggu menjalani rutinitas di kamar Chintia merasa bosan.


"Mas, aku bosan di kamar," ucap Chintia


"Kamu harus banyak istirahat agar kandunganmu sehat, tadi pagi sudah jalan pagi kan? sekarang kalau kamu bosan bisa memandangi Mas yang sedang bekerja," jawab Daniel


"Mas, jangan bercanda. aku beneran bosan tidak ada aktivitas selain rebahan di kamar saja," ucap Chintia


"Tidak boleh, kamu harus tetap di kamar," jawab Daniel


Chintia hanya bisa pasrah menghadapi suaminya. Saat itu, Chintia menatap punggung Daniel yang sedang duduk dikursi. Namun tiba tiba saja, Chintia ingin sesuatu yang aneh tapi dirinya malu mengatakanya. Tanpa berpikit panjang, Chintia bangkit dari ranjangnya menghampiri Daniel.


Sementara Daniel yang fokus berkutat dengan laptopnya menyadari Chintia telah turun dari ranjang.


"Mengapa turun dari ranjang?" tanya Daniel


"Mas, aku ingin sesuatu tapi kamu diamlah," jawab Chintia


"Katakan saja Chintia, jangan bikin Mas penasaran," saut Daniel


"Mas pokoknya diam saja, dan lanjutkan saja mengetiknya," jawab Chintia


"Ok, baiklah lakukan apa saja yang kamu mau," saut Daniel


Chintia saat itu menarik kaos Daniel secara tiba tiba membuat Daniel terkejut.


"Eh..eh..apa yang kamu lakukan Chintia?" tanya Daniel

__ADS_1


"Sudahlah, Mas menurut saja," jawab Chintia


"Ok, kamu mau Mas menyapa si dedek di dalam sana. dengan senang hati Mas mau melakukanya tanpa kamu suruh," goda Daniel


Chintia yang tahu arah pembicaraan Daniel langsung mencubit lengan kekar Daniel.


"Auhh...sakit," teriak Daniel


"Makanya nurut sama aku, Mas diam saja," jawab Chintia


"Ok, Mas pasrah," saut Daniel


Chintia saat itu menyeret kursi dan memposisikanya dibelakang Daniel. Kemudian Chintia menduduki kursinya lalu melingkarkan tanganya di perut Daniel. Tak hanya itu, Chintia juga mengendus enduskan kepalanya di punggung Daniel. Daniel tentunya tidak merasa nyaman dengan apa yang dilakukan Chintia.


"Chintia, apa yang kamu lakukan? kamu menggodaku," tanya Daniel


"Mas, ini dedek yang minta deh Mas, Mas nurut aja," jawab Chintia


"Chintia, sepertinya kamu membangunkan tongkat pusakaku," ucap Daniel


"Mas diam saja, aku tidak peduli," jawab Chintia


"Baiklah, kamu yang mulai duluan. Mas sudah tidak tahan menahanya,"saut Daniel


Daniel sontak melepas tangan Chintia yang melingkar diperutnya lalu berbalik menghadap Chintia.


"Mas, mengapa tanganku dilepas," ucap Chintia

__ADS_1


"Karena Mas ingin memakanmu, kamu tenang saja Mas sudah baca di internet kalau hubungan badan ditengah hamil besar akan melancarkan jalan lahir si dedek keluar," saut Daniel


Tanpa berpikir panjang, Daniel mencium bibir Chintia. Chintia awalnya membrontak tapi Daniel memaksakan ciumanya agar semakin dalam masuk kedalam mulut Chintia. Setelah puas dengan bibir Chintia, Daniel membaringkan Chintia diranjang lalu melakukan tradisinya memasukan tongkat pusakanya ke sarangnya. Dengan catatan, Daniel melakukanya dengan pelan agar tidak menganggu si dedek dalam rahim.


1 jam setelah bergulat bersama Chintia, Daniel hendak mandi untuk membersihkan dirinya. Tapi Chintia mencegahnya karena dirinya memiliku keinginan baru yakni mengendus enduskan kepalanya di ketiak suaminya. Hal itu tentunya, membuat Daniel merasa geli.


"Ah geli.." teriak Daniel


"Mas, jangan berteriak," jawab Chintia


"Chintia, udah hentikan, Mas merasa geli,"ucap Daniel


"Gak bisa, tadi Mas sudah dapat jatah nengokin dedek, sekarang si dedek pingin ngendus ngendus lewat mamanya," jawab Chintia


"Tapi biarkan Mas berpakaian dulu, Mas merasa gerah mau mandi, ini juga Mas penuh keringat. ditambah lagu kelakuanmu bikin Mas geli," saut Daniel


"Mas nurut saja, dan nikmati saja," ucap Chintia


"Ah, ok baiklah. bumil selalu menang," saut Daniel


"Memang harus begitu, Bumil adalah ratu, dan raja harus tunduk saat ratunya hamil," jawab Daniel


"Ok ratu, raja hanya pasrah saja, aahh...geli..." saut Daniel


--------------


@@@@@

__ADS_1


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


__ADS_2