Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Dik, Aku Menyerah


__ADS_3

Di dalam ruangannya Dokter Danu menatap iba pada Dokter Anita," Sudah benar-benar kau pertimbangkan untuk mengadopsi bayi itu."


"Sudah, Nu. Aku yakin benar dengan keputusanku ini, aku telah menyia-nyiakan orang yang benar-benar mencintaiku hanya karena nafsu semata, andai waktu bisa di putar, sayangnya tidak bukan. Aku sudah tidak bisa mengejar Diki lagi." katanya sambil tersenyum masam.


"Jelas, kau tak bisa mengejarnya lagi, Ta. Saingan mu sangat kuat dan lebih segala-galanya, dia masih sangat muda 18 tahun umurnya sedangkan kau, aku saja teman mu masih umur 25 tahun." kata Dokter Danu terkekeh.


"Lo jangan samakan diri lo dengan gue, lo sekolah lompat melulu gimana enggak masih muda jadi dokter, gue gak bisa nyamain otak lo dengan otak gue, si@l lo ngatain gue melulu, iya gue tau, gue kalah banyak dari dia maka gue harus tau diri, Nu." Anita pada Dokter Danu.


"Kamu jangan tahu diri saja tapi tobat, mending nikah deh jika gak tahan begituan yang tuaan dikit juga gak papa yang penting yang penting sayang sama lo."


"Apaan sih Nu? Apa aku gak bisa mutasi lagi ya Nu?" tanyanya pada Dokter Danu


"Ta, kamu baru 6 jam di sini minta mutasi lagi, lo ngimpi apa sih Ta? Emang rumah sakit milik nenek moyang loh apa?" Kata Dokter Danu.


"Kan milik Bapak kamu Nu," kata Anita terkekeh, hanya Danulah yang bisa membuatnya tertawa di kala hatinya sakit.


"Emang yang di rumah sakit umum kamu bisa pindah begitu saja, tidak'kan di sana ada dokter Diki jugakan Ta, sudah jangan lari-larian melulu, kemarin lari-lari mengejar dan sekarang lari-lari menghindar apa kau tak capek, berusahalah untuk menghadapi kenyataan Ta, tataplah Diki sebagai pribadi baru, orang yang baru kau kenal dilingkungan kerja, kau harus hadapi ini."kata Dokter Danu.


"Ya ... kau benar, Nu. Ya sudah aku mau visit dulu ke pasien ku, jangan lupa urus adopsi anak itu ke aku hanya aku yang bisa menjaganya," kata Dokter Anita sambil meninggalkan ruangan Dokter Danu.


"Dokter Danu menarik nafas dalam-dalam, "Harusnya aku jadi spikiater bukan bukan dokter spesialis kandungan," gumamnya dalam hati.


...----------------...


Di sebuah resort di mana Dokter Diki dan sang istri berada. Setelah menghabiskan waktu istirahat bersama istri, berbagi peluh dan kenikmatan. Diki pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai memakai bajunya yang tadi, begitu juga Nara ia sudah terlebih dahulu mandi dan mengenakan pakaiannya, rambut hitam sebahu yang sedikit ikal dan masih basah itu di biarkan tergerai, mereka pun


Checkout dari resort tersebut. Mereka berdua berjalan menuju mobilnya dan masuk kedalamnya lalu meninggalkan resort itu.

__ADS_1


"Abang ada jadwal operasi jadi pulang sekitar jam tujuh malam. jadi lebih baik pulang ya, tunggu di rumah saja," bujuk Diki pada istrinya. Nara hanya mengangguk saja.


"Kenapa gak jawab, apa masih marah sama Abang," tanya Diki pada Nara sambil focus mengemudikan mobilnya menuju rumahnya.


"Nara capek bang, ngantuk juga," katanya sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil tak lama kemudian tertidur.


Diki terkekeh ia terbayang oleh kembali perkenalannya dengan Nara pada waktu itu. Gadis yang ceroboh dan lucu.


mobil pun sampai di area parkir rumahnya. Diki menepuk lembut pipi Nara,"Ra, bangun kita sudah sampai."


