Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
113. MENAGIH JANJI


__ADS_3

Setelah 12 jam dalam perjalanan dalam kereta akhirnya Daniel dan Chintia sudah tiba menuju jakarta dan menuju kontrakan. Daniel dan Chintia menaiki taksi menuju kontrakan. Didalam taksi tiba tiba ponsel Daniel bergetar di saku celananya. Daniel mengambil ponsel di saku celananya melihat pesan dari sahabatnya Galih.


📩 "Nil, sudah pulang? aku ada perlu dengan dirimu," pesan Galih


📩 "Aku dan Chintia masih perjalanan ke kontrakan naik taksi," balas Daniel


📩 "Baiklah," pesan Galih


22 menit kemudian, Daniel dan Chintia sudah sampai di kontrakan. Namun sesampainya dikontrakan Daniel dikejutkan dengan kedatangan Galih. Tanpa berpikir panjang, Daniel langsung mengintrogasi Galih.


"Galih, kamu ada masalah? mengapa kamu ada menungguku di kontrakan?" tanya Daniel


"Aku mau membicarakan sesuatu padamu," jawab Galih


"Aku pikir besok kamu akan menemuiku,ini sudah malam loh? apakah jangan jangam kamu merindukanku lalu ingin memeluku?" goda Daniel


"Hei, aku ngawur kamu. aku masih normal. aku udah punya sendiri pistol gede sama kaya pistol milikmu. pistolku juga ingin sama kayak pistol milikmu yang berhasil menembak tepat ke sasaran gawangnya," ucap Galih


Daniel menyadari saat itu ucapan Galih yang vulgar didengar oleh Chintia. Daniel menatap Chintia nampak berusaha mencerna omongan dari Galih. Daniel yang melihat Chintia berpikir tidak ingin pikiran polos Chintia yang baru mengenal arti cinta menjadi rusak karena ucapan vulgar Galih.Tanpa ragu, Daniel membuyarkan pikiran Chintia.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Daniel


"Oh, aku cuma berusaha mencernanya tapi tidak mengerti," jawab Chintia


"Mencernanya? maksudmu? katakan pada Mas apa yang ada dalam pikiranmu," ucap Daniel


"Anu itu Mas, maksudnya pistol, gawang. emang Mas mau latihan menembak di lapangan bola sama Mas Galih? tapi aku rasa omongan Mas Galih bukan mengarah kesitu deh melainkan mengarah yang lain. itu seperti pengibaratan tapi aku berusaha mencerna arah pengibaratan itu" tanya Chintia

__ADS_1


"Lupakan saja, jangan dipikirkan.omonganya tidak penting. dia itu sesat jangan didengar omonganya, sekarang masuklah buatkan Mas dan Galih kopi" jawab Daniel


"Baiklah, aku aka masuk kedalam dulu," saut Chintia


Chintia membuka pintu kontrakanya lalu berjalan menuju dapur. Daniel dan Galih saat itu masih di teras. Daniel mengajak masuk Galih kedalam ruang tamu yang beralaskan karpet.


Galih dan Daniel duduk berjejer sembari menunggu kopi buatan Chintia. Tak butuh waktu lama, Chintia datang membawakan dua cangkir kopi dan rengginang yang baru saja di goreng. Chintia kemudian masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat. Setelah memastikan Chintia masuk kamar, Daniel memulai obrolanya dengan Galih.


"Cepat katakan, apa yang kamu ingin sampaikan kepadaku," ucap Daniel tegas


"Jangan galak galak gitu dong Nil, baru aja kopi sama rengginangnya sampai. yang santai dong," jawab Galih


"Aku nggak suka ya kamu ngomong vulgar tadi didepan istriku. dia gadis kecilku yang masih polos. jangan racuni pikiranya," saut Daniel


"Ok, aku minta maaf, sekarang aku akan mulai menceritakan maksud kedatanganku ke kontrakanmu. sebenarnya aku mau menagih janjimu saat itu," ucap Galih


"Aku susah menghubunginya. aku ingin minta bantuan istrimu membujuk Hesti agar mau bertemu denganku," jawab Galih


"Lalu, apa yang kamu lakukan saat bertemu dengan Hesti ?" ucap Daniel


"Aku mau menyatakan langsung perasaanku," jawab Galih


"Kelamaan, kamu itu pengusaha kaya raya.mengapa nggak kamu nikahin aja dia langsung?" tanya Daniel


"Aku butuh waktu untuk itu," jawab Galih


Mendengar jawaban Galih, Daniel teringat kejadian siang tadi bertemu dengan Joshua. Daniel saat itu menyarankan Galih segera menikahi Hesti sebelum direbut oleh Joshua.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu cepat cepat menikahinya atau nanti kamu menyesal," ucap Daniel


"Maksudmu?" tanya Galih


"Tadi sebenarnya aku dan Chintia pulang dari hotel bertemu dengan pria yang bernama Joshua. kata Chintia, Joshua adalah mantan pacar Hesti. sepertinya Joshua menyukai Hesti, dia menitipkan salam rindunya ke Hesti lewat istriku," jawab Daniel


Mendengar kata Joshua, Galih merasa geram. Galih ingat betul kejadian saat dimobil bareng Hesti, Joshua menelpon ingin mengajak balikan. Daniel yang melihat Galih menahan emosinya berusaha menenangkanya.


"Lih, kamu yang tenang. percayalah dengan kekuatan cintamu. nyatakan segera cintamu kepada gadis itu.dan segara lamar dan nikahil gadis yang kamu cintai itu. aku dan Chintia akan berusaha membantumu," ucap Daniel


"Apakah kamu yakin Chintia mau membantuku juga?" tanya Galih


"Kamu telah banyak membantuku. sekarang serahkan urusan itu padaku. aku yang akan membujuk istriku," jawab Daniel


"Terima kasih Nil, aku mau balik dulu. sekarang istrimu sedang memasang gawang menunggu menembakan pistolmu. aku tidak mau menganggumu. lanjutkan sono aktivitasmu dengan istrimu," saut Galih


"Woy, bicara vulgar sekali lagi menyangkut istriku. aku urungkan niat membantumu,"ucap Daniel


"Ok ,sorry aku terlalu bersemangat. aku balik dulu. assalamualaikum," jawab Galih


"Waalaikumsalam," saut Daniel


--------------


@@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!

__ADS_1


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


__ADS_2