Menikah Dengan Preman

Menikah Dengan Preman
196. TIDAK PEKA


__ADS_3

Setelah selesai dengan pekerjaanya Galih dan Daniel kembali ke kamarnya masing masing. Seperti biasanya Galih masuk kedalam kamarnya lalu merebahkan tubuhnya. Namun saat itu tidak ada Hesti di kamar hingga membuatnya bertanya tanya.


"Dimana Hesti? tumben malam malam belum tidur," ucap Galih


Baru saja memikirkan Hesti, tiba tiba Hesti masuk kedalam kamar menghampiri Galih.


"Loh Mas, kok belum tidur?" tanya Hesti


"Lha kamu kemana aja tadi? udah malam loh, tumben belum tidur," jawab Galih


"Maaf Mas, tadi aku di ruang tamu lagi sibuk ngerjain makalah buat besok," ucap Hesti


"Hmm...kamu gak kangen sama Mas, udah satu minggu lebih Mas gak pulang," jawab Galih


"Kangen lah Mas, mengapa Mas tanya gitu?" tanya Hesti


"Kamu gak ingin gitu main sama Mas," jawab Galih


Hesti saat itu paham dengan arah pembicaraan Galih yang mulai vulgar.


"Ih...Mas mulai deh sukanya ngarah ke hal hal yang berbau vulgar," ucap Hesti


"Lha, kamu bini aku. wajar dong aku minta main gituan," jawab Galih


"Mas, aku bukanya gak mau. tapi beneran aku capek sekali habis ngerjain makalah tadi. lagian Mas gak capek habis perjalanan jauh," ucap Hesti


"Justru aku ingin menghilangkan capeku dengan kangen kangenan Hes, kamu gak peka banget sama aku," batin Galih


Tanpa menyauri ucapan Hesti, Galih saat itu langsung merebahkan tubuhnya. Sementara Hesti dirinya masih belum menyadari kesalahanya. Tanpa ragu, Hesti merebahkan tubuhnya disamping Galih. Dan tak butuh waktu lama Hesti akhirnya ikut tertidur.


Setelah Hesti tertidur, Galih malah yang balik tidak bisa tidur. Galih menatap wajah lelah istrinya yang habis bergadang mengerjakan tugas. Galih kemudian menatap langit langit atab kamarnya dan bergumam.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu begini terus Hes, kamu sibuk dengan duniamu dan mengabaikan keinginan suamimu yang minta dilayani. apakah hubungan kita akan seperti ini terus? bahkan sejak setahun kita menikah aku bisa menghitung dengan jari berapa kali kamu melayaniku. aku sibuk bekerja, kamu sibuk kuliah. sungguh, entah kapan kita punya malaikat kecil jika kita seperti ini terus," batin Galih


-----------------


Esok hari seperti biasa seluruh keluarga menyantap makan bersama. Para istri menyiapkan makan untuk suaminya dan nenek mertuanya. Namun kejadian langka saat itu ada pada Hesti dan Galih. Entah mengapa tiba tiba Galih menolak disiapkan makanan oleh istrinya.


"Aku bisa sendiri, sebaiknya kamu langsung makan saja. kamu juga harus segera berangkat kuliah dan presentsi makalahmu," ucap Galih


"Gak apa apa Mas, aku siapin. kamu mau lauk apa?" tanya Hesti


"Tidak usah repot repot, aku bisa sendiri," jawab Galih


Hesti dan semua orang yang ada dirumah tentu saja kaget dengan ucapan Galih. Nenek Irah saat itu curiga Galih dan Hesti habis bertengkar. Namun Nenek Irah tak mau menperkeruh keadaan. Dalam pikiran Nenek Irah saat itu mencoba menyairkan suasana dengan menghibur cicitnya yang digendong Bu Halimah.


"Erlan cicitku, mana senyumnya," ucap Nenek Irah


Erlan saat itu tertawa melihat nenek buyutnya menghiburnya. Tentunya tak mau kalah dengan Nenek Irah, Daniel mengambil alih Erlan kemudian menganyunkan kaki Erlan menendang bahu Galih.


Galih yang awalnya berwajah datar nampak sumrigah jika dihadapkan dengan Erlan. Galih saat itu berteriak pura pura kesakitan hingga membuat Erlan tertawa.


"Aduh...aduh...sakit Erlan," ucap Galih


Erlan tertawa melihat Galih kesakitan. Semua yang ada di meja maian sontak ikut tertawa. Namun beberapa saat setelah menghibur Erlan kondisi kembali hening. Setelah sarapan, Daniel dan Galih pamit berangkat. Sementara istri istrinya sudah menyiapkan bekal makan siang.


"Mas, ini bekal makan siangnya," ucap Chintia


"Makasih ya, Mas berangkat dulu," jawab Daniel


Daniel mencium kening Chintia lalu bersiap berangkat menunggu Galih.


Hesti saat itu juga melakukan hal yang sama seperti Chintia. Namun reaksi Galih nampak datar seperti waktu tidak mau disiapkan makanan.

__ADS_1


"Mas, ini aku sudah siapin bekal makan siang," ucap Hesti


"Tidak perlu, bekal itu buat kamu aja," jawab Galih


"Mas, aku sudah ada bekal sendiri. ini untuk Mas," saut Hesti


"Maaf aku sudah terlambat, itu bekal untukmu saja. kamu pasti lelah nanti habis presentasi makalah," jawab Galih


Galih kemudian menatap Daniel


"Nil, aku tunggu di mobil," ucap Galih


Galih tanpa berpamitan saat itu langsung pergi menuju mobil. Sementara Daniel masih tidak percaya dengan sikap Galih hari ini. Daniel saat itu menatap Hesti yang sedang sedih kemudian mengatakan sesuatu.


"Kamu tenang saja, Kak Galih biar aku yang ngurus," ucap Daniel


Hesti hanya mengangguk


"Putra, beri dia pengertian. mungkin Galih akan lebih terbuka kepadamu karena sesama laki laki," ucap Nenek Irah


"Iya Nek, aku akan mencoba bicara padanya. sekarang kami pamit assalamualaikum," jawab Daniel


"Waalaikumsalam," saut semuanya


---------------


@@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga

__ADS_1


__ADS_2