Nara mengerjapkan mata lalu merengangkan otot punggungnya, "Sudah sampai." tanya Nara sambil menatap luar jendela kamar.


"Hem, Beneran sudah bangun ni?" tanya Diki kepada pada Nara yang terlihat masih malas untuk turun.


"Sayang, sudah bangun belum sih?" tanya Diki lagi pada Nara


'Mau Abang gendong?" tanya Diki lagi


"Ngak usah, Bang." jawabnya sudah mulai sadar.


Diki pun keluar dari mobil dan berjalan menuju kerumahnya di ikuti oleh Nara lalu membuka pintu rumah kemudian mengucapkan salam dan masuk kedalam, "Abang langsung ke rumah sakit ya ... , kunci pintunya dari dalam ya." kata Diki sambil mencium kening Nara dan mengucapkan salam. Nara mencium punggung tangan suaminya dan mengikuti hingga depan pintu lalu menguncinya.


Diki berjalan cepat, menuju mobilnya lalu mengendarI dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Diki langsung maupun keruang operasi, selama 2 jam ia berada di ruang operasi akhirnya selesai juga Diki pun keluar lalu melepas baju operasi kemudian menuju ruangannya. Di sana ia pun sholat Ashar. Pasien ke tiga harus mengalami penundaan operasi karena tekanan darah naik. Akhirnya Diki pun memutuskan untuk pulang. Di dalam perjalanan pulang dia di hadang oleh Anita."Dik, aku minta tolong pada mu untuk membantu mengdianoksa seorang pasien."


"Kenapa kau membutuhkanku, apa ilmu sudah hilang." jawab Diki dengan ucapan sarkas

__ADS_1


"Tidak, Pasien itu seorang bayi laki-laki,"


"Baik lah di mana dia sekarang." tanya Diki


"Di ruang ICU," kata Dokter Anita.


"Sudah melewati oksimetri, elektrokardiografi (EKG), roentgen (X-Ray) dada, ekokardiografi atau USG jantung dan kateterisasi atau angiografi.


"Sudah tapi aku mengalami keraguan mengenai dianoksaku."


"Ok! Bayi itu dalam pengawasan siapa?" tanya Diki lagi pada Dokter Anita.


"Atas pengawasan Dokter Danu." jawab Dokter Anita.


Panggil Dokter Danu juga dalam ruanganmu aku tak ingin hanya berdua di ruanganmu."kata Dokter Diki


Anita melakukan panggilan terhadap Dokter Danu, dan Dokter Danu pun bersedia, mereka bertiga akhirnya pergi ke ruangan Dokter Anita, mereka pun membahas tindakan apa yang dilakukan setelah melihat semua pemeriksaan terhadap bayi tersebut. Adzan Magrib pun berkumandang Diki dan Danu pun keluar dari ruangan Anita, belum sampai melewati pintu Anita memanggilnya lagi. "Dik, Maaf aku tak akan mengejarmu lagi, selamat atas pernikahan kalian aku ikut bahagia, tolong juga sampaikan ucapan maaf pada Nara." katanya pada Diki.


"Katakan sendiri padanya, besok istriku akan kemari lagi untuk menghibur anak-anak, jika aku yang bilang justru akan menjadi kesalahpahaman terhadap istriku." kata Diki meninggalkan Anita berjalan menuju Masjid untuk menunaikan ibadah sholat magrib.


Setelah selesai Diki berjalan masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya.


Mobil berjalan membelah jalan raya melewati menyusuri jalanan yang mulai sepi, hingga berbelok ke arah rumahnya memasuki gerbang lalu ke garasi mobilnya.


ia pun keluar mobilnya dan masuk dalam rumahnya melalui pintu penghubung.


Berjalan ke dapur, ia tersenyum lalu mendekati sang istri kemudian memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Aku sedang membuat ayam krispi balut keju." kata sambil melanjutkan masaknya setelah itu ia pun menata di meja makan.


__ADS_2