Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
133. BERTANYA TANYA


__ADS_3

Daniel tentunya merasa terkejut saat Nenek Irah yang mengatakan kalau dirinya adalah Putra. Tidak hanya Daniel saja yang terkejut. Chintia, Hesti dan Galih yang ada di meja maka juga turut terkejut. Saat itu, Daniel lansung bertanya pada Nenek Irah dengan tujuan meluruskan kesalahpahaman.


"Nek, sebelumnya aku minta maaf. aku mau bertanya mengapa nenek yakin sekali kalau aku adalah Putra?" tanya Daniel


"Ibumu Olivia, Olivia itu menantuku yang kejam. Olivia memisahkanmu dari keluarga ini. asal kamu tahu, namamu Saputra adalah pemberian dari nenek," jawab Nenek Irah


Degg


Mendengar ucapan Nenek Irah, Daniel mengingat kalau semasa hidup ibunya pernah mengatakan kalau nama Saputra pada dirinya adalah pemberian dari neneknya. Selama ini, Daniel tidak tahu nenek dari keluarga ibunya. Tapi Daniel perlu bukti kalau dirinya adalah Putra cucu dari Nenek Irah atau adiknya Galih.


"Nek, aku minta maaf, aku tidak mempercayai ini semua. aku memerlukan bukti yang akurat," ucap Daniel


"Buktinya sudah jelas ibumu Olivia adalah Ibunya Galih juga, Olivia adalah menantuku yang kejam," jawab Nenek Irah


"Nek hentikan semua ini, Galih tahu nenek merindukan Putra, tapi tidak dengan cara seperti ini Nek," saut Galih tiba tiba


"Kamu mau seperti Olivia? mau memisahkan aku dengan Putra? Putra sudah dihadapanku. mengapa kamu mencegah nenek bertemu dengan Putra?" tanya Nenek Irah dengan nada tinggi


"Nek, Galih mohon tenangkan diri nenek. kita semua ada bersama nenek. sekarang nenek istirahat dulu biar aku yang menyelesaikan masalah ini. aku janji tidak akan mengecewakan nenek," jawab Galih


Nenek Irah saat itu sudah mulai tenang. Nenek Irah hanya terdiam lemas dan pasrah dirinya yakin Galih pasti melakukan tugasnya dengan baik. Galih yang melihat neneknya sudah tenang langsung menoleh kearah Hesti menyuruhya membawa Nenek Irah ke kamar.


"Hes, tolong antarkan nenek ke dalam kamarnya," ucap Galih

__ADS_1


"Iya Mas," jawab Hesti


Hesti langsung menuntun Nenek Irah dengan mendorong kursi roda ke arah kamar.


Di meja makan hanya tersisa Galih, Daniel dan Chintia. Mereka semua masih terdiam sejak kericuhan di meja makan barusan. Galih sebagai tuan rumah saat itu akhirnya membuka suaranya memecah keheningan.


"Daniel, Chintia, aku sekeluarga minta maaf atas kericuhan hari ini di meja makan. semoga kalian berdua memahami kondisi neneku," ucap Galih


"Lih, mengapa kamu tidak bercerita tentang siapa Olivia kemarin kepadaku? bahkan kamu mengatakan Olivia adalah karyawanmu. apa maksudnya ini Lih?" tanya Daniel


"Daniel, jujur sebenarnya aku merasa gugup saat itu. ibuku memang bernama Olivia juga," jawab Galih


"Lalu apa tujuanmu sebenarnya bertanya tanya tentang masa laluku kemarin? apakah ada kaitanya dengan kejadian hari ini? tolong katakan kepadaku Lih?" tanya Daniel


"Hmm...aku bisa jelaskan semua ini," jawab Galih


"Galih, kita itu sahabat, istri kita juga bersahabat. jika kamu ada masalah kamu katakan saja pada kami. terus mengenai Putra, jika kamu butuh bantuan, kami akan membantumu kok," ucap Daniel


Galih yang melihat Daniel marah kepadanya tidak ingin persahabatanya pecah karena masalah keluarganya. Tidak ada pilihan lain, Galih saat itu langsung mengatakan sesuatu yang penting kepada Daniel dan Chintia.


"Daniel Chintia, aku minta maaf. saat ini memang aku mencari adiku Putra," ucap Galih


"Iya Lih, aku mengerti. pasti karena pertemuanku dulu sama nenekmu pas makan siang dulu kan? nenekmu saat itu memanggilku Putra," jawab Daniel

__ADS_1


"Iya Nil, kamu benar. aku harap kamu tidak tersinggung. jujur saja memang ada beberapa peristiwa masa lalumu yang memiliki kecocokan kuat membuktikan kalau dirimu adalah Putra. tapi sampai sekarang aku memerlukan bukti yang kuat untuk menyimpulkan semuanya," ucap Galih


"Benarkah? apa gara gara nama ibu kita sama? jujur saja aku sakit hati nenekmu menghina ibuku, ibuku itu orang baik. mungkin kebetulan saja nama ibu kita sama," jawab Daniel


"Iya Nil, tolong maafkan aku dan keluargaku.jika semuanya selesai pasti kebenaranya akan terungkap," ucap Galih


Daniel sontak menepuk punggung Galih lalu mengatakan sesuatu.


"Lih, aku siap membantumu mencari informasi tentang keberadaan Putra. asalkan jangan menyelidikiku diam diam tanpa sepengatahuanku seperti kemarin," ucap Daniel


"Baiklah, jika aku membutuhkanmu aku aka menghubungimu," jawab Galih


"Iya Lih, kalau gitu aku dan Chintia pamit pulang sudah malam," ucap Daniel


"Iya hati hati," jawab Galih


"Assalamualaikum," ucap Daniel


"Waalaukumsalam," jawab Galih


---------------


@@@@@

__ADS_1


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


__ADS_2