
12 jam kemudian
Akhirnya Daniel dan Chintia sudah sampai di Tulungagung. Sesampainya di Tulungagung, Daniel dan Chintia menaiki grab car menuju rumah Chintia. Di dalam mobil Daniel merasa tegang hendak bertemu mertuanya. Chintia melihat suaminya berkeringat seperti habis lari maraton. Chintia kemudian mengambil tisue di tasnya lalu mengelap keringat di wajah Daniel. Daniel saat itu terkejut dengan perlakuan Chintia.
"Chintia," ucap Daniel
"Iya Mas, kamu berkeringat. aku hanya mengelap keringatmu," jawab Chinta
"Chintia, apakah bapak dan ibuk nanti di rumah?" tanya Daniel
"Iya Mas pastinya, Mas jangan takut," jawab Chintia
"Mas hanya sedikit gerogi," ucap Daniel
"Di coba dulu aja Mas, hasilnya urusan belakagan," jawab Chintia
"Iya Chin, kok sekarang jadi kamu yang menenangkan Mas," ucap Daniel
"Wajar aja Mas, aku kan istri Mas yang baik hati dan juga imut," jawab Chintia
"Iya deh, kamu emang istri Mas yang cantik imut, lucu kaya marmut," saut Daniel
Daniel semakin gemas dengan istrinya yang terkadang bisa bersikap dewasa tapi juga terkadang bisa bersifat kekanakan. Daniel harus bisa menyikapi sikap istrinya yang labil karena istrinya masih berusia 19 tahun.
Dalam perjalanan di rumah Chintia, Daniel ingin mengenal lebih dekat tentang orangtua Chintia. Tanpa ragu Daniel bertanya pada Chintia
"Chintia, Bapak dan Ibuk pekerjaanya apa?" tanya Daniel
"Bapak bekerja sebagai buruh sawah, kalau ibuk jualan getuk Mas," jawab Chintia
"Getuk?" tanya Daniel
"Iya Getuk, suatu jajana tradisional jawa timur yang terbuat dari singkong.biasanya malam malam ibuk membuatnya di rumah. nanti Mas bisa lihat." jawab Chintia
__ADS_1
"Bapak dan Ibuk sebelumnya sudah pernah tahu reaksi kamu bawa laki laki di rumah?" tanya Daniel
"Sebenarnya pernah Mas sekali pas belajar kelompok. kalau Ibuk reaksinya biasa aja hanya sekedar tanya tanya. tapi kalau Bapak langsung marah marah sambil bawa sapu." jawan Chintia
"Terus kamu gak jadi belajar kelompok bareng?" tanya Daniel
"Iya tetap belajar tapi tidak bebas Mas, karena Bapak ikut menemani aku dan teman laki lakiku dulu belajar" jawab Chintia
Daniel sebenarnya merasa takut mendengar cerita Chintia saat membawa teman laki laki di rumah. Chintia yang cerita saja ketakutan, apalagi dirinya yang akan hendak bertemu langsug. Melihat Chintia yang ketakutan tidak mungkin dirinya harus ikut menampakan wajah ketakutan juga. Daniel memeluk Chintia dalam mobil berusaha menenangkan dan meyakinkanya.
"Chintia, Mas janji sama kamu akan menjadi bentengmu. Mas yakin bisa menghadapi semuanya nanti," ucap Daniel
"Mas, aku mohon jangan ada kekerasan saat saling dihadapan keluargaku," jawab Chintia
"Iya, Mas janji. Mas tidak akan menyakiti siapun. yang penting bagi Mas kamu selalu menemai Mas dalam suka maupun duka," ucap Daniel
"Iya Mas," jawab Chintia
"Amin..." jawab Chintia
20 menit kemudian, Daniel dan Chintia sudah sampai rumah. Sesampainya dirumah Chintia dan Daniel dipertemukan oleh seorag wanita paruh baya berusia lima puluh tahunan. Wanita itu adalah Bu Rahma alias ibu dari Chintia.
Bu Rahma melihat seorang laki laki yang pulang bersama Chintia langsung mengintrogsinya.
"Siapa kamu? mengapa pulang bareng anak saya?" tanya Bu Rahma
"Pekenalkan saya Daniel suami dari Chintia," jawab Daniel
"Apa? Suami? jangan bermimpi kamu. Chintia akan dijodohkan sama Bapaknya," saut Bu Rahma
Chintia yang melihat ibunya marah marah kepada Daniel, dengan sigap membenarkan ucapan Daniel.
"Ibu, Mas Daniel memang benar suamiku. aku dan Mas Daniel sudah menikah sejak 4 bulan yang lalu karena kesalahpahaman." ucap Chinia
__ADS_1
"Coba jelaskan pada Ibu. apa kesalahpahaman yang membuat kalian berdua menikah? mana bukti kalian sudah menikah?" tanya Bu Rahma
Chintia saat itu mengeluarkan buku nikahnya kepada Ibunya. Saat itu Bu Rahma benar terkejut melihat buku nikah anaknya. Bu Rahma tanpa berpikir panjang langsung memarahi Daniel. Karena menurut Bu Rahma tidak mungkin gadis sepolos Chintia melakukan kesalahan yang membuatnya harus menikah tanpa restu keluarga.
"Hei, kamu apakan anak saya ? kamu pasti yang bersalah? apa yang membuat anak saya menikah denganmu tanpa meminta restu keluarganya." tanya Bu Rahmah
"Ibu, saya minta maaf.saya yang bersalah. saya sekarang memohon restu dari ibu untuk menerima saya sebagai suami Chintia," jawab Daniel
Bu Rahma tidak menggubris ucapan Daniel. Bu Rahma memangisi nasib Chintia yang tiba tiba sudah menikah. Chintia yang melihat ibunya menangis langsung menceritakan pertemuanya dengan Daniel
Chintia menceritakan awal mula Daniel menyelamatkanya dari preman yang hendak memperkosanya. Chintia juga menceritakan alasan terjadinya kesalahpahaman warga terhadap dirinya dan Daniel. Terakhir ,Chintia juga menceritakan bahwa selama hidup bersama Daniel, Daniel selalu menjaganya, melindunginya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Mendengar penjelasan Chintia, Bu Rahma tidak menyangka laki laki yang barusan dicaci maki telah menyelamatkan masa depan Chintian. Bu Rahma berpikir andai saja Danie tidak mennyelamatkan Chintia, masa depan Chintia akan hancur. Bu Rahma menyesal telah menghina Daniel saat itu berterima kasih dan meminta maaf kepada Daniel.
"Ibu berterima kasih kepadamu Daniel. kamu telah menyelamatkan anak saya. Ibu minta maaf tadi memarahimu karena ibu kaget." ucap Bu Rahma
"Iya Ibu, saya mengerti perasaan Ibu. saya juga minta maaf baru bisa menemui Ibu dan Bapak sekarang. tujuan saya ikut dengan Chintia karena ingin silahturahmu dan meminta restu dari Bapak dan Ibu," jawab Daniel
"Ibu merestui kalian. tapi Ibu tidak tahu Bapak merestui hubungan kalian atau tidak. karena Bapak mau menjodohkan Chintia," ucap Bu Rahma
"Iya Ibu, terima kasih restunya. saya akan berusaha untuk meyakinkan Bapak untuk merestui hubungan kami," jawab Daniel
"Ibu hanya bisa berdoa untuk kalian. sekarang sudah malam. Chintia, bawa suamimu ke kamarmu." ucap Bu Rahma
"Iya Ibu," jawab Chintia
--------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga
__ADS_1