
Pagi yang cerah, Daniel bangun dari tidurnya melihat Chintia masih tertidur pulas. Semalam Daniel bermain tiga ronde hingga membuat Chintia terpaksa menuruti kemauanya bergadang hingga akhirnya tertidur setelah shubuh. Bahkan parahnya semalam Chintia merengek kesakitan tidak bisa bangun saat hendak menuju kamar mandi membuat Daniel terpaksa menggendongnya.
Mengingat malam indahnya bersama Chintia, Daniel merasa sangat bahagia. Daniel mengecup kening Chintia lalu beranjak turun dari ranjang untuk pergi ke kamar mandi
10 menit kemudian selesai mandi Daniel membangunkan Chintia yang sedang tertidur pulas.
"Chintia...bangun yuk sudah pagi," ucap Daniel menepuk pelan pipi Chintia
"Emmm...aku masih mengantuk, Mas" jawab Chintia
"Hei, nanti kereta kita telat dua jam lagi akan berangkat. ayo bangun," ucap Daniel
Chintia akhirnya bangun dari tidurnya lali berjalan menuju kamar mandi. Chintia berjalan terseok seok karena area sensitifnya masih sedikit sakit. Daniel yang melihat Chintia berjalan terseok seok sontak bertanya pada Chintia tentang kondisinya
"Chintia, apa masih sakit?" tanya Daniel
"Sedikit Mas, tapi sudah mendingan kok," jawab Chintia
"Mas minta maaf sudah buat kamu kesakitan. sekarang Mas bantu ke kamar mandi," ucap Daniel
"Aku tidak apa apa Mas, ini hal yang wajar kan kata Mas semalam," jawab Chintia
"Baiklah hati hati," ucap Daniel
"Iya Mas," jawab Chintia
Daniel hanya diam dan melamun mengingat kejadian semalam. Memang benar, Daniel mengatakan hal itu pada Chintia saat selesai melakukan aktivitas ranjangnya. Karena memang saat itu kondisinya Daniel menenangkan Chintia yang terus merengek kesakitan. Namun sekarang kondisinya berbalik. Daniel mengkhawatirkan kondisi Chintia dan malah Chintia yang justru lebih santai.
15 menit kemudian, Chintia sudah selesai dengan ritual mandinya. Daniel dan Chintia bergegas meninggalkan hotel dan berangkat menuju stasiun. Namun saat hendak keluar Daniel tiba tiba menegur Chintia tanpa sebab.
"Chintia, apa maksudmu berpenampilan seperti ini?" tanya Daniel
"Maksud Mas apa? aku gak ngerti," tanya Chintia
__ADS_1
"Lihat kamu dandan terlalu cantik hari ini, dan pakaianmu terlalu terbuka memperlihatkan lenganmu. baju yang kamu pakai tetalu pendek lenganya," jawab Daniel
"Mas, penampilanku memang seperti ini Mas biasaya," ucap Chintia
"Tidak, pokoknya kamu harus memakai lengan panjang dan juga tidak tampil terlalu cantik didepan pria selain suamimu," jawab Daniel
"Mas, sebenarnya ada apa sih? kok tumben bersikap kaya gini." tanya Chintia
"Karena kamu adalah istriku, Mas hanya tidak suka melihat pria lain diluar sana nanti menatap kecantikanmu dan berpikir mesum. Cukup Mas saja yang boleh terus menatap kecantikanmu tanpa bosan.dan juga berpikiran kejadian malam spesial yang kita lakukan kemarin," jawab Daniel
"Ih...Mas pikiranya mesum terus gak ada capek capeknya," saut Chintia
Chintia yang merasa risih dengan perubahan Daniel yang mendadak posesif hanya bisa bersabar menuruti perintah Daniel.
Setelah bersiap siap, Daniel dan Chintia pergi meninggalkan hotel. Namun tidak sengaja ada seorang pria yang memanggil Chintia.
"Hai Chintia," sapa pria itu senyiman
"Hai juga," jawab Chintia dengan senyuman
"Iya aku ingat kamu mantan pacarnya Hesti," jawab Chintia
Joshua mengangguk dengan senyuman dibalas dengan senyum getir dari Chintia. Sementara Daniel menatap tajam Joshua membuat Joshua merinding. Joshua yang saat itu merinding mencoba mengalihkan perhatianya dengan bertanya pada Chintia
"Chintia, dimana Hesti? apa dia tidak ikut pulang kampung?" tanya Joshua
"Tidak, dia masih di jakarta," jawab Chintia
"Aku sudah menduganya, eh iya ngomong ngomong siapa pria disampingmu?" tanya Joshua
"Aku suaminya," saut Daniel
Joshua terkejut mendegar fakta kalau Chintia sudah menikah tanpa ragu Joshua langsung mengucapkan selamat pada Chintia mengajaknya bersalaman.
__ADS_1
"Wah, Chin ternyata kamu sudah menikah, selamat ya..." ucap Joshua
Saat Chintia mau menjawab ucapan selamat dari Joshua. Daniel saat itu langsung menyaut pembicaraan danmenyalami Joshua
"Iya terima kasih," saut Daniel
"Eh, sama sama Pak," jawab Joshua
Daniel saat itu tidak hanya menerima salaman dari Joshua. Melainkan dirinya meremas jari tangan Joshua. Joshua yang menyadari jari tanganya diremas Daniel berteriak kesakitan.
"Aaa...aduh Pak," teriak Joshua
"Oh sakit ya, maaf aku sepertnya tidak sengaja," jawab Daniel dengan senyuman
"Iya Pak, tidak apa apa," saut Joshua
Chintia yang melihat Daniel merasa kesal dengan Joshua langsung mengajaknya pergi.
"Mas, sebaiknya kita pergi," ucap Chintia
"Iya baiklah," jawab Daniel datar
"Chintia, aku juga pamit mau pergi. kalau sudah sampai di jakarta. tolong kamu sampaikan kepada Hesti kalau aku merindukanya," ucap Joshua
"Iya baiklah Jos, kalau gitu aku permisi dulu," jawab Chintia
"Ok Chin," saut Joshua
--------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
__ADS_1
Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga