Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
98. JELANG PESTA PERTUNANGAN


__ADS_3

--- Di Tulungagung ----


Pagi hari yang cerah di hari Minggu. Semua keluarga dan tetangga Chintua terlihat di ruang tamu sedang sibuk mempersiapkan jamuan makanan ringan dan prasmanan untuk tamu undangan pesta pertunangan. Semua bergembira hendak menyambut Chintia dan Zaka yang akan bertunangan.


Namun disaat semua orang bergembira Chintia hanya bisa merenungi nasibnya dengan menangis di dalam kamar. Apapun cara yang dilakukan Chintia untuk membatalkan pertunanganya dengan Zaka sia sia. Lontaran kata kata pedas dari Pak Bariq membuat Chintia tak bisa melawan.


"Semua sia sia. aku sudah berusaha. Bapak, Ibu, dan semuanya mengekang keinginanku untuk menolak pertunangan ini. Hidupku penuh liku liku. setelah aku mendapat kebahagiaan dari kesedihanku, aku kembali merasakan kesedihan itu. mengapa hidup inu tidak adil. Apakah aku ditakdirkan tidak bahagia? apakah aku tidak berhak hidup bahagia?" batin Chintia


Chintia menangis tanpa henti jelang pesta pertunanganya dengan Zaka nanti malam. Entahlah Chintia merasa tidak ada semangat hidup jika pesta pertunangan hari ini benar benar terjadi. Saat itu dari bilik pintu kamar Chintia terlihat Bu Rahma mengintip putrinya sedang menangis. Bu Rahma tidak tega melihat putrinya terus terusan menangis.


Bu Rahma tadi sebenarnya mau mengajak Chintia sarapan bersama. Namun karena melihat putrinya menangis Bu Rahma menghampiri putrinya berusaha mengajaknya bicara.


"Chintia..." sapa Bu Rahma


"Iya Bu, kalau Ibu mau memanggilku untuk sarapan bersama lebih baik aku sarapan nanti. Ibu dan yang lain duluan saja aku menyusul," jawab Chintia


"Chintia, apakah kamu berpikir Ibu tidak memikirkan dirimu?" tanya Bu Rahma


"Semua tidak ada yang peduli dengan diriku. semua tidak memikirkan perasaanku. semua juga mengekang keinginanku hanya demi uang. Di keluargaku uang lebih berharga dibanding diriku sendiri," jawab Chintia


"Apakah yang kamu katakan itu termasuk Ibumu juga yang sekarang duduk disebelahmu?" tanya Bu Rahma


"Aku tidak tahu Ibu. hanya Ibu yang bisa menjawabnya. jujur saja aku marah sekali sama semuanya. tapi aku sadar dan tidak mau melawanya. karena bagaima pun juga aku tidak mau menjadi anak durhaka walau diriku tidak dibutuhkan," jawab Chintia


"Sebenarnya Ibu juga sudah berusaha membujuk Bapakmu. tapi tetap saja Ibu tidak bisa berkata apa apa lagi. Ibu sedih jika putri Ibu terus bersedih dan menangis," ucap Bu Rahma menangis

__ADS_1


"Apakah Ibu mendukung keputusanku?" tanya Chintia


"Iya, Ibu mendukung pilihanmu. Ibu juga merasa suamimu adalah orang yang bertanggung jawab, dan juga sopan," jawab Ibu Rahma


"Lalu, apa maksud Ibu merestui hubunganku dengan Mas Zaka kemarin? Ibu bahkan mendoakanku bahagia bersama Mas Zaka di hadapan Bu Hartatik," saut Chintia


"Ibu terpaksa melakukanya. Ibu tidak bisa berbuat apa apa selain pasrah. Ibu tidak berdaya. Ibu hanya ingin kamu bahagia," jawab Ibu Rahma


"Seandainya pertunangan ini batal, apakah Ibu akan senang atau kecewa?" tanya Chintia


"Asalkan anak Ibu bahagia Ibu senang." jawab Bu Rahma


Chintia terharu dengan jawaban dari Ibunya. Chintia sontak refleks memeluk Ibunya dan berterima kasih.


"Iya, Ibu akan selalu berdoa yang terbaik untukmu," jawab Bu Rahma


"Ibu, aku ingin mengatakan sesuatu pada Ibu." ucap Chintia


"katakanlah, Ibu akan mendengarkanya," jawab Bu Rahma


"Baiklah Ibu, tapi aku tutup pintu kamarku terlebih dahulu," ucap Chintia


"Iya, Ibu akan tunggu kamu disini," jawab Bu Rahma


Tanpa berpikir panjang Chintia langsung berjalan menuju pintu kamar kemudian langsung mengunci pintunya. Setelah mengunci pintu, Chintia langsung kembali ketempatnya lalu meceritakan sesuatu pada Ibunya.

__ADS_1


"Ibu, sebenarnya aku menunggu Mas Daniel untuk membatalkan pesta pertunanganku," ucap Chintia


"Chintia, Ibu tidak ingin ada kekerasan. Ibu mohon beritahu suamimu," jawab Bu Rahma


"Ibu, seperti ucapanku kemarin yang aku ucapkan di hadapan Bu Hartatik. kebenaran akan terungkap dan membatalkan pesta pertunangan nanti," ucap Chintia


"Kebenaran apa Chintia?" tanya Bu Rahma


"Kejahatan Mas Zaka dan adiknya yang dilakukan pada diriku." jawab Chintia


"Ibu setuju, kebenaran harus terungkap," ucap Bu Rahma


"Aku sekarang menunggu Mas Daniel untuk mengungkapkan kebenaran. Semoga Mas Daniel tepat waktu Bu," jawab Chintia


"Amin...Ibu berharap yang terbaik untuk kalian berdua. sekarang sudah nggak nangis lagi kan anak Ibu? ayo kita sarapan dulu," ucap Bu Rahma


"Iya Ibu," jawab Chintia


--------------


@@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga

__ADS_1


__ADS_2