
Daniel dan Ihsan berjalan menuju kantin yang ada di rumah sakit. Sesampainya di kantin Daniel dan Ihsan duduk berhadapan di satu meja. Ihsan saat itu membuka daftar menu makanan di kantin. Di daftar menu makanan, Ihsan melihat harga semua makanan memiliki harga diatas 15.000. sementara minuman paling murah es teh 5000. Bagi Ihsan harga makanan di kantin rumah sakit sudah mahal. Ihsan bingung mau memesan makanan dan minuman apa karena dirinya hanya punya uang 20.000.
"Makanan dan minuman apa yang harus aku pesan? ternyata makanan disini mahal mahal. mending makan di warung Cik Unah. nasi, sayur lodeh, lauknya dapat tahu tempe lumayan cuma 5000. minumya pun gratis ambil sendiri di galon." batin Ihsan
Ihsan kemudian menatap Daniel yang masih membaca menu makanan.
"Andai aku tidak disini bersamanya,aku mending kabur deh mampir di warung Cik Unah.makan disini boro boro uang 20.000 jadi jatah makan empat kali seperti warung Cik Unah.disini sekali makan uang 20.000 langsung ludes cuma dapat nasi pecel sama es teh," batin Ihsan
Daniel yang membaca menu makanan melihat Ihsan menatapnya diam diam. Daniel tersenyum melihat remaja laki laki didepanya. Daniel pernah merasakan hidup susah, jadi dirinya paham Ihsan memikirkan harga makanan di kantin rumah sakit yang mahal.
"Ihsan cepat pesanlah, kamu memesan apa?" tanya Daniel
"Aku memesan es teh saja," jawab Ihsan
"Hanya es teh? bukanya kamu lapar?" tanya Daniel
"Gak apa apa, saya es teh saja," jawab Ihsan
Daniel saat itu memanggil pelayan kantin langsung memesan makanan.
"Mbak, nasi rawon spesial dua, sama es tehnya dua," ucap Daniel
"Siap Pak," jawab Pelayan
Ihsan saat itu terkejut mendengar Daniel memesan dua porsi nasi rawon spesial. Di daftar menu nasi rawon spesial memiliki harga 28.000 per porsi. Ihsan saat itu menduga Daniel memiliki porsi makan yang banyak.
"Dia memesan dua porsi rawon spesial, apa porsi makanya banyak ya?" batin Ihsan
Tak lama kemudian,pelayan membawakan pesanan Daniel.
__ADS_1
"Ini Pak, pesananya," ucap Pelayan
"Iya terima kasih," jawab Daniel
Dua porsi rawon spesial dan dua es teh sudah ada di meja. Daniel saat itu menyerahkan satu porsi rawon kepada Ihsan .
"Ini untukmu, makanlah," ucap Daniel
Degg
Ihsan terkejut saar Daniel menyerahkan satu porsi rawon spesial kepadanya. Ihsan tidak berpikir Daniel akan memesankan makanan untuknya. Padahal Daniel tidak menanyakan dirinya terkait makanan apa yang dipesan.
"Pak, kok saya bapak pesenin, saya kan tidak..." ucap Ihsan terpotong
"Makan saja, anggap saja itu rejeki kamu. kalau mau nambah bilang saja gak usah mikir harga," jawab Daniel
"Terima kasih Pak," ucap Ihsan
"Umur saya 20 tahun," jawab Ihsan
"Hmm...makanlah dulu nanti kita bicara lagi," saut Daniel
Daniel dan Ihsan memakan rawon spesial di kantin rumah sakit. Rasanya lezat bukan main. Lidah Daniel dan Ihsan dimanjakan dengan banyaknya potongan daging yang empuk dan kuah hitam rawon yang sedap. Selain itu terdapat juga telur, taburan bawang goreng dan sambel yang melengkapi kenikmatan rasa rawon spesial itu.
10 ment kemudian, setelah Ihsan dan Daniel selesai makan. Daniel mengajak Ihsan berdialog empat mata.
"Kalau boleh tahu apa kesibukanmu?" tanya Daniel
"Kesibukan saya bekerja," jawab Ihsan
"Apa pekerjaanmu?" tanya Daniel
__ADS_1
"Saya pagi dan siang hari jualan ikan hias keliling, sorenya saya mengajar TPQ dan malam harinya saya menjadi petugas pom bensin," jawab Ihsan
"Berarti benar dia anak Bu Halimah," batin Daniel
Ihsan saat itu merasa sudah waktunya berjualan ikan hias keliling. Tanpa berpikir panjag Ihsan izin undur diri kepada Daniel.
"Pak, maaf saya mau pamit karena sudah waktunya berjualan ikan," ucap Ihsan
"Baiklah, kamu punya ponsel?" tanya Daniel
"Iya Pak, saya punya," jawab Ihsan
Ihsan menunjukan sekilas ponsel nokia jadulnya kepada Daniel. Daniel saat itu mencatat nomer ponsel Ihsan di ponselnya kemudian Ihsan pergi meninggalkan kantin rumah sakit. Setelah kepergian Ihsan, Daniel berpikiran ingin menjadikan kehidupan Ihsan lebih layak seperti remaja pada umumnya.
"Kasihan anak itu, aku akan memikirkan pekerjaan apa yang cocok untuknya dan layak," batin Daniel
Namun disela sela pikiranya, Daniel teringat tujuanya di rumah sakit ingin bertemu suami Bu Halimah.
"Oh iya. aku lupa hari ini ingin jenguk suami Bu Halimah. aku harus memastikanya siapa sebenarnya suami Bu Halimah," ucap Daniel lirih
Daniel saat itu membayar pesananya di kasir lalu berjalan cepat menunu ruangan suami Bu Halimah. Namun baru saja beberapa langkah berjalan ponsel Daniel berbunyi. Daniel mengangkat sejenek telepon dari asistenya ternyata dirinya diingatkan kalau 30 menit lagi ada meeting. Terpaksa mau tidak mau rencananya ingin bertemu dengan suami Bu Halimah harus ditunda.
"Ah sial..." decik Daniel
--------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga
__ADS_